Field Day 2017

Tanam-tanam ubi…

Itu sepenggal kecil lagu dari kartun milik tetangga sebelah. Tanam ubi, itulah yang dilakukan seratus lebih orang di Kebun Leuwikopo, Dramaga, Bogor. Orang sebanyak itu dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya delapan belas. Sejatinya ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Pembinaan Himagron. Tapi kenyataannya kegiatan ini juga diikuti oleh orang dari luar AGH. Yang terdekat yaitu dari PTN (Proteksi Tanaman)—jurusan yang juga ada di fakultas hijau kami—dan  yang paling jauh datang dari UNB (Universitas Nusa Bangsa) dengan tim yang anggotanya berbeda-beda jurusan. Selagi lelahnya masih tersisa dan suasananya masih terasa, kegiatan ini harus cepat-cepat diabadikan di sini.

Jebret
Jebret
Jebret
Dua juta

Jargon ini bukan dibuat oleh panitia acara melainkan oleh pesertanya. Silakan bayangkan sendiri gayanya karena mudah dicocokkan dengan gerakan apapun.

 

Awalnya menurut tebak-tebakan, saya berpikir ini sama seperti beberapa rangkaian acara Pembinaan Himagron lain, registrasi akan dibuka jam enam tepat. Ternyata lebih cepat setengah jam. Okelah, toh kos saya dekaaat dengan pintu kampus, dekat juga dengan titik kumpul pagi itu. Sayangnya, hari itu banyak yang terlambat. Kabar baiknya adalah mereka tidak dimakan komdis.

Selesai registrasi, seperti biasa pemeriksaan perlengkapan dilakukan. Tidak ribet, kok. Payung, makanan ringan, air minum, dan sebagainya. Itu sudah biasa. Sama biasanya dengan ada yang tidak membawa pin nama lagi. Tunggu, lagi? Iya, alasannya ketinggalan karena buru-buru. Fortunately, komdis tidak selera merebus mereka. Cuma sedikiiit omelan dicampur bawang goreng.

Komdis adalah singkatan dari komisi disiplin. Setiap anak baru  tingkat manapun yang pernah mencicipi ospek pasti mengenal mereka. Itulah segolongan orang yang kedatangannya dibuka dengan keheningan dan kepergiannya ditutup dengan embusan napas lega. Mereka tidak bungkuk saat berjalan dan tidak menunduk saat bicara. Satu-satunya yang bisa memaksa kapan harus makan dan kapan harus minum. Bahkan mereka bisa mengatur kapan harus tertawa. Sekilas, penokohan yang melekat pada mereka adalah antagonis. Meski begitu, karena langka dilihat, senyum komdis sering dicari.

 

Mobilisasi dilakukan kemudian. Tujuannya adalah Kebun Leuwikopo. Pemandunya adalah panitia yang sudah ahli melakukan perjalanan ini. Buktinya, waktu tempuh yang biasanya setengah jam bisa dihemat menjadi kurang dari lima belas menit. Mungkin itu untuk memicu rasa lapar.

 

Pembukaan FD Phoenix

Nah, ini dia pembukaan Field Day. Yang kiri adalah ketua pelaksana acara ini sedangkan yang kanan adalah ketua pelaksana rangkaian kegiatan kami. Bingung? Silakan cari pegangan.

 

 

 

Pembukaan FD Phoenix - cara menanam.jpg

Sebelum praktek ada teori. Kedua kakak ini sedang menjelaskan tata cara menanam ubi dari awal sampai akhir.

 

 

Reynoso dalam Field Day ini lengkap formasinya. Tentunya sudah bertambah setelah mendapat teman baru dari jurusan tetangga. Ini adalah acara kedua sejak jumlah kami menjadi empat belas orang. Awalnya pembagian tugasnya agak jelas. Akhirnya setelah melihat lahan, garpu, cangkul, dan bibit, semua ingin merasa dan mencoba.

