Salah Fokus

PPKU semester kedua. Selamat tinggal Kimia dan sampai jumpa lagi Biologi. Sekarang, maksudnya di semester ini, saya harus menyapa Fisika dan bertatap muka dengan Matematika. Gak takut, buat apa, toh sudah pernah kenal sebelumnya. Cuma canggung karena beberapa ‘jalan pintas’ sudah saya lupakan, hehe. Rumus-rumus itu… sudah menguap.

Semester ini isinya juga Sosiologi Umum yang disebutnya Sosum, juga Ekonomi Umum yang dibilang Ekum. Datanglah mari, masih ada segudang singkatan yang geleng-geleng kepala dengarnya. Karena unik.

Jadi kemarin siang Sosum menyapa. Saya mengantuk, tapi mau serius. Bahasannya tentang interaksi sosial. Syarat & bentuknya. Sampai di pembahasan tentang toleration.

Toleration. Apa artinya? Perdamaian tanpa persetujuan.

Jadi ingat. Dulu kalo musuhan sama adek mulut ini selalu yang paling aktif. Iya, yang paling cepat bereaksi. Doi gak mau kalah. Bukan bersuara lebih kencang, tapi lebih sengit kata-katanya. Ibarat mobil tercepat di dunia yang ramping, enteng, tapi menusuk hahaha. Begitulah. Karena sama-sama perempuan mungkin.

Mirisnya, bukannya menjadi kakak yang baik, saya malah berjanji dalam hati. Sampe besok gak mau ngomong sama dia, titik. Tau apa yang terjadi? Saya selalu tidak bisa menepatinya. Janji yang konyol karena kita serumah, sekamar, sekasur, dan lahir dari rahim yang sama. Mana bisa?

“Aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah ini adalah simbol kesetiaan. Artinya, keluarga adalah segalanya. Mereka boleh jadi bertengkar dengan saudara sendiri, tidak sependapat dengan sepupu sendiri. Tapi ketika datang orang asing, musuh, mereka akan bersatu padu, melupakan semua perbedaan. Kesetiaan adalah segalanya.” (Tere Liye: Pulang)

Yang ada mah saya tiba-tiba sudah bicara hal lain, cerita macam-macam. Atau dia yang duluan tanya-tanya tentang apapun. Bisa juga tiba-tiba ketawa, entah saya yang duluan atau dia. Bisa gara-gara mesin cuci, lucu-lucuan sama Mamak di dapur, atau acara apa saja di tv.

Mungkin karena sudah dua minggu gak pulang, dua minggu itu juga gak pernah ngobrol sama adek, hahaha. Berdekatan tapi musuhan, berjauhan eh dipikirkan 😀 .

Ini awal Maret. Dia beberapa bulan ke depan sibuk persiapkan ujian akhir di mts. Ucapan dari Bogor semoga bisa semangati bulan-bulan ribetnya.

Jangan salahkan
jarak yang menjauhkan
pun genggaman dan curhatan
yang gagal menenangkan

cukup pastikan
doa selalu kaupanjatkan

Yang Pergi

Ini larut malam dan sedikit lagi tengah malam. Bogor, seperti biasa dalam dua minggu terakhir, malamnya dingin. Kondisi yang bagus untuk tidur, terutama bagi anak asrama yang baru saja selesai menonton pembukaan acara yang besar.

Bukan saya.

Beberapa jam lalu waktu acara pembukaan terdengar sampai asrama, saya di tempat yang sama sejak pulang dari kelas terakhir: kamar. Cuma keluar untuk cuci baju dan mandi. Masuk lagi. Bikin apa? Makan. Pie susu dari Bali.

Jadi ingat. Kemarin waktu libur panjang di rumah, pagi-pagi ada orang depan rumah, tetangga baru maksudnya, bawakan sekotak pie susu. Sebagai bentuk ramah tamah. Untuk berkenalan. Masuklah pie susu itu ke dalam lemari makan.

Hai pie susu, sudah lama saya mau makan kamu.

Berhubung liburan sudah hampir habis, saya ada ide untuk minta jatah pie susu untuk stok di asrama. Wah, stok? Padahal cuma ada sepuluh biji pie susu di sana. Tapi namanya sangat-ingin-sekali, ya akhirnya saya yakin, mau bawa pie susu.

Ternyata ada adek. Sepupu juga suka. Makanlah mereka. Dan dipikir lagi, ternyata tidak enak sembunyikan, timbun, bahkan selundupkan makanan kita dari orang lain. Apa yang saya bawa kembali ke asrama?

Tempe saja deh Ma.

Iya, tempe akhirnya. Pie susu selamat tinggal. Lain kali pastilah saya bisa makan kamu, entah di mana itu, hahaha. Lagian juga kamu cuma pie susu kok.

Satu bulan, saya lupa pernah mau sekali makan pie susu banyak-banyak. Saya lupa pernah merelakan pie susu yang ada di ‘hadapan mulut’. Teman selorong tiba-tiba bilang dia dapat kiriman pie susu dari bude di Bali. Sesudah habis yang ditawarkan tadi, saya datang lagi, tanya, kapan harus dihabiskan mengingat tanggal kadaluarsa kue itu. Ngobrol sebentar di lorong, karena mau cepat dihabiskan, beberapa pie susu dibawa lagi, jadi camilan.

