Besok Pesta

Twitter ramai dengan hashtag. Ada yang sebut nama calonnya, ada juga yang tidak. Tapi ini yang keren.

#BesokGueNyoblos

Lah, apalah daya, sepertinya saya harus balas dengan tulisan BesokGueKuliah. Tapi ada yang menarik dengan masalah ini. Bukan masalah tanda pagar, tapi masalah lain.


 

Dalam pos sebelumnya saya cerita bahwa ujian tengah semester sudah selesai. Saya libur selama lima hari termasuk Sabtu dan Minggu. Ini hari terakhir dan besok sudah mulai kuliah. Jam satu siang nanti ada Pendidikan Pancasila di CCR. Besok tanggal sembilan belas, tepat diadakannya pesta demokrasi putaran kedua untuk warga DKI Jakarta.

Unik memang pesta ini. Bisa diadakan putaran keduanya. Bukan untuk mereka yang tidak sempat mengikuti sesi pertama, melainkan untuk menggenapkan suara memilih pemimpin. Pesta ini bagi saya tidak berarti apa-apa karena provinsi tersebut tidak ada urusannya dengan saya selain saya pernah menetap selama kurang lebih empat tahun dan terdaftar sebagai siswanya selama enam tahun. Kartu penduduk yang saya punya bukan tercatat sebagai warganya tapi akhir-akhir ini saya sering merasa gatal di hati, tidak sadar berbicara pada diri sendiri, siapa yang nanti naik, ya? Aduh, siapa ya?

Sebagai warna Depok yang pernah menjadi warga Jakarta, saya ikut senang dan antusias mengikuti berita pilkada. Lagi pula siapa yang tidak tertarik setelah hebatnya pemberitaan ini-itu tentang pilkada yang dijadikan menu utama media? Belum bumbu-bumbu yang dilahap mentah oleh orang-orang, diangin-anginkan, lalu hinggap di telinga-telinga. Jadilah berita pilkada itu sedap dibincangkan. Fasih menjabarkan satu informasi saja sudah buat bangga hati, hehe. Tapi tulisan saya bukan untuk membahas itu melainkan mengomentari kebijakan yang dikeluarkan oleh tempat saya belajar.

Memang saya bukan orang yang dikenai kebijakan itu. Sebab saya tidak termasuk pemilih dalam pilkada besok. Sebagai informasi, kebijakan yang saya maksud adalah kewajiban untuk segera mengikuti kuliah setelah jam satu siang karena waktu yang diberikan untuk memilih hanya sampai pukul 13.00 WIB. Kenapa tidak libur? Itu karena memang tidak libur untuk wilayah Jawa Barat. DKI Jakarta saja yang libur dalam rangka pilkada. Belum selesai sampai di situ, ada juga kewajiban melapor pada koordinator mata kuliah dengan membawa fotokopi KTP, surat pemberitahuan pemungutan suara, juga menunjukkan bukti berupa kelingking yang membiru, hehe. Beginilah prosesnya orang yang mau berpesta.

Salah satu teman kelas bilang ini ribet. Dia bukan orang Jakarta yang besok akan berpesta. Mungkin dia juga merasa ini semua terlalu panjang dilalui oleh orang yang mau memberi hak suara dalam pilkada. Toh memilih adalah pilihan. Bagaimana jika ada yang telanjur malas? Terlalu ogah melalui prosedur pelaksanaan? Waduh. Bukannya pesimis dan berpikir terlalu buruk, tapi libur toh libur, kan? Saya bukan pemuja hari libur, sekali lagi, kan saya ini anak Depok yang cuma bertetangga lima menit jaraknya dari Jakarta.

