Mataku Melihatnya

 

Sinar putih kekuningan sang mentari sudah tiba di jendela kamar. Suara kesibukan terdengar di sudut-sudut gedung ini. Satu jam lagi kuliah pagi dimulai. Aku bergegas meraih kacamata, memperbaiki posisinya di pangkal hidung. Tidak lama kemudian menyapa satpam di pintu depan lalu duduk menunggu di sofa panjang sambil menikmati sarapan.

ooo

 

Jam tangan kulit yang mengkilat. Keren kau ya!

            Sekelompok orang yang duduk melingkar sedang bercakap-cakap. Suara tawanya terdengar dari sini, delapan meter jaraknya. Sepertinya salah satu di antara mereka telah membeli barang itu dari toko online. Diskon akhir tahun. Sama seperti beberapa orang yang berlalu-lalang tadi. Pergelangan tangan yang mengkilat diterpa cahaya matahari.

Wih, keren juga gaya hijabnya!

            Aku mengarahkan pandangan pada tiga orang gadis yang baru saja melewatiku. Dengan motifnya yang unik ditambah modelnya yang tidak biasa, salah satu di antara mereka tampak cerah. Mereka berjalan menuju pintu samping. Tiga orang yang berpakaian senada dengan orang itu berdiri menunggu. Berbincang sebentar lalu keenamnya berbaris acak dan memberi senyum indah. Mungkin ada lima foto dengan bermacam gaya.

Sepatu baru! Kenalan dong!

            Sepasang manusia berbincang ringan dari arah kiriku. Yang laki-laki berusaha menginjak kaki kiri orang disebelahnya—seakan berkenalan—dengan usilnya. Yang berusaha diinjak justru berhenti, cemberut. Entahlah itu tanda jengkel atau merajuk.

“Heee, pagi-pagi bengong aja!” Alfa duduk di sebelahku sambil menepuk bahu.

Aku menoleh padanya.

“Coba itu makanan diperhatiin. Ada lalatnya tuh.”

Aku diam.

“Dan ini… coba dilepas. Biar gak kebanyakan liatin orang. Punya orang diperhatiin, tapi roti sendiri dibiarin berlalat. Iuh.” Alfa menarik lepas kacamataku.

“Eh, apaan sih. Mau kuliah nih.” Kacamata di genggamannya berusaha kuraih.

“Rabun jauh itu bagus buatmu, deh, Mar,” Ia berdiri menarik tanganku, “biar gak fokus sama kelebihan orang dan sadar dengan apa yang kamu punya.”

Aku meraih tasku.

“Jangan lupa buang rotimu, tuh. Dilalatin.”

 

Iklan

Apa Kau yang Bawa Lelahku?

Dari dalam ruang yang luas ini matahari di atas sana terasa betul teriknya karena banyak yang berkumpul di sini. Wajah-wajah penuh derita yang harus melewati berjam-jam kegiatan yang melelahkan otak dan tentu saja menguji perut. Mereka berbaris di depan penjaja makanan. Tapi lihatlah, di depan penjual minuman sedang rusuh. Keringnya kerongkongan tidak menyurutkan semangat mereka meneriakkan pesanan masing-masing dengan ganas. Orang-orang itu tampaknya tidak ingin patuh pada sang penjual yang sejak awal membentak menyuruh merapikan barisan. Tangan-tangan lincah mereka berlomba mengibaskan uang-uang kertas, berharap segera dilirik oleh sang penjual dan bisa lepas dari dahaga.

Dari sudut kantin aku memperhatikan kerusuhan itu. Orang-orang itu didominasi oleh para siswa yang begitu kehausan. Tapi sungguh bukan lagi dominasi melainkan tidak ada satu siswi pun di sana yang terlibat dalam kerusuhan. Mereka bukan takut. Hanya saja urusan bisa tambah pelik jika yang rusuh adalah para siswi. Masalah jajan akan berujung hingga ke kelas, terjadi labrak-melabrak, bully, dan ujungnya mungkin perang media sosial. Entahlah, itu dugaanku saja, kok. Siswi-siswi memang rapi berbaris dan sabar. Lalu sekali ada kecurangan dalam antrian, sebatas bisik-bisik akibatnya. Aku tersenyum hambar.

Lia yang baru datang menarik bangku di depanku. “Apa sih?” Begitu duduk, ia memutar badannya mengikuti arah pandanganku. Rusuh lagi, begitu maksud ekspresinya.

Kerusuhan ini bukanlah selera tontonanku. Aku hanya ngasal mencari hiburan sebelum kembali ke kelas. Hal menyenangkan harus didapat sebelum kembali ke tempat yang membuat kita bersedih.

So, ada kabar apa dari kelasmu?” Lia meletakkan bungkusan plastik di atas meja.

Aku menghentikan tawa tiba-tiba. Lucu juga mendengarnya bertanya kabar kelas. Itu basa-basi yang kaku sekali. Dengan merengut aku menjawab, “belajar biasa dengan buku dan pulpen.”

“Kenapa Aul gak diajak? Tumben ini.”

Untuk itulah aku menemuimu di kantin rusuh ini, Li.