Ada lahan 5×5 meter, 2 garpu, 4 cangkul, 1 penyiram tanaman, dan seikat bibit ubi, dan sekarung pupuk kandang. Tidak ada yang diam. Tidak juga ada perbedaan pada perempuan dan laki-laki dalam kuasa memegang cangkul. Awalnya menggali parit, kemudian tanah galian ditinggikan ke kanan-kirinya untuk dibuat bedengan. Lalu dicampur dengan pupuk kandang. Disirami, ditanami, lalu disirami lagi.

“He, hati-hati menyiram, memangnya sini ubi?”

“Iya, ubi, soalnya sama-sama manis.”

“Waaah, makasih, makasih.”

“Tapi bau tanah.”

 

Gombalan ini kok berujung mengerikan, ya?

 

Bertani tidak pernah mudah. Kita tidak bisa asal timbun sambil berharap tanaman cepat beradaptasi dan menghasilkan apa yang kita inginkan. Contohnya waktu menanam bibit-bibit ubi, trik-triknya harus dipahami. Bibit yang ada dicabuti daun-daunnya sehingga tersisa hanya dua atau tiga daun. Mencabutnya pun harus sempurna supaya ruas-ruas yang awalnya tempat tumbuh cabang bisa ditempati para umbi. Jangan juga terlalu panjang menyisakan batang karena bisa berakibat umbi terlalu banyak. Intinya, kita sebagai manusia harus memperhatikan dengan baik hak asasi tanaman.

 

Menurut panduan yang diberikan, waktu panen akan tiba tiga bulan sejak penanaman. Menunggu tidak bisa sekadar duduk menghitung hari di kalendar. Karena ini bentuknya lomba antarkelompok, perawatan sebagai fase menunggu juga masuk dalam kriteria penilaian. Mencabut gulma, menyiram tanaman, dan sederet perhatian penuh pada tanaman ubi harus konsisten diberikan. Meskipun iming-iming hadiah dua juta ada, tujuan utama acara ini adalah belajar menanam ubi.

Hak asasi tanaman yaitu sesuatu yang harus diberikan manusia pada tanaman. Salah satunya adalah memperhatikan bentuknya. Manusia tidak bisa hidup seenaknya, menanam dengan sepuasnya tanpa mengerti kondisi tanaman. Tanaman memiliki energi untuk didistribusikan ke seluruh bagian tubuhnya. Semakin banyak organ maka semakin banyak energi yang harus disebar. Baiknya adalah kita mengatur supaya buah itu tidak terlalu banyak sehingga bisa besar dan subur.

 

Selesai acara, mobilisasi kembali dilakukan menuju tempat registrasi tadi pagi. Ini bisa jadi mobilisasi satu-satunya yang tidak diikuti tatapan dingin komdis. Bisa jadi saat itu para komdis sedang merenung tentang betapa dinginnya tatapan yang diberikan selama ini. Bisa juga sedang memikirkan jenis tatapan apa yang akan lebih menertibkan langkah-langkah kami. Atau justru sedang menyamar di antara semak, pohon, dan bak air di kebun tadi dan mengawasi? Entahlah. Ini menguntungkan. Susah juga kalau harus dimarah-marahi lepas kerja berat mencangkul tanah.

Ada-tidaknya komdis, PJK (penanggung jawab kelompok) selalu jadi yang terbaik. Bukan karena rajin menawarkan “refill air, refill air”, tapi karena cuma mereka yang posisinya sebagai kakak asuh. Di Reynoso, ada satu bagian yang setengah menjelma jadi PJK, yaitu medis. Sarapan bersama, ikut mencangkul, menanam, dan berfoto. Di tengah keakraban peserta-medis-PJK dan keseruan menanam ubi, hanya komdis yang tidak bergabung di tengah kami. Aduh, sayangnya.

Iklan

Temu Ketiga

Ini dia temu ketiga kami. Ini diaaaaa.

