Kewirus Menyapa Lagi

Namanya Pengantar Kewirausahaan. Karena terlalu panjang untuk lidah yang sibuk dan terlalu sulit untuk lidah yang ingin hal-hal cepat, namanya disingkat sedemikian rupa menjadi Kewirus aja. Mata kuliah ini berlangsung tiap minggu dengan durasi 100 menit.

Memulai pekan dengan bertemu Kewirus menjadi jadwal tetap di sesi UAS. Ini pekan kedua bagi Kewirus untuk “menyapa”. Pekan kedua berarti materi kedua. Dengan dosen yang masih sama, Pak Lukman, kelas saya di jam delapan bagi harus duduk rapi di ruang  1.01 dengan amunisi lengkap. Entah disadari oleh seisi kelas atau tidak, saya merasa mata kuliah ini lebih mirip dengan sesi motivasi. Cocok, kan? Satu minggu penuh ke depan pasti agenda-agenda sudah penuh terjadwal dan rencana-rencana sudah digaris-gariskan waktunya di buku-buku. Makanya Kewirus datang untuk membuka satu pekan lagi kehidupan di masa PPKU.

Pada tatap muka kedua ini saya awalnya masuk ke kelas langsung menuju kursi agak belakang. Yaa, karena setelah melihat lingkungan sekitar saya tidak berwarna, hehe. Maksudnya adalah… saya melihat orang lain seperti kurang tertarik dan memang banyak kursi depan yang dibiarkan tanpa penghuni. Tapi saat itu ada pikiran lain yang mengimbangi: kalau orang lain memilih kursi belakang, kenapa saya tidak maju dan mengisi tempat-tempat mereka? Toh saya jarang dapat tempat di depan, hehe 😀 . Tolong jangan berpikir saya ngambis (bahasa gaul; ambisius). Ini karena ada kesempatan langka saja hahaha. Akhirnya saya maju bersama pasukan karena saya tidak mau menikmati kursi kosong sendirian.

Salah saya memang karena sebelum kuliah ini tidak membaca dan melihat slide materi. Begitu Pak Dosen masuk dan membuka perkuliahan, barulah tulisan besar di depan membuat saya yakin duduk di depan. Di sana tersusun rapi tulisan Membangun Impian.

Kuliah hari itu tidak ada celah untuk mengantuk. Masih pagi juga, jadi malulah kalau sudah mengantuk. Siapa juga yang mau melewatkan penjelasan tentang impian? Pak Lukman menjelaskan materi seperti sedang mengisi sesi motivasi. Mungkin memang itu tujuan beliau memenuhi permintaan pihak atas untuk mengajar Kewirus ini.

Saya segera mengiyakan begitu diminta mengajar mata kuliah ini. Sebab dengan begitu saya bisa mengingatkan kalian tentang pentingnya memiliki impian.

 

Begitu jarum panjang jam di depan kelas sudah tiba di angka enam, Pak Lukman membuka satu tayangan tentang mimpi. Sama seperti waktu dulu sebelum ujian nasional, dulu sewaktu berlatih soal menjelang SBMPTN, model videonya sama. Itu berisi kemenangan para disabilitas pada kejuaraan olahraga sedunia. Saya menduga dengan mendengarkan, pastilah lagu dalam latar video itu dinyanyikan oleh salah satu diva dunia yang lagunya banyak tentang mimpi dan perjuangan.

Dulu, sudah lama dan terkenang lagi, saya menangis karena merasa kasihan–dan hanya kasihan–dengan kondisi mereka. Memang kemenangan yang mereka raih, tapi fokus saya adalah apa yang digambarkan nyata oleh tayangan. Bertahun-tahun saya melupakan dan tidak pernah lagi menonton yang seperti itu. Di Kewirus ini saya menangis lagi (maklumlah jiwanya halus). Tapi sekarang beda alasannya. Saya malu banyak protes pada pencipta saya. Kenapa saya ini banyak mengeluh, banyak nyinyir, banyak intoleransinya, bersedih atas kekurangan diri sendiri. Ya, ya, ya, malu.

Di akhir kuliah, salah satu orang di pasukan saya bilang, “Kewirus minggu depan ajak lagi duduk di depan ya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s