“Karena kamu diam, berarti ada sesuatu. Kenapa, Mar? Buruan cerita, lama-lama di sini makin gerah, loh.” Lia membuka es krimnya.

♦♦♦

Koridor kelas dipadati para siswa baru. Mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang menempel di pintu kelas. Tunggu, kenapa mereka menempel begitu?

“Mar! Yah! Aduh, Mar!” Lia menghampiriku sambil memegangi dahinya.

“Kau ini kenapa!”

“Kelas kita dipisah, you know!” Lia menunjuk lurus ke depan.

Pintu kelas ramai sekali. Kulihat sebuah kertas menempel di sana. Daftar panjang tulisan bertinta hitam berjejer rapi dalam tabel-tabel. Di tengah-tengah urutan itu ada namaku. Lima orang dari kelas lamaku juga ada di sana. Selebihnya orang-orang yang sepintas kutemui bahkan ada yang tidak kukenal. Padahal ini semester baru dan bukan masa kenaikan kelas tapi kenapa pihak sekolah mengacak-acak susunan kelas?

Bel listrik dibunyikan. Para korban perombakan ini akhirnya masuk ke kelas baru. Aku pun begitu. Rencanaku untuk bertemu kepala sekolah dan memprotes kebijakannya mungkin bisa dilakukan lain kali. Sekarang aku harus menemukan teman duduk yang tepat.

“Sudah ada yang di sini?” Seseorang mengetuk sandaran bangku di sampingku.

Kulihat ke samping, Dinda dan Yuli sudah mengeluarkan buku-buku dari tas. Dian barusan sudah sepakat duduk di samping Riana. Dito? Baru saja dia menahan teman-teman barunya agar tidak duduk di sampingnya. Tanpa Lia berarti aku harus menambah teman baru.

“Em, belum.” Aku menatap orang itu.

“Kenalkan, Aulia.”

♦♦♦

“Kok bisa?”

“Karena bapakku serabutan, Mar.”

Kelas sepi ketika Aul, menceritakan keluarganya. Sudah lebih dari dua minggu kami harus beradaptasi dengan kelas baru. Salah satu cara menyesuaikan diri yaitu dengan bercerita.

“Kau gak coba daftar jadi penerima beasiswa? Katanya setiap bulan ada uang saku.”

“Sudah, tapi masih menunggu pengumuman, Mar.”

“Oh. Hmm.”

“Tapi buat hari ini ada kok.”

“Oke, bagus. Tapi…” aku meraba laci meja dan mengangkat kotak, “biarpun ada, gak bisa nolak ini kan? Heheee. Roti sobek itu kesukaanku. Potong di tengah, nih.”

Aul tersenyum. Aku memperhatikan cara makannya. Dia selalu makan dengan tangan kanan. Satu hal yang berbeda dengan orang lain adalah kebiasaannya setelah mengunyah. Aku berkali-kali tertawa melihatnya sebab Aul seperti para juri di lomba masak atau presenter di acara makan. Mmmm!

“Mar, gak keluar? Nyari Lia gitu.” Dito yang membawa sekantung makanan duduk di belakang kami.

“Katanya kelas Fisika ditambah. Jam istirahat mereka cuma nanti siang.”

“Iyakah?”

“Makanya, Dit…” aku membalik badan dan tersenyum jahil.

“Apa?”

“Kalo suka, tuh, ya cari tau!”

“Paparazi, kali!” Dito bangkit dan berjalan keluar.

“Mar, ini bikin sendiri?” Aul menunjuk kotak makanku, “atau beli?”

“Mar, kalo temen baru disayang, temen yg lama jangan dibuang.”

Pintu berdebam tertutup.

“Dia kenapa?”

“Gak tau aku. Ngomong-ngomong, itu bikin sendiri, lebih sehat.”

“Oh, boleh minta lagi?”

“Iya. Ini.” Aku membuka tutup kotak.

Kami makan sambil diam. Badanku kuarahkan ke depan sambil melirik ke jendela kelas. Tadi dia kenapa, sih?

“Mar?”

“Apa?” Aku menjawab tanpa menoleh.

“Tadi itu Dito, teman kelasmu dulu, kan?” Aul memperhatikan sisa selai cokelat di jarinya lalu memakannya, “apa dia marah kita berteman?”

Aku tertawa.

“Mungkin dia sudah tau aku suka minta makananmu.”

Aku tertawa. “Enak, kan?”

“Dia tidak suka denganku, sepertinya.”

Meja kayu kuketuk dengan jari-jari. Aku malas menanggapi kekhawatiran Aul. Kupandangi jam dinding.

“Tapi, Mar, kalau boleh… aku pinjam ongkos pulang, ya.”

“Hmm.”

Dito masuk disusul Ketua Paskibra sekolah. Mereka bicara tentang acara minggu depan yang mengundang entah-siapa-itu. Kuperhatikan wajahnya. Begitu melewati Aul ia membuang muka. Ia duduk dengan rusuh di belakangku.

Selalu ribut ketika dia menunjukkan rasa tidak suka pada orang lain. Termasuk minggu depan ketika pelajaran selesai. Waktunya pulang.