Harapan saya pemimpin Jakarta segera diumumkan, hahaha. Hati ini terlalu bosan menunggu kabar. Mata pun lelah melihat televisi yang itu-itu saja pemberitaan pilkadanya, membuat bingung saya yang menonton. Telinga? Oh sama lelahnya. Selamat berpesta teman-teman Jakarta. Bagi yang akan kembali ke IPB dan masih PPKU jangan lupa jaga jari kelingkingnya, tidak terlalu lama jika mencuci tangan, atau jangan dibiarkan terlalu lama terkena angin. Oh, jika perlu dibungkus supaya tintanya tetap tajam warnanya ketika harus melapor nanti 😀 .

Besok itu pesta, pesta demokrasi, untuk warga de-ka-i. #PilihanmuMasaDepanmu

Cie, pesta. Anak Depok yang besok harus kuliah ke Bogor ya jangan ikutan. Cuma tetangga toh? Atau mau bolos? Hm. #PilihanmuMasaDepanmu

Daskom Mengakhiri

Ini bulan April. Sejak tanggal enam hari Kamis lalu makhluk-makhluk PPKU melaksanakan ujian tengah semester. Ujian ini biasanya disebut ujian sesi UTS. Bisa mencakup lima bab materi, enam bab, atau tujuh bab. Berbeda sendiri itu ya Landasan Matematika. Sesi UTS-nya hanya meliputi tiga bab yang saya akui memang wajarlah tiga.

 

102_0030

UTS kedua. UTS bulan April. UTS bersamamu, T03.

 

Hari ini terakhir ujian bagi departemen AGH angkatan baru. Di saat orang di departemen lain masih harus memikirkan strategi untuk menaklukkan slide memahami materi, kami–PPKU departemen AGH–hanya harus memikirkan: strategi menghemat uang jajan. Itu karena libur lima hari sudah dimulai sejak kami selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian Dasar-Dasar Komunikasi.

Tadi siang tepatnya jam dua belas saya merasa lega dengan ujian. Selesai sudah. Daskom, begitu singkatan Dasar-Dasar Komunikasi, menjadi penutup rangkaian ujian. Seharian sebelumnya saya memahami apa itu persepsi. Ehm, sebenarnya tidak dramatis, hanya saja karena banyak interupsi, jadinya itu saya sebut seharian. Jadi… persepsi (bukan presepsi) adalah proses pemberian makna.

Persepsi adalah cara memberi makna. Wenburg & Wilmont

Hal lain seperti simbol verbal dan non verbal juga dipelajari dalam Daskom (tadinya saya tidak setuju dengan sebutan itu, tapi lama-lama seru juga menyebutnya). Selama sesi UTS ini mata kuliah yang dianggap oleh orang sekitar saya tidak relevan dengan AGH sering membuat saya terkejut. Bagaimana bisa?

Begini ceritanya. Saya pernah berbicara pada teman saya dan itu menceritakan sesuatu yang penting. Saya, katanya, bicara dengan lambaaat sekali. Bukan seperti lambat yang normal, tapi karena telat mikir, begitu katanya. Dan apa yang saya dapat dari belajar Daskom? Ternyata ketika berbincang dan saya terlambat merespon atau sulit menemukan kata yang tepat adalah karena selama pembicaraan saya sibuk mengeksplorasi pikiran saya sendiri. Saya tidak fokus menangkap pesan pengirim tapi malah sibuk dengan diri sendiri. Oke, saya mengakui itu. Saya bahkan berpikir bahwa saya ini adalah tipe orang yang dalam komunikasinya sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Melalui Daskom juga saya seperti dinasehati bahwa sebaiknya jika berada dalam keadaan terdesak atau terburu-buru lalu ada orang yang mengajak berkomunikasi, sebaiknya ungkapkan bahwa kita–atau lebih tepatnya saya–tidak punya waktu untuk berbincang dan mendengarkan. Itu lebih baik daripada berpura-pura mendengarkan. Hmm, saya sering begitu, pura-pura mengerti dengan menganggukkan kepala. Aduh…

