Lembar-Lembar Harapan

Ping!
[Dito udah masuk ruangan.]

Tangannya yang menyemat peniti terhenti. Ini pukul 7.30 sesuai surat panggilan itu. Ia memeriksa layar. Terbaca berderet ucapan dukungan. Dua menit, layar menghitam. Pemiliknya terdiam.

Ia meraih tas. Didekapnya sebundel kertas. Pagar berderit dan sinar menyentuh wajah sayunya. Tangannya dimasukkan ke saku celana.

Lembar-lembar itu siap.

Di kiri jalan sepasang suami-istri duduk bersila dengan tangan terbuka. Lembar pertama selesai.

Satu meter berjalan, seorang buta duduk memegang wadah plastik. Lembar kedua selesai. Di sudut emperan, seseorang meringis. Ia memegangi perut. “Kak, belum makan Kak…” Lembar ketiga selesai.

Tubuh kecil meringkuk di atas koran. Kaleng penyok dipeluknya. Lembar keempat selesai.

Pedagang tisu tua melantunkan shalawat. Lembar terakhir miliknya selesai.

_______

 

Ia membuka pintu. Di tempat yang sama, ia duduk.

Sejenak ia menoleh ke kursi yang akan kosong hari ini, mungkin besok, dan entah sampai kapan.

“Mar, bagian gua udah selesai kan?”

“Iya, To, iya.”

“Oke, sekarang tugas lain menunggu. Dah.”

[Dengan gerakannya berhimpun, dia menggerakkan tangan.
Melalui lembar-lembar harapan, aku juga menggerakkan tangan.
Karena terlampau lelah berharap pada yang seharusnya bergerak.]

[Tapi haknya sudah direnggut. Tidak bisa bersuara.
Tinggallah mereka yang berharap lembar itu terus datang.
Tinggallah mereka yang nasibnya tidak kunjung berganti.]

“Mar. Dosen.” Fia berbisik.

Ia menutup catatannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s