“He, biasa aja!” Aku menghardik setelah membalik badanku.

“Apa!”

Kutunjuk tasnya. “Caramu merapikan buku, lebay!” suaraku lebih pelan.

“Mar makasih, aku duluan ya.”

“Iya, hati-hati.”

“Lebay apanya!” Dito mengangkat bangku hendak menyusunnya di atas meja.

BRAK!

“Kenapa, sih, Dit?!”

Yang ditanya tidak menjawab. Ia berjalan cepat keluar kelas. Aku meraih tas dan buku yang belum rapi lalu berlari menuju pintu.

“Dit salah Aul apa!” Aku berteriak tapi dia tidak berhenti.

Aku berlarian menuruni tangga. Sepertinya ini harus cepat diselesaikan. Kalau tidak, Dito akan menjadi menjengkelkan dan Aul akan tersudutkan.

Seseorang bersandar di balik gerbang sekolah. Aku berjalan cepat. Setiba di dekatnya, aku menggoyang gerbang.

“Jadi dia ngutang berapa hari ini?” Dito membalik badan. Kedua tangannya mengencangkan tali tasnya.

“Kenapa memang, Dit? Dia bakal bayar kok. Sudahlah.”

“Sudah, Mar?! Aku yang capek lihat kau dipinjami uang!”

Aku tersenyum. “Nah, itu dia salahmu, Dit. Kenapa harus marah, hah?”

Dito memegangi pagar. Dia marah. “Salahmu, Mar. Dia selalu dibantu, selalu minta ini itu terus dikasih. Bikin capek liatnya. Dia gak mau usaha sih.”

“Haih, cuma capek liat, toh. Ya sudaaah, jangan liat.” Aku memasukkan buku ke dalam tas lalu berbalik pergi, “kau yang gak pernah bantu dia kenapa jadi ribet.”

“Karena dia bikin susah! Temen baru gak seharusnya gitu!!!”

Oh, dia mulai menjengkelkan dengan teriakannya itu. Bukankah sudah jelas kalimatku tadi? Kenapa dia yang merasa keberatan?

Aku melanjutkan jalan. Dito memanggil beberapa kali bahkan sampai berteriak-teriak. Tidak lama, suara langkahnya yang pelan-pelan terdengar olehku. Biarpun marah dan bertengkar, dia tidak merasa enggan menumpang angkutan yang sama denganku seperti biasa.

“Cuma menolong, Dit. Jangan menghalangiku.” Kuraih tas dan segera turun di halte.

Senin pagi, Selasa pagi, bahkan hingga Rabu siang ini aku belum bicara apapun padanya. Tapi sikapnya pada Aul mengalami perubahan. Di setiap pertemuannya dengan Aul pasti terjadi penolakan secara terang-terangan. Ia akan mendengus jengkel dalam jarak yang bisa dilihat Aul lalu meliriknya dengan tatapan yang… mengejek?

“He, perhatikan tatapanmu!”

Dito berbalik, wajahnya datar. “Kenapa memang?”

Cepat sekali anak ini membuatku jengkel dan marah sekaligus. Hebat sekali!

“Dit biasa aja sih.”

Aul yang berdiri di belakangku mengamati pertengkaran kecil ini.

“Jadi manja dia, Mar, memang kau ibunya? Banyak orang yang bisa dipinjami selain kau, Mar.” Dito menatap lurus menuju arah di belakangku, “membantu itu ada batasnya, ya. Gak setiap waktu. Dan yang meminta juga tau diri, memangnya sudah kenal lama?”

Aku bingung meresponnya. Ini rasanya kesal dan sedih ditambah khawatir. Aku tidak mau menyebut nama Aul di sini.

Dengan memendam kesal, aku marah-marah sambil berbalik menuju kelas. Kutarik lengan Aul dan menyuruhnya segera duduk. Pelajaran bahasa yang kusukai tidak mampu menawar kemarahanku.

♦♦♦

“Hmm, pantas tadi dia tidak menyapa waktu lewat sini.”

“Huh, jangankan menyapa. Aku lagi menahan diri tidak minta bantuan apapun dari dia.”

Lia tertawa kecil. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kantin, “jadi kenapa Aul gak ke kantin? Tumben.”

“Dia di kelas. Capek nyalin Hiragana katanya.”

“Oh. Ya bisa juga sih karena males deket kau.” Lia berkata pelan.

“Apaan, sih? Kok bisa gitu?”

“Ya masuk akal lah. Di sini ada Dito. Kau juga ada. Ya kau tau lah maksudku.”

Aku terdiam.

“Biarpun kau gak pernah keberatan, Mar, gak ada yang tau itu. Namanya juga hati, siapa yang bisa baca? Lagian juga kita ini temen. Kalo bisa bermanfaat buat temen sendiri, why not?”

“Aku takut terhasut, deh, Li. Kenapa takut? Nih ya, dia selalu bilang tentang keberatan. Dia selalu bilang temen baru seharusnya gak begitu. Temen baru harusnya gak membuat kenalannya kesusahan. Li, aku mau terus bantu dia, kok. Tapi kendalanya itu ada di Dito yang terlalu apa ya? Dia marah sana-sini tapi gak pernah mau bantu. Dia gak suka aku membantu si dia atas dasar pertemanan sementara langkah nyata dia bantu itu gak ada, Li. Kasian juga dong, kalo orang yang minta bantuan selalu dibilang manja, gak mandiri, apalah itu. Sekarang aku mulai capek, sih. Tapi harus ada cara—“

Tuk tuk tuk.

“Li masih mau dengerin gak!” Aku ketus. Terbawa suasana, dudukku menjadi tegak dan tanganku hampir menggebrak meja kantin.

“Iya, Mar, aku denger. Ngerti kok maksudmu.” Lia menunjukkan layar ponselnya padaku.

Cepat kuraih benda itu. Di layar terlihat Lia sedang mengakses sebuah situs. Banyak foto di dalamnya.

“Dulu, waktu belum kenal baik sama kalian, aku mengalami beginian. Yaa, malah aku yang bertindak kayak Dito. Aku jengkel diminta bantuan terus. Hmmm… rasanya kayak gimana ya? Tunggu.” Lia masih bersandar dengan santai.

“Aku dulu gak suka diminta bantuan karena… capek. Aku pikir masih banyak yang mau bantu, kenapa harus aku? Em, aku gak usah sebut orangnya ya Mar. Pokoknya aku marah ke dia dan saat puncak marah itu ada, kata-kataku seperti orang mengusir. Hmm… pakhirnya, aku gak sengaja memilih buku yang menusuk sampai sini.”

Lia tertawa pelan.

“Menolak menolong orang itu tanda orang lemah.”  Tangannya menunjuk ponselnya.

Suara kantin masih ramai terdengar. Tapi meja ini tiba-tiba sunyi. Lia berhenti bicara sementara aku memandang dalam-dalam foto buku itu.

Bagaimana bisa?

Aku tidak tau itu.

Aul hanya butuh dibantu, maka kuberi bantuan itu. Aul hanya perlu beberapa kali pinjaman uang untuk pulang, untuk makan, entah untuk apa lagi. Kenapa aku merasa lelah?

Apa aku akan jadi orang yang lemah?

 


16:04
29 Juni 2017

Dua Simpul

[10.56]

Harusnya liburan ini tidak diisi dengan pulang ke rumah. Tetap di asrama, memenuhi buku agenda dengan aktivitas seputar asrama. Atau bisa juga memenuhi target-target di awal April yagn sempat tertunda, ini kan masih ada satu-dua hari menjelang bulan baru. Tapi berita itu mengubah rencana matangnya yang sudah rapi tadi. Membungkus cucian, menumpuk jemuran kering dalam lemari. Jarak 50 km Bogor-Depok harus bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

 

[11.10]

Harusnya sekarang saatnya menonton film yang direncanakan dengan teman sekelasnya. Baru setengah jam yang lalu ketika keluar dari gedung kuliah itu direncanakan. Baru tadi di warung makan bicara tentang film apa yang naik daun. Kesempatan saat anak Jabodetabek pulang, wifi melaju di jalan tol. Tapi berita itu membuat rencana berubah. Menonton film akhirnya harus tanpa satu orang.

 

[11.28]

Commuter line sedang sepi karena ini di stasiun ujung. Tempat duduk yang empuk sanggup menghibur hatinya yang dilanda sunyi. Lima menit berjalan, badannya miring karena gerbong mulai bergerak. Mengedarkan pandangan lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Di MAN 7 tempat kita bertemu
Ku tak ta(h)u siapa dirimu
Lambat laun berputar roda waktu
Pada akhirnya kaulah temanku

~
Kita memang beda kelas
Tapi kita satu alas

~
Pada akhirnya kita ‘kan pisah
Ingatlah kita pernah bersama

 

[11.56]

Ia pernah berpikir bahwa sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Satu dekade adalah rentang yang sempit sehingga ia pasti akan berjumpa lagi dengan mereka yang dulu mengisi lima hari dalam satu minggu miliknya. Maka ketika pelepasan ia sanggup melambaikan tangan memberi salam perpisahan pada mereka semua. Ia bisa tertawa dan berfoto. Toh setelah sepuluh tahun, atau anggap saja tiga tahun setelah kelulusan, sebuah reuni akan melengkapi. Ia yakin.

Harusnya reuni di tempat makan atau di sudut taman yang mengundang kita, begitu yakinnya. Baginya reuni itu dekat tanpa tahu ada yang lebih dekat dari itu: kepulangan.

 

[12.00]

Jalan ini dulu tiap pagi ia lewati dengan berlari kecil atau berjalan cepat karena sering kesiangan. Ramai bocah-bocah yang jajan di sekitar kadang menyulitkan langkahnya. Tapi ini Sabtu dan siang hari menjelang dzuhur, jadi jalanan ini seperti miliknya, bersih dari penjual maupun apa yang sering mengisinya. Gerbang hijau tinggi di tikungan depan sana membisu seperti menunggu disapa.

Ia berdiri di sana memandang gerbang itu. Tidak perlu penjaga sekolah membukakan pintu, toh dia hanya berdiri saja. Dia hanya ingin memberi kabar bahwa akan ada reuni siang ini.

 

[12.13]

Ternyata reuni itu memang dekat, tidak perlu menunggu tiga tahun kelulusan atau sepuluh tahun. Ternyata hal yang tertinggal disadari adalah ada reuni dalam sebuah perpisahan. Dengan begitu, perpisahan lebih dekat daripada sebuah reuni.

Sebentar lagi kami akan reuni. Ya, reuni untuk mengantar kepergian salah satu dari kami. Pertemuan itu ada, bahkan bisa menjadi reuni. Sebab yang jauh-jauh datang ke sini. Yang berbeda adalah suasananya. Ini adalah reuni untuk sebuah perpisahan.

Lagi, yang kedua kali di bulan yang sama. Berita itu berwarna duka. Memang umur tak ada yang sanggup mengira-ngira. Termasuk mereka yang satu usia. Mereka yang dulu pernah putih abu-abu bersama. Mereka yang pernah berfoto bersama. Sekolah ini mampu bercerita tentang kami yang pernah satu alas.

Sekarang, bukan senyuman, jabat tangan, atau hadiah yang akan sampai pada mereka melainkan doa. Doamu, doaku, doa kita. Semoga disampaikan pada mereka.

 

[12.20]

Langkahnya menuju rumah pelan meski matahari membuat telapak kakinya terasa panas. Ia menggenggam catatan kecil yang satu kertasnya diselipkan di celah gerbang sekolah tadi.

Untuk Akredigas yang kehilangan dua simpulnya.

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Akhir)

Kulihat pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya. Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Aku mulai panik. Tidak, tidak, aku panik sejak tadi. Sekarang bahkan semakin panik!

“Mar, larutan ini jangan dipindah.” Agung berkata padaku dan meletakkan sesuatu di dekatku.

“Hm, ya.” Aku menolehnya sekilas lalu kembali menatap tabung tadi yang sudah kusimpan rapi. Tabung itu berjejer bersama tabung lain yang “normal”. Jika dilihat sejauh ini tidak terlihat sama sekali bekas pecah di mulut tabung. Aku memutuskan melupakannya.

Bukankah tadi tidak ada pecahannya di manapun? Aku bahkan tidak tahu apakah itu benar-benar pecah karenaku. Aku, kan, tidak mungkin mempertanggungjawabkan apa yang belum tentu kulakukan! Aku melirik sekitar yang terus sibuk mengerjakan perhitungan asam basa lalu berjalan perlahan menuju tempat Nofi berdiri.

“Mar, tadi apa yang jatuh?” Pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Lama dia menunggu dan aku belum merespon.

Satu menit, aku menyesali kejadian itu. Dua menit, aku bingung apakah benar aku yang memecahkannya. Tiga menit, aku takut harus mengganti dengan yang baru. Menit-menit berikutnya penuh kepanikan. Okelah, aku yang membuatnya jatuh. Mungkin karena tanganku licin. Tapi hanya menjatuhkan, kok, sungguh!

“Em.. itu, tabung reaksi yang habis dipakai Agung… eh, kamu, Nof.”

“Oh begitu. Kenapa tidak kamu ganti?”

Kedua kalinya, pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Aku juga terkejut dia bisa tahu tabung reaksi itu pecah.

“Apa?”

“Kaubilang ‘apa’? Kau pasti tahu apa maksudku!” Suaranya meninggi dengan wajah yang memerah. Hei, mengapa ia menjadi begini?

“Kenapa harus menggantinya, Nof? Aku, kan, tidak sengaja. Lagi pula aku tidak sampai membuatnya hancur.”

“Ha! Begitulah jahatmu! Memangnya kaupikir hanya alasan hancur kau harus menggantinya, hah? Pikir, Mar, pikir! Bahkan dengan pecahan sekecil itu kamu sudah mengubahnya. Kamu tahu artinya? Tabung reaksi itu tidak seperti semula.”

“Apa katamu? Omong kosong, Nofi! Aku hanya mengubahnya sedikit! Dan jangan kamu keraskan suaramu, bisa-bisa seisi laboratorium ini menuduhku.”

“Janganlah takut dituduh, Mar, karena kamu benar-benar orang yang harus bertanggung jawab!”

Asisten praktikum kami yang berdiri tidak jauh dari Nofi menoleh ke arahku dan Nofi. Mungkin karena ia mendengar kata tanggung jawab. Ia berjalan menuju tempatku berdiri.

“Ada apa, mengapa ribut di sini?” Aku bertambah panik begitu mendengar pertanyaan yang berpotensi mengusir seperti itu.

“Dia, Kak, salah satu mahasiswa pengejar IPK tinggi ini memecahkan itu.” Nofi menunjuk tabung reaksi yang sudah rapi dalam raknya.

“Saya tadi tidak sengaja, Kak. Pecahannya tidak bisa saya temukan. Mungkin memang sudah pecah dari awal.”

Kakak Asisten terdiam mendengarku. Dibetulkannya kerudung biru miliknya lalu menarik napas dalam. “Kamu… kamu pikir saya bisa percaya dengan kata-katamu? Bahkan kamu masih menggunakan kata ‘mungkin’. Kamu bahkan tidak yakin orang lain yang memecahkannya, bukan?”

“Iya, Kak, dia hanya beralasan. Ah, mahasiswa macam apa yang hanya mengejar nilai di atas kertas, ya?” Novi mencondongkan wajahnya ke arahku. “Orang yang hanya mementingkan nilai-nilai adalah orang yang egois! Kamu pikir kejujuran tidak penting? Kamu pikir bisa melenggang pergi dengan tenang bila tabung reaksi di sana itu meringkuk dalam hatimu?”

“Omong kosong semua nilai jika kamu tidak mementingkan integritas, Mar. Kamu akan jadi sampah. Dan kamu tahu, kan, seperti apa sampah itu? Tidak berguna.”

Kakak Asisten terkejut mendengar ucapan Nofi. Terlebih aku yang menjadi sasarannya, hatiku hancur. Merasa tidak cukup, Nofi melanjutkan kalimatnya.

“Kamu sudah mengeluh padaku tentang nilai Kimiamu yang seperti ini.” Nofi membuka telapak tangan kanannya menunjukkan angka lima, “apakah sikapmu akan seperti ini juga, Mar? Bernilai jelek? Kamu adalah orang paling payah yang pernah kukenal jika kamu lari dari tanggung jawab. Pun jika nilaimu sudah A nanti, memangnya kenapa? Hei peraih nilai A, apakah kamu tidak malu sudah pernah bersembunyi dari tanggung jawab?”

Aku tepekur memahami kalimat Nofi yang memenuhi kepalaku. Kata-katanya menyayat nilai Kimiaku juga hatiku yang rapuh. Ingin rasanya semua kembali seperti semula. Ingin rasanya tangan ini memutar mesin waktu, mengembalikan waktu ke dua jam yang lalu saat aku beranjak dari duduk menuju wastafel. Atau mengulang tadi pagi, mungkin aku bisa izin ke toilet agar lebih lambat menuju laboratorium, dengan begitu peristiwa ini bisa bergeser sehingga tidak pernah terjadi. Bisa juga kuputar menuju waktu tiga bulan lalu, mungkin aku bisa menolak kampus ini, dengan begitu aku tidak akan mengalami ini. Aku juga bisa mengatur agar tidak lahir di tahun 1998, dengan begitu aku tidak akan ada di sini. Tapi itu semua pengandaian yang tidak bisa terwujud. Aku menghela napas panjang. Bukan karena mahal, melainkan karena menyadari betapa kikir dan menyedihkannya diriku. Ternyata selain tidak pandai Kimia aku juga tidak berakhlak baik.

Puk! Nofi memukul bahuku pelan.

“Kenapa kamu malah melamun?” Wajahnya bingung, “wajahmu berubah menjadi sedih, memangnya tadi apa yang jatuh?”

Aku segera tersadar dari lamunanku. Kuberikan senyum yang lebar padanya tanda terima kasih telah bertanya. Kusuruh ia minggir.

“Permisi dululah, Nof, aku harus bicara dengan Kakak Asisten.”

“Hei, memangnya apa yang terjadi?” Pertanyaan Nofi tidak sempat kujawab. Aku berbalik mengambil tabung reaksi tadi lalu berjalan ke arah Nofi kembali, lurus lagi, dan melewatinya. Meskipun dengan wajah yang menuntut penjelasan, ia tetap diam melihatku melaluinya.

Kulihat Kakak Asisten sedang menulis sesuatu di papan tulis kecil. Kuhampiri ia dengan perlahan.

“Kak… maaf saya baru saja menjatuhkan tabung reaksi,” suaraku menciut, “jadinya begini, pecah ini-nya, Kak.” Aku menunjuk pinggiran tabung reaksi. Jika saja Kakak Asisten fokus pada tanganku, ia pasti melihat jari telunjukku gemetar tidak terkendali.

Kakak Asisten menatapku dan menjawab datar, “Saya sarankan kamu tanyakan ini pada Bapak Penjaga Laboratorium yang sedang duduk itu.” Ia menunjuk seorang bapak yang duduk berbincang dengan petugas kebersihan. Bapak itu duduk bersila di atas kursi di luar sana.

Dengan memantapkan hati, aku berjalan. Tabung reaksi harganya tidak akan melebihi biaya makan dalam sehari, kan? Pastilah begitu!

Ya, tidak akan semahal itu. Kalaupun mahal, bukankah itu salahmu juga, kan? Terima saja, masalah selesai.

Kau benar, ini akan cepat selesai. Aku rela, kok, beli lagi. Ini saja aku sedang berjalan mengakui kesalahan. Aku tidak akan malu lagi.

Ah, Sang Nurani memang paling bisa diandalkan. Ia memang menyalahkanku. Lalu mau apa? Aku memang salah. Kulihat bapak yang dimaksud oleh Kakak Asisten heran melihatku datang mendekat. Aku mengumpulkan nyali untuk mulai bicara.

“Pak, ini pecah ini-nya saya jatuhkan tadi,” kata-kataku tidak karuan.

