Lebih Cerdas dari Telepon Pintar

Suatu hari saya terkejut menyaksikan siaran berita. Dengan judul-judul yang besar, diberitakan banyak peristiwa kemanusiaan. Mulai dari kemiskinan, kekerasan, hingga pencemaran lingkungan. Saya terdiam menyadari begitu dekatnya peristiwa kemanusiaan dengan kehidupan sehari-hari. Begitu dekatnya, seringkali berita-berita itu seperti berlalu begitu saja. Apakah persoalan ini menjadi hambar bagi kita?

Peristiwa kemanusiaan adalah peristiwa berbahaya. Jika dibiarkan bisa menjadi bola salju yang mengancam keberadaan manusia itu sendiri. Pencemaran lingkungan adalah salah satu contohnya. Lingkungan yang merupakan tempat bermukim umat manusia, bagaimana bisa dicemari? Tragis, pelakunya adalah mereka yang mengaku sebagai pemelihara dan pemiliknya: manusia.

Ironi yaitu ketika manusia tidak lagi peduli pada lingkungan tempatnya berada. Saat di mana manusia hanya peduli masalah perut. Begitu haus dan lapar terbayar, manusia tidak peduli lagi dengan sampah, apakah dibuang di tempat yang pantas atau tidak. Saat makan dan minum selesai, manusia abai pada sampah, apakah dibuang dengan baik atau tidak. Sampah adalah sampah, bukan barang yang berharga.

Sampah yang dibuang sembarangan memang tidak terlihat langsung dampak buruknya. Misalnya kemasan minuman yang dibuang di pinggir jalan. Seminggu atau sebulan kemudian baru muncul akibatnya. Bau tidak sedap dirasakan oleh pengguna jalan. Sayangnya, kadang-kadang orang yang terkena dampaknya bukan mereka yang membuang sampah di situ tempo hari. Lain yang membuang, lain pula yang merasakan.

Lebih parah dari persoalan membuang sampah di jalan, ada peristiwa banjir yang seringkali diakibatkan menumpuknya sampah di selokan. Di dalam artikel yang diterbitkan setahun lalu oleh Tempo (15/2), sampah masih menjadi penyebab nomor satu banjir di ibukota. Hal ini menyedihkan karena akar persoalannya adalah minimnya kesadaran masyarakat. Hasilnya adalah demo menuntut pemerintah menyelesaikan masalah banjir dengan segera.

“… kadang-kadang orang yang terkena dampaknya bukan mereka yang membuang sampah di situ tempo hari.”

Terdapat contoh lain jika kita mengingat kembali perayaan malam pergantian tahun. Di mana pusat konsentrasi massa berada, di situlah sampah menumpuk. Pengunjung tempat hiburan tidak lagi peduli dengan sampah sisa makanan. Memang hal lumrah bahwa di mana makanan di situ pasti ada sampah. Namun sikap dalam memperlakukan sampah, itulah perbedaan antara masyarakat yang peduli lingkungan dengan yang lalai.

Masalah sampah adalah persoalan kemanusiaan yang mendesak untuk diselesaikan. Sebab orang yang membuang sampah sembarangan tidak sadar sedang menumpuk bahaya bagi orang lain. Mereka tidak sadar bahwa merekalah penjahatnya. Contohnya peristiwa banjir akibat meluapnya sungai atau selokan. Orang-orang yang bermukim di sana menderita karena terendam rumahnya, terserang penyakit, dan lumpuh aktivitasnya.

Di antara berita pencemaran lingkungan, tentu di antara kita ada yang pernah membaca atau mendengar kabar tentang bersihnya Negara Sakura. Meskipun tempat-tempat sampah sedikit jumlahnya, jalanan di Jepang tetap bersih. Negara tersebut bahkan dinobatkan menjadi negara maju yang paling bersih. Kesadaran masyarakat menjaga kebersihan menjadi kunci utama bagi negara mereka.

Saat berada di angkutan umum dan tidak menemukan tempat sampah, warga Jepang memiliki kebiasaan menyimpan sampah pembungkus makanan di saku atau memasukkannya ke dalam tas. Ini adalah perbuatan sukarela demi menjaga kebersihan lingkungan.

Melirik gaya hidup negara lain bukan berarti sedang mengejek perilaku orang-orang di negara sendiri. Tetapi dengan melakukan ‘studi banding’, terdapat pelajaran tentang sikap yang baik dalam menjaga lingkungan. Negara lain telah memetik hasil perjuangannya membenahi gaya hidup dan perilaku masyarakatnya sehingga sampah tidak lagi mampu menghadirkan pasangan sejatinya: banjir.

Mental dan karakter orang-orang di negeri ini perlu dibenahi, apalagi terkait masalah kebersihan lingkungan. Masalah sampah adalah masalah yang krusial. Tidak pantas kita berseru tentang menghargai hak sesama manusia jika belum bisa menghargai pentingnya membuang sampah di tempat yang benar. Karena masalah sampah bisa berujung pada masalah eksistensi umat manusia.

Satu langkah pasti lebih berarti daripada sepuluh rencana. Meski hanya dengan mencontohkan perbuatan kecil seperti menyimpan sampah makanan sampai menemukan tempat sampah, itu bisa membentuk kebiasaan yang baik bagi anak kecil di sekitar kita. Mengajak orang terdekat untuk tidak lagi melempar sampah ke luar jendela mobil saat dalam perjalanan atau menyelipkannya di kursi penumpang.

Berbicara tentang sampah, tidaklah pantas jika nanti generasi di masa depan harus ‘bertanya’ pada aplikasi tentang bagaimana cara membuang sampah dengan benar. Jangan sampai hanya teknologi yang berkembang, tidak diiringi dengan meningkatnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan. Juga jangan sampai manusia kalah pintar dengan smartphone soal kecerdasan menjaga kebersihan.

Kunci keberhasilan langkah menangani masalah sampah adalah sukarela. Orang-orang yang selama ini membuang sampah sembarangan harus merasa sukarela untuk menghargai hak hidup orang lain untuk bebas dari banjir. Lalu mereka yang selama ini sering melakukan demo menuntut pemerintah bertindak cepat haruslah sadar sudah seberapa banyak kontribusinya membantu pemerintah bekerja.

Mungkin sudah tiba saatnya kita merevisi slogan kebersihan yang berbunyi ‘buanglah sampah pada tempatnya’. Hal ini karena kata ganti –nya bisa diterjemahkan menjadi beragam arti. Bagi mereka yang membuang sampah di selokan misalnya, mengartikan bahwa saluran air tersebut cocok dijadikan tempat membuang sampah. Begitu pula mereka yang membuang sampah di sungai, di dalam angkutan, dan sebagainya.

“Jangan sampai hanya teknologi yang berkembang, tidak diiringi dengan meningkatnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan.”

Revisi slogan kebersihan walaupun bukan hal wajib tapi tetap penting bagi kita. Dengan diperbaruinya slogan kebersihan menjadi ‘buanglah sampah pada tempat yang tepat’, masyarakat luas maupun para pelaku yang selama ini tidak tertangkap seharusnya berpikir, di manakah tempat yang tepat?

 

 

sampah

Betul?

 

sampah2

Sangat beda ya!

 

 

 

 

banjir

Kegiatan belajar-mengajar antara ibu dan anak di pinggir sungai 😦

 


#LombaEsaiKemanusiaan 10-09-16
Qureta.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s