Ternyata yang pergi bisa kembali. Bisa lebih banyak, mungkin karena panggil rakyatnya.

Karena Si Merah

Kemarin tepatnya siang, saya masih menikmati libur. Seperti kebanyakan gadis desa lainnya, saya bantu-bantu Mamak di dapur 😀 . Yaa kapan lagi anak asrama bisa cerita-cerita sambil masak, ya kan? Jadi yaa begitulah tiap siangnya kalo libur. Mengumpulkan memori di dapur, hahaha. Jadi nanti ditanya, apa yang paling kamu rindukan? Jiah, ini sih jawabnya beda dari yang lain: Cerita sama Mamak di dapur.

Oke, kembali.

Jadi Mamak punya pohon cabe yang sudah besaaaar. Saking besarnya sekarang pohon itu sudah tunduk-tunduk sama semua orang. Buahnya yang tadinya dirasa gak sanggup dimakan sendiri, sekarang malah ditunggu dengan cemas, udah merah belum yaaaa? Belakangan, tepatnya bertepatan dengan kepulanganku ke desa ini, tiba-tiba ada kabar harga cabe naik. Mak, makasih ya Mak sudah melakukan langkah yang tepat demi keluarga kita: menanam cabe. Nah tadinya saya mikir begitu.

Hari itu akhirnya Mamak beli cabe. Dan menyambung cerita yang paling awal, hampir setiap hari Mamak butuh sambal. Jadi sayalah yang beraksi. Cabe, bawang, tomat, jeruk limo. Nah…

“Mak sini saya yang bikin.” Biasalah, kalo di rumah bahasanya dominan baku hahaha. Malah jadi aneh kalo bilang aku.

Mengalirlah ceritaaa. Biasa, ibu-ibu. Mulai dari cerita tentang bayi wangi telon yang tadi pagi jumpa di warung, tentang pohon nangka tetangga yang selalu dibagi-bagi buahnya 🙂 , sampai cerita tentang masa lalu Mamak ketemu teman hidupnya–yang selalu inisiatifnya Mamak sendiri. Nah, namanya cerita, yaa cerita… Pasti ada bengongnya. Tapi ini lagi bikin sambel, oi!

Tuing!

“Mak panas Maaaaaak. Huaaaaaah!” Tebak, apa yang terjadi?

Dia loncat. Tidak, salah deh. Terbang lebih tepatnya. Ke mata. Oke ini masalah besar. Apa mata ini akan buta? Oh tidak! Toloooong, mata yang kiri susah dibukaaaa.

Betulan. Cabe yang terbang masuk ke mata itu gawat! Sempoyongan, rasa takut, sedih karena reaksi Mamak biasa saja, dan kesal karena mata ini susah dibuka, dan mau ketawa karena ini lebay!!!

“Cuci, jangan digosok. Jangan digosok.” Aduh, lalalalalala. Bagaimanalah ini. Serileks itukah, Mak?

Andai ada yang menghitung, pasti bilasan itu lebih dari jumlah wajib membilas sesuatu yang terkena najis. Kenapa? Karena ada ketakutan tidak bisa melihat lagi–meskipun reaksi Mamak tidak mendukung hal itu.

“Pasti merah. Memang begitu.” Aduh Mak, mana reaksi yang lebih pro pada anak?

“Saya juga dulu pernah.”

“Oh, iya, Mak?”

Berarti Mamak bereaksi berdasarkan pengalaman. Dan itu membuatku sakit hati, huhuhu. Masa anaknya takut buta sementara orangtuanya rileks saja? Walah!

Tapi yang membuat saya bingung… Bukan, maksudnya lebih seperti takjub. Sesudah bercermin dan mendapati mata kiri berwarna merah dan berair, rasa pedih tidak lagi hebat. Tidak sama seperti habis makan olahan mercon yang memberangus lidah. Wuih. Lepas bercermin dan melanjutkan menghaluskan tomat, saya mendapati dan baru menyadari bahwa ada organ yang tidak kekar tapi betulan kuat.

Sejam setelah itu, saya bahkan sesaat lupa telah mengalami kejadian yang… seperti itu. Itu karena rasa perihnya sudah hilang. Bayangkan kalo yang kena itu bibir atau pipi. Hilangnya lamaaa. Bahkan pernah saya kena di tangan. Eh maksudnya sengaja kena, hehe. Cabe dipotek sebelum ditumbuk. Jadinya sampai sore–seingat saya–tangan masih panaaas.

Karena si Merah, hari ini saya mempercayai sesuatu bukan berdasarkan kata orang. Mata sungguhan punya kekuatan penyembuh. Dicuci, terus bekasnya merah karena iritasi, tapi cepat hilang pedihnya. Satu jam berlalu… dan bekas merah bahkan tidak terlihat lagi.

Yo, siapa yang belum percaya? Silakan coba adegan di atas. Persiapkan dirimu.

N.B
Karena saran di atas konyol dan aneh, lebih baik kamu pindah ke sini. Kalo belum cukup, bisa cari sendiri. Tapi tolong jangan cari pengalamannya, tapi cari bacaannya 😀