Aku memperlihatkan tabung reaksi tadi, “Harus diganti, Pak?”

Beliau mengamati dengan cepat dan menyimpulkan sesuatu di luar dugaanku, “Letakkan saja kembali.”

Eh tunggu, apa maksudnya?

“Pak, tidak perlukah diganti?”

“Tidak usahlah, itu masih bisa digunakan.” Jawaban singkat yang begitu menarik!

Aku segera pamit dengan baik dan berterima kasih. Aku balik badan lalu tersenyum-senyum sendiri. Rasanya senyum ini yang paling lebar selama aku hidup. Aku seperti mendapat hadiah yang indah, paling indah sekaligus lucu. Kubuka pintu laboratorium dan meletakkan tabung reaksi kembali pada raknya. Lucu juga, sih. Bagaimana bisa tadi aku berpikir untuk melarikan diri? Bisa jadi hidupku tidak tenang setiap kali memasuki laboratorium Kimia. Aku mungkin akan takut sekali menyentuh tabung reaksi. Lalu yang terburuk adalah tabung reaksi itu bersemayam di otakku, menghantui hatiku, dan ujungnya membuatku sulit bernapas.

Aku lega. Hatiku cerah tidak lagi terisi perasaan yang tercampur aduk seperti beberapa menit yang lalu. Tangan ini terasa ringan.

“Mar, bagaimana?”

“Ya begitulah, Nof.”

Bagiku peristiwa ini adalah pembuktian. Aku telah menunjukkan, entah pada diriku sendiri atau pada siapalah-itu bahwa aku telah memiliki kategori. Kawan, tahukah kamu kategori mahasiswa apa yang kupilih? Aku baru saja menjadi mahasiswa dengan kategori jujur. Aku bahagia.

Orang-orang cerdas memang harus diperbanyak, tetapi jangan pernah lupa menjadi orang jujur, Kawan. Aku bicara begini sebab aku telah merasakannya. Baru saja!

Semester ini aku harus mengejar ketertinggalanku, harus memperbanyak jam belajarku. Namun kejujuran tidak bisa diganggu keberadaannya, bukan?

Rasanya ingin aku bicara dengan tabung reaksi itu, mengajaknya tertawa sebentar. Aku bahagia sekali hari ini.

Tamat


Tabung Reaksi dalam Hati dibuat karena ada lomba dalam IIF 2016 yang diselenggarakan oleh LDK Alhurriyah IPB 😀 Cerita ini diikutsertakan dalam kategori cerpen. Motivasi karya yang sebenarnya adalaaaah supaya penulis bisa ingat terus peristiwa hidupnya. Mumpung pelajaran di baliknya sangat berharga 🙂

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Awal)

 

Ini Kamis. Aku bangun lebih awal menanti waktu shubuh. Belum beranjak dari atas tempat tidur, aku menatap lurus ke arah jendela. Langit masih gelap di sana. Tentu saja, bahkan fajar belum menyapa bumi. Dari dalam kamarku terdengar suara ribut langkah kaki di lorong-lorong. Juga suara ember yang digeser—karena terlalu berat diangkat. Di ujung-ujung lorong, dari kamar mandi yang berjejer, terdengar suara air dari keran yang sepertinya dibuka penuh. Biarpun belum pagi, keadaan di sini jarang sekali dingin. Walaupun kelihatannya di sini belumlah kota, masih banyak sawah, aku bisa dengan santai mandi di saat seperti ini. Dua bulan lalu saat masa pengenalan kampus bahkan aku mandi satu jam sebelum waktu shalat shubuh.

Aku senang bangun lebih awal. Andai aku bisa bicara pada puncak gunung Salak yang terlihat dari jendela kamarku, aku akan setiap hari menyapanya, bertanya apakah ia senang kusapa lebih dahulu daripada mentari. Secepat apa aku bangun itu menentukan tingkat kebahagiaanku dalam menjalani satu hari itu. Karena aku senang menanti fajar tiba di langit. Fajar yang menyapa bumi selalu bisa membuatku ikut tersenyum. Fajar menjanjikan banyak kemenangan untukku.

Lima menit setelahnya fokus pandanganku berubah. Kini aku memandang pantulan diri sendiri di kaca jendela. Menatap diri sendiri, terlintaslah masalah-masalah yang menimpa. Selama seminggu ini aku dijadwalkan menerima hasil ujian tengah semester. Itu adalah ujian perdanaku di tempat yang baru. Ujian pertamaku sebagai mahasiswa calon sarjana pertanian dan ujian pembuka bagiku sebagai pelajar yang jauh dari orangtuanya. Sampai hari ini nilai-nilai itu membuatku tepekur. Apalagi nilai Kimiaku. Tidak perlu bingung jika ingin tahu berapakah itu. Cukup dengan menghadap jendela, angkat tangan kanan lalu buka telapaknya. Begitulah nilaiku.

