Sapaan Pertama dari Kewirus

Ini hari Senin. Sudah lewat sesi uts, berarti di awal minggu tidak lagi kuliah dimulai jam satu siang tapi jam delapan pagi. Ada mata kuliah Pengantar Kewirausahaan. Mau bahasa gaul? Ada. Sebut saja Kewirus. Ini bobotnya dalam sks cuma satu. Biarpun begitu, sama seperti Pengantar Ilmu Pertanian, semua orang di semester satu wajib memiliki.

Pengusaha itu banyak, tapi wirausaha bisa jadi sedikit. Yang membedakannya adalah inovasi. Bertahun-tahun berjualan dengan hal-hal yang sama adalah pengusaha. Tapi wirausaha adalah yang melakukan perubahan.

Pak Lukman masuk kelas setelah tilawah selesai. Setelah membacakan kontrak perkuliahan di awal, beliau membicarakan tentang kewirausahaan. Saya pikir itu mudah dan membosankan. Tapi sepanjang kelas tadi saya merasa tertarik. Itu karena yang dibicarakan Pak Lukman banyak tentang pertanian. Pertanian…

Saya tahu kampus ini adalah kampus pertanian. Semakin tua saya di sini juga semakin sadar saya bahwa sebenarnya tujuan terbesar adanya pendidikan di sini salah satunya adalah agar tumbuh jiwa wirausaha. Bukan sekadar tumbuh, deh, berkembang dan hidup juga. Bagaimana saya tahu itu? Jawabannya ada di slide yang tadi ditunjukkan Pak Lukman.

Menurut saya menjadi mahasiswa pertanian itu sulit. Saya bahkan bingung, haruskah bangga menjadi bagian darinya? Alasannya adalah seperti istilah yang dilontarkan Pak Lukman, yaitu moral obligation. Saya –dan seluruh mahasiswa pertanian– harus setia karena ada kewajiban moral yang secara tidak kasat mata melingkari tangan, kepala, bahkan kaki.

Akhirnya di tengah kuliah kejadian dulu ketika saya memilih jurusan melintas lagi. Kenapa saya begitu senang dan tertarik dengan pertanian? Karena dulu ada kalimat yang mengikat mata membacanya, menarik hati merenunginya: Kalau bukan kita yang mengurusi pertanian, siapa lagi?

Sederhana, iya, sederhana dan klise untuk tidak bilang itu terlalu umum dan samar sebagai sebuah mimpi. Pak Lukman tadi membahas tentang pentingnya setiap orang berpikir untuk menjadi seorang job creator. Pastinya harus tetap memperhatikan peluang-peluang di bidang pