Apakah Kau Peduli?

Satu pagi aku berjalan bersama Mamak. Matahari sudah agak terik. Penjual sayur langganan sudah ramai pembeli. Yaa, hari ini aku dan Mamak menjalani rutinitas kami. Apa itu?

Rasanya senang kalau bisa berjalan-jalan seperti ini. Ada saja yang membuat hati ini menjadi riang. Entah itu matahari yang membuat hangat wajah, kumpulan awan yang membentuk pola-pola sembarang, bahkan hanya dengan melihat bunga-bunga. Namun yang paling seru adalah menyapa dan tersenyum pada orang-orang yang berpapasan di jalan. Begitu serunya, kadang aku tidak mengenal pada siapa aku tersenyum 🙂 . Memang berbahaya, tapi… eh berbahaya apanya ya? Hmm.

Sampai di penjual sayur, seperti biasalah, Mamak yang beraksi. Pilih ini-itu, ke sana dan ke sini. Aku sih lebih suka berdiri saja. Bukan, aku bukan menghitung berapa banyak pembeli saat itu. Yang kusukai adalah melihat-lihat ekspresi orang-orang yang membeli sayur hari itu. Karena ibu-ibu semua, jadi aku lebih sering ikut tersenyum sendiri. Karena banyak yang beradu mulut dengan penjual sayur. Loh? Maksudnya beradu candaan 🙂

Beberapa saat aku berdiri saja, ternyata Mamak sudah selesai. Kentang, wortel, pisang, jagung, dan ikan. Itulah yang kami beli hari ini. Cuma itu, Mak? Bukannya….. Nah! Sebelum bicaraku selesai, sesuatu terjadi.

Di seberang jalan ada orang yang singgah di warung kopi. Tapi dia tidak beli kopi, hanya minuman ringan berkemasan plastik. Apa hubungannya? Tentu ada! Aku melihatnya membuang sampah ke tengah jalan. Ah sebenarnya tidak persis di tengah jalan. Karena dia berdiri agak ke tengah, dan dari tangannya langsung dilempar lurus ke bawah, jadilah gelas itu… plok!
Ke jalanan.
Iya, ke jalanan.

Entah ke mana akalnya. Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa rakyat negeri ini yang sangat ingin negerinya aman, tidak lagi dihantui banjir, membuang sampah segitunya? Bukankah sudah banyak demo menuntut pemimpin negeri ini bertindak mengatasi banjir? Bukankah ada pemimpin yang diklaim payah dalam menangani banjir? Bolehkah pendemo dituntut balik karena kurang kerja sama menjaga kebersihan?

Sudah melakukannya, dia pergi. Syut… begitu saja.

Memangnya dia tidak punya cita-cita? Pernahkah dia bermimpi memiliki negeri yang hijau, rapi, cantik? Rasanya aku… ah entahlah. Ada suara yang menegurku.

Apakah kau peduli?
Kau punya mimpi, kau miliki harapan. Kau punya ukuran, dan kau tahu caranya melangkah. Kapan kau peduli?
Itu suara Nuraini. Orang menyebutnya kata hati, tapi aku suka memanggilnya begitu.
Ya ya ya! Aku tahu, harusnya aku menegurnya, atau membuang sampahnya saat dia masih di situ agar ada ‘rasa’ yang membuatnya berpikir.
Maaf Nuraini, aku peduli saat ini juga. Tapi dia ada di seberang jalan. Dia juga yang kuanggap jahat, tidak seperti orang asing yang selama ini kubagikan senyuman. Dia harusnya yang sadar. Dialah yang tidak peduli!

Aku tidak tahu bagaimana tanggapan Nuraini kemudian. Kami langsung berjalan pulang setelah membayar. Di jalan pulang aku memikirkan Nuraini. Sampai menulis ini pun masih memikirkan kata-katanya. Aku hanya bercerita, tidak mencegah, tapi setidaknya aku sudah menyalahkan orang itu dalam hati.

Sebenarnya siapa yang tidak peduli?

♦♦♦

Di Indonesia, bukan endonesah, kami semua bisa membuang sampah pada tempatnya.
Kalau kamu orang mana?

tumblr_nx0lteqzxP1uxs7jgo1_1280

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s