Aku sempat menangis—dalam hati—begitu menyadari nilai Kimiaku jauh dari yang kuharapkan. Ah ya, aku juga merasa menyesal. Seharusnya aku menyempatkan diri begadang jauh-jauh hari sebelum ujian. Aku mengeluhkan itu pada Nofi. Aku tahu bahwa nilainya lebih tinggi dua angka dibandingkan nilaiku. Firda kuberitahu bahwa nilaiku tidak termasuk dalam “A”, bahkan jauh. Agung kutanya tentang nilainya. Ia meraih nilai Kimia tertinggi di kelas, empat angka di atas nilaiku. Begitulah teman-kelas baruku.

Tidak diam diriku mendapati nilai Kimia yang demikian parah. Aku bertekad ingin duduk paling depan selalu saat kuliah Kimia. Aku juga ingin menjadi mahasiswa yang baik saat praktikum di laboratorium.

Praktikum siang ini telah kupersiapkan dengan baik. Maksudku, aku telah membaca panduan praktikum dengan saksama. Aku juga sudah memeriksa perlengkapan yang harus dibawa saat praktikum. Sempurna! Aku semangat.

Saat praktikum, aku bergabung dengan sepuluh orang teman kelas. Termasuk di dalamnya Nofi dan Agung. Kelompok E, begitulah namanya. Hari ini judul praktikum kami yaitu asam basa. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aku harus bekerja dengan tiga orang, sementara yang lain juga bertiga atau berdua. Asam basa menurutku adalah materi Kimia yang sulit tetapi menyenangkan. Kami belajar menggunakan pH meter. Cukup mudah ternyata, sebab kami hanya harus mengganti larutan yang akan diukur tingkat keasamannya. Alat itu yang akan memberitahu nilai pH larutan, lalu kami simpulkan, asam atau basa.

Menjadi mahasiswa di tempat yang jauh dari orangtua menjadi tantangan bagiku. Aku bertemu orang-orang dengan semangat tinggi, contohnya Firda. Ada pula mereka yang sangat tulus dalam membantu, contohnya Nofi. Juga ada yang begitu jenius, Agung misalnya. Entahlah, aku tidak tahu pada kelas mana diriku. Aku bahkan mulai berpikir aku bukan bagian manapun dari sistem klasifikasi mahasiswa perguruan tinggi. Tidak, aku bukan putus asa, Kawan. Aku hanya mulai mengukur diri sendiri, di golongan manakah aku pantas berdiri. Ah, baiklah, aku terlalu banyak membicarakan perasaan. Bukankah ini di laboratorium, tempatnya orang bergerak cepat dan rapi?

Teman-teman di kelompokku begitu lincah. Begitu lincahnya, aku sampai harus berdiam diri karena tidak tahu lagi harus mengerjakan apa. Sebagian besar pekerjaan dan langkah kerja telah diambil alih oleh mereka. Ya, mungkin hanya tersisa mencuci alat-alat yang butuh sukarelawan. Tidak selalu begitu, tapi kali ini seperti itulah yang terjadi. Aku menunggu beberapa alat yang harus segera dibersihkan. Kusiapkan sikat kecil lalu aku bergegas menuju wastafel.

Nofi tiba di dekatku membawa gelas piala dan rak tabung reaksi beserta isinya. Dia pergi melanjutkan bermain pH meter sementara aku harus bermain air ditemani tabung reaksi dan gelas piala. Lalu persis ketika tangan kiriku membalikkan salah satu tabung reaksi agar larutan di dalamnya keluar, benda itu lolos dari peganganku. Inilah yang ditakuti semua orang yang masuk ke laboratorium!

Trang!

Benda kecil yang rapuh itu jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi yang menyayat saku mahasiswa! Paham, kan? Ya, resiko mengganti yang baru, Kawan!

“Aduh, hati-hati pecah!”

Beberapa teman di ruang laboratorium menoleh padaku memperingatkan. Beberapa yang lain hanya menatapku sekilas, mungkin artinya kasihan. Ada pula yang bertanya-tanya, apa yang terjadi?

Aku tersenyum menanggapi tetapi merasa panik. Kulirik tabung reaksi itu masih utuh saja setelah jatuh. Aku melambaikan tangan pada mereka, juga pada Nofi yang berada di ujung sana yang tadi terkejut dan menoleh padaku. Tidak apa-apa, lanjutkan saja kerja kalian.

Ya, tidak apa-apa. Tabung reaksi ini, kan, masih utuh. Kulihat sekelilingku yang kembali sibuk dalam praktikum. Aku mengambil tabung reaksi itu perlahan dan meletakkannya di atas rak tabung reaksi. Kulihat sekelilingku. Biasanya setelah terdengar suara peralatan laboratorium yang jatuh maka orang-orang akan berkumpul. Namun tidak saat itu. Entahlah, mungkin karena tabung itu tidak sampai hancur. Aku memeriksa kembali, benarkah tabung reaksi itu baik-baik saja?

Saat memeriksanya, tidak ada yang berubah.  Tabung itu baik-baik saja setelah jatuh, tidak ada cacat… Tunggu! Aku terkejut. Tanganku tiba-tiba gemetaran.  Jangan lihat wajahku, pastilah sudah pucat. Aku panik. Pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya.

Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Pecah tapi tidak ada bukti pecah. Bagus!

Aku bertambah panik.