Saya ini tipe orang yang dalam berkomunikasi sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Pada akhirnya, saya mendapat manfaat belajar Daskom. Hei, ini bukan testimoni yang harus dikumpulkan dalam kelas responsi untuk mendapatkan nilai. Ini sungguh untuk membuktikan bahwa Daskom itu penting, bahkan bisa jadi untuk semua departemen di sini 😀 . Bagaimana bisa seseorang berkomunikasi dengan baik jika tidak mengerti apa saja yang bisa menjadi gangguan dan hambatan? Ini sekaligus sebagai pembelaan pada mereka yang berkata bahwa departemen Agronomi dan Hortikultura belajar Daskom untuk mengajak bicara para tumbuhan. Lawakan macam apa itu? Hahaha.

Saya ingat di awal belajar Daskom di kelas kuliah, dikatakan bahwa banyak sekali riset yang telah dilakukan mahasiswa maupun kalangan akademisi lainnya. Tapi kuantitas bukanlah tujuan utama. Manfaat apa yang dapat dirasakan manusia dari hasil penelitian, itulah yang menjadi tujuan. Bagaimana menerjemahkan skripsi berbahasa ilmiah pada orang awam? Komunikator, merekalah tonggaknya. Mereka orang-orang yang mampu menjadi jembatan, menerjemahkan skripsi dan penelitian menjadi sebuah pemahaman yang sifatnya umum, dapat dipahami oleh siapa saja.

Masih berpikir ilmu itu ada yang sia-sia? Ilmu hitam kali.

Cemara

Waktu itu malam hari pas road show beasiswa KSE di belakang CCR, kakak yang menjadi pembicara disebut sebagai mantan Direktur IPB Mengajar. Itu bukan unit kegiatan mahasiswa tapi lembaga struktural yang geraknya di bawah BEM KM IPB. Waktu itu saya belum tau apa-apa, belum mengerti detail seperti apa IPB Mengajar. Yang terlintas cuma fakta bahwa pasti mengajar, mengajar lagi.

Sebelum ke Bogor, jauh, jauh, jauh hari, saya suka nonton Lentera Indonesia. Itulah “pasukan” yang dikirim ke pelosok untuk mengajar. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tertarik dengannya. Setiap kali ada foto atau film yang bercerita tentang itu rasanya mau juga. Ikut pelatihan, dikarantina, ketemu orang-orang baru… wuih! Pengalamannya yang sulit digantikan.

Sebelum pergi jauh-jauh harusnya saya siap-siap. Bagaimana bisa bertahan kalau belum mengenal lingkungannya? Persiapan itu saya wujudkan dengan bergabung di sini, IPB Mengajar. Tidak banyak, saya bersama sekitar tiga puluhan orang. Pertama kali beraktivitas bersama yaitu di program Manajemen Mengajar. Saya kaget berjumpa dengan anak-anak kecil yang hmm… senang lari saat kami sudah mulai menulis angka di papan tulis. Begitulah.

Saya pernah berdoa untuk diloloskan dalam sebuah organisasi. Waktu itu ketika berdoa saya diliputi kecewa. Sudah saya lalui empat wawancara menuju organisasi dan kepanitiaan dan kesemuanya “menolak” saya. Hipotesis yang ada dalam hati saya yaitu saya menjawab pertanyaan dengan tidak jujur, dibuat-buat, diatur sekeren-kerennya. Hasilnya? Tidak keren.

Dalam awancara terakhir, saya menjadi diri saya sendiri. Saya ungkapkan bahwa berita tentang Lentera Indonesia yang digerakkan oleh Pengajar Muda membuat saya kecanduan. Karena apa? Karena itu yang saya cari, menjadi guru. Urusan itu kedengaran hebat atau tidak, itu belakangan saja.

Ting.
Saya lulus tes dan bergabung dalam IPB Mengajar tahun ini dalam Kabinet Cemara. Diambil nama cemara karena sang pembuat nama berharap orang-orangnya selalu sedia membuat perkumpulan ini hijau.