Waktu itu acara dimulai sekitar jam setengah dua mungkin. Seragam batik-hitam. Tidak ada informasi tentang waktu selesainya acara ini, jadi kita semua mengira-ngira, siapa tau nanti diadakan tarawih berjamaah? Seperti biasanya, acara pertama atau kegiatan awal dalam acara-acara seperti ini yaituuu registrasi. Tenang, tidak semua kegiatan harus dilakukan di bawah tatapan penuh makna para komdis. Registrasi ini sebentar saja, cuma mengisi kolom tanda tangan. Sesudahnya barisan dibuat berdasarkan kelompok kecil. Oya, namanya Reynoso, itu kelompok saya, kelompok yang kelima belas (cerita tentang Reynoso akan menyusul!).

Seperti biasanya, acara pertama atau kegiatan awal dalam acara-acara seperti ini yaituuu registrasi. Tenang, tidak semua kegiatan harus dilakukan di bawah tatapan penuh makna para komdis. Registrasi ini sebentar saja, cuma mengisi kolom tanda tangan. Sesudahnya barisan dibuat berdasarkan kelompok kecil. Oya, namanya Reynoso, itu kelompok saya, kelompok yang kelima belas (cerita tentang Reynoso akan menyusul!).

Registrasi selesai. Barisan harus rapi. Lalu apa? Pemeriksaan barang bawaan. Hhh, kenapa ada beginian, ya?

Ini melatih kedisiplinan, Dek.

Ya, jangan tanya bagian komdis tentang alasan membawa sejumlah barang yang ditentukan. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.

Oke, lanjut. Ada sesi penyampaian materi tentang PKM alias Pekan Kreativitas Mahasiswa. Yang menarik di sini adalah justru orang yang menyampaikan materi itu, hahaha. Alumni IPB jurusan Biologi yang pernah ikut PIMNAS. Materi selanjutnya ada berbagi pengalaman dari Kak Abil dari AGH yang sudah diwisuda tahun kemarin, juga ada kakak dari Fakultas Manajemen yang membuat program membuat batik tulis bagi tunarungu.

Inilah gathering ketiga, diadakan di tengah ibadah bulan puasa. Sesudah shalat maghrib, barisan nasi bungkus berjejer rapi di salah satu koridor yang luas. Nasi-nasi itu di atas kertas nasi yang dibariskan panjaaang. Dengan lauk tempe dan kerupuk dilengkapi mie instan, kami makan malam. Oya, kakak panitia juga ikut makan dengan menu yang sama. Tapi jangan tanya apakah makanan itu habis semua. Banyak dari porsi para wanita yang harus dilimpahkan pada mereka yang ada di seberang yang dinilai lebih kuat makan banyak.

Inilah gahtering ketiga. Komdis ternyata tetap beraksi di akhir acara bertindak sebagai evaluator. Yaa, masih dengan gaya khas yang suka berteriak-teriak, sih.

 

arti-lambang-ph.jpg

Pembinaan Himagron. Dia akan menyambut kami memasuki departemen. Menyambut anak-anak manis yang akan berkebun~

Kewirus Menyapa Lagi

Namanya Pengantar Kewirausahaan. Karena terlalu panjang untuk lidah yang sibuk dan terlalu sulit untuk lidah yang ingin hal-hal cepat, namanya disingkat sedemikian rupa menjadi Kewirus aja. Mata kuliah ini berlangsung tiap minggu dengan durasi 100 menit.

Memulai pekan dengan bertemu Kewirus menjadi jadwal tetap di sesi UAS. Ini pekan kedua bagi Kewirus untuk “menyapa”. Pekan kedua berarti materi kedua. Dengan dosen yang masih sama, Pak Lukman, kelas saya di jam delapan bagi harus duduk rapi di ruang  1.01 dengan amunisi lengkap. Entah disadari oleh seisi kelas atau tidak, saya merasa mata kuliah ini lebih mirip dengan sesi motivasi. Cocok, kan? Satu minggu penuh ke depan pasti agenda-agenda sudah penuh terjadwal dan rencana-rencana sudah digaris-gariskan waktunya di buku-buku. Makanya Kewirus datang untuk membuka satu pekan lagi kehidupan di masa PPKU.

Pada tatap muka kedua ini saya awalnya masuk ke kelas langsung menuju kursi agak belakang. Yaa, karena setelah melihat lingkungan sekitar saya tidak berwarna, hehe. Maksudnya adalah… saya melihat orang lain seperti kurang tertarik dan memang banyak kursi depan yang dibiarkan tanpa penghuni. Tapi saat itu ada pikiran lain yang mengimbangi: kalau orang lain memilih kursi belakang, kenapa saya tidak maju dan mengisi tempat-tempat mereka? Toh saya jarang dapat tempat di depan, hehe 😀 . Tolong jangan berpikir saya ngambis (bahasa gaul; ambisius). Ini karena ada kesempatan langka saja hahaha. Akhirnya saya maju bersama pasukan karena saya tidak mau menikmati kursi kosong sendirian.

Salah saya memang karena sebelum kuliah ini tidak membaca dan melihat slide materi. Begitu Pak Dosen masuk dan membuka perkuliahan, barulah tulisan besar di depan membuat saya yakin duduk di depan. Di sana tersusun rapi tulisan Membangun Impian.

Kuliah hari itu tidak ada celah untuk mengantuk. Masih pagi juga, jadi malulah kalau sudah mengantuk. Siapa juga yang mau melewatkan penjelasan tentang impian? Pak Lukman menjelaskan materi seperti sedang mengisi sesi motivasi. Mungkin memang itu tujuan beliau memenuhi permintaan pihak atas untuk mengajar Kewirus ini.

Saya segera mengiyakan begitu diminta mengajar mata kuliah ini. Sebab dengan begitu saya bisa mengingatkan kalian tentang pentingnya memiliki impian.

 

Begitu jarum panjang jam di depan kelas sudah tiba di angka enam, Pak Lukman membuka satu tayangan tentang mimpi. Sama seperti waktu dulu sebelum ujian nasional, dulu sewaktu berlatih soal menjelang SBMPTN, model videonya sama. Itu berisi kemenangan para disabilitas pada kejuaraan olahraga sedunia. Saya menduga dengan mendengarkan, pastilah lagu dalam latar video itu dinyanyikan oleh salah satu diva dunia yang lagunya banyak tentang mimpi dan perjuangan.

Dulu, sudah lama dan terkenang lagi, saya menangis karena merasa kasihan–dan hanya kasihan–dengan kondisi mereka. Memang kemenangan yang mereka raih, tapi fokus saya adalah apa yang digambarkan nyata oleh tayangan. Bertahun-tahun saya melupakan dan tidak pernah lagi menonton yang seperti itu. Di Kewirus ini saya menangis lagi (maklumlah jiwanya halus). Tapi sekarang beda alasannya. Saya malu banyak protes pada pencipta saya. Kenapa saya ini banyak mengeluh, banyak nyinyir, banyak intoleransinya, bersedih atas kekurangan diri sendiri. Ya, ya, ya, malu.

Di akhir kuliah, salah satu orang di pasukan saya bilang, “Kewirus minggu depan ajak lagi duduk di depan ya.”

Tentang Melepas

Waktu itu saya yakin satu hari kebersamaan tidak bisa melengkapi dan menutup lembar putih biru yang mengesankan. Saya yakin dengan tidak mengikuti acara itu saya tidak rugi sampai bangkrut. Saya pun yakin, absennya saya dari kumpulan hati yang bersenang-senang tidak akan menjadikan saya terlupakan.

 

Masih berada di rumah, saya sering mengomentari hal-hal yang dilakukan saudara saya. Termasuk hari itu, dia pulang dari sekolah bawa kabar gembira. Katanya tahun ini, tepatnya setelah ujian akan diadakan kegiatan di luar kota. Acara itu seperti wisuda layaknya sarjana yang sudah menyelesaikan tugas akhir, ada pelepasan secara simbolis. Bedanya adalah di sana tidak diberi toga, bahkan memakainya pun tidak. Mendengar itu saya merasa ditarik kembali ke masa tiga tahun lalu, sama seperti jenjang yang sekarang didudukinya, kelas tiga sekolah menengah pertama.

Saya kini berbicara tentang beberapa hari sebelum hari keberangkatan waktu itu. Tidak jelas teringat seperti apa percakapan yang saya lakukan, tapi intinya masih membekas. Mengajak bicara orang di rumah, saya bingung apakah harus ikut atau tidak. Saya berpikir banyaknya waktu yang harus dibiarkan terlewat untuk membiayai perjalanan termasuk di dalamnya duduk dalam bus, bernyanyi, atau lari-lari. Waktu itu karena memang saya adalah anak rumah, alasan saya pada diri sendiri adalah karena ingin memakai jatah waktu yang tidak seberapa itu untuk duduk di dapur dengan Mamak.

Begitu acara milik sekolah itu selesai, saya sadar sejatinya saya memang dicari dan itu memang membebani orang lain terutama yang bertanggung jawab memastikan kelengkapan peserta. Saya ditanya mengapa tidak ikut. Bahkan saya tahu bahwa wali kelas saya menelepon untuk mengajak ikut serta. Sebenarnya itu adalah telepon untuk mengingatkan saya karena orang khawatir saya lupa berangkat. Tapi jawaban saya waktu itu memang tidak jelas, hanya dengan alasan ya tidak mau saja.

Waktu itu saya yakin satu hari kebersamaan tidak bisa melengkapi dan menutup lembar putih biru yang mengesankan. Saya yakin dengan tidak mengikuti acara itu saya tidak rugi sampai bangkrut. Saya pun yakin, absennya saya dari kumpulan hati yang bersenang-senang tidak akan menjadikan saya terlupakan. Hari itu saya yakin posisi saya berdiri dan apa yang saya pegang akan berdampak positif bagi saya, entah berapa tahun yang akan datang.

 

Jadi harus seperti apa kita melepas sesuatu atau seseorang? Seperti apa kita menghadapi perpisahan? Bersama berdoa memohon kebermanfaatan atau mengadakan perayaan? Jika yang pertama, sebaiknya siapkan manfaat seperti apa yang kita harap. Tapi jika yang kedua, ayolah, mengapa perpisahan harus dirayakan?

Sapaan Pertama dari Kewirus

Ini hari Senin. Sudah lewat sesi uts, berarti di awal minggu tidak lagi kuliah dimulai jam satu siang tapi jam delapan pagi. Ada mata kuliah Pengantar Kewirausahaan. Mau bahasa gaul? Ada. Sebut saja Kewirus. Ini bobotnya dalam sks cuma satu. Biarpun begitu, sama seperti Pengantar Ilmu Pertanian, semua orang di semester satu wajib memiliki.

Pengusaha itu banyak, tapi wirausaha bisa jadi sedikit. Yang membedakannya adalah inovasi. Bertahun-tahun berjualan dengan hal-hal yang sama adalah pengusaha. Tapi wirausaha adalah yang melakukan perubahan.

Pak Lukman masuk kelas setelah tilawah selesai. Setelah membacakan kontrak perkuliahan di awal, beliau membicarakan tentang kewirausahaan. Saya pikir itu mudah dan membosankan. Tapi sepanjang kelas tadi saya merasa tertarik. Itu karena yang dibicarakan Pak Lukman banyak tentang pertanian. Pertanian…

Saya tahu kampus ini adalah kampus pertanian. Semakin tua saya di sini juga semakin sadar saya bahwa sebenarnya tujuan terbesar adanya pendidikan di sini salah satunya adalah agar tumbuh jiwa wirausaha. Bukan sekadar tumbuh, deh, berkembang dan hidup juga. Bagaimana saya tahu itu? Jawabannya ada di slide yang tadi ditunjukkan Pak Lukman.

Menurut saya menjadi mahasiswa pertanian itu sulit. Saya bahkan bingung, haruskah bangga menjadi bagian darinya? Alasannya adalah seperti istilah yang dilontarkan Pak Lukman, yaitu moral obligation. Saya –dan seluruh mahasiswa pertanian– harus setia karena ada kewajiban moral yang secara tidak kasat mata melingkari tangan, kepala, bahkan kaki.

Akhirnya di tengah kuliah kejadian dulu ketika saya memilih jurusan melintas lagi. Kenapa saya begitu senang dan tertarik dengan pertanian? Karena dulu ada kalimat yang mengikat mata membacanya, menarik hati merenunginya: Kalau bukan kita yang mengurusi pertanian, siapa lagi?

Sederhana, iya, sederhana dan klise untuk tidak bilang itu terlalu umum dan samar sebagai sebuah mimpi. Pak Lukman tadi membahas tentang pentingnya setiap orang berpikir untuk menjadi seorang job creator. Pastinya harus tetap memperhatikan peluang-peluang di bidang pertanian.

Indonesia pasti akan mencapai masa hebatnya ketika wirausaha melebihi angka di atas dua persen dari seluruh penduduknya.

Awal yang baik minggu ini, Kewirus menyapa kelasku mengingatkan lagi tentang pertanian.

Lontara Rindu

Ada satu buku yang saya dapat di perpustakaan. Buku itu yang memenangi lomba novel republika 2012 dan memperoleh juara pertama. Penulisnya S. Gegge Mappangewa. Membacanya seperti naik kapal, tiba di pelabuhan, dijemput keluarga, dan pulang ke kampung.


Asrama dingin, itu membuat saya ingat rumah itu. Tempat berkumpul ketika maghrib tiba menandakan waktu berbuka. Juga ketika selesai shalat hari raya, di sana tempatnya banyak makanan dan bocah-bocah lari-lari. Dingin ini membuat saya ingat rumah itu dan lembar-lembar sengnya yang menjelma atap dan dinding.

Beberapa hari lagi Ramadhan tiba. Ia ada dalam perjalanan, semoga kita bisa berjumpa dengannya. Tinggal menghitung hari dan saya masih terus menunggu kabar dari Bapak. Itu adalah perintah berkemas: ayo kita pulang.

Pada awan yang terbang rendah melewati Kota Daeng atau angin lewat akan menyusul ke Bandara Hasanuddin, saya titipkan pesan untuk rumah di sana: tunggu saya pulang.

Yang Berlalu

Kemarin, persis jam satu siang, pengumuman SNMPTN di sekolah saya diakses ramai-ramai. Seharian saya diserang penasaran. Group chat dihadiri Sensei, wali kelasku dulu. Beliau melaporkan satu per satu orang yang diterima undangan. Saya bilang, Sei tolong kalo bisa live report, penasarannya sampai ke ujung-ujung rambut nih.

Hasil mereka cukup membuat saya, hmm apa ya? Senang? Iya sih, karena capaian mereka lebih baik. Bukannya begitu harusnya seorang kakak? Ada yang ke UGM, UNJ, dan UI, sementara itu yang saya tahu.

Siang tadi teman-teman di kelas pasti juga mencari tahu tentang adik-adiknya. Pengumuman itu dibuka tepat waktu kami sedang kuliah Pendidikan Pancasila. Teman ada yang serius sekali dengan itu, bahkan selesai kuliah dan berteduh dia bicara tentang “pengikutnya” yang masih belum ketahuan namanya. Maksudnya yang resmi diterima IPB.

Berlalu, memang sudah berlalu masa itu. Duduk di depan layar menyala pulang dari les, berlatar suara Mamak bikin sambel di dapur, pengumuman itu mudah diakses. Entah karena lalu lintasnya lancar atau saya dipermudah melihatnya. Masukkan nama, nomor apalah itu. Kemudian merah.

Team red.
Begitu istilahnya, katanya.

Pengumuman SNMPTN tidak hanya mendebarkan bagi mereka yang sedang menanti, tapi juga bagi mereka yang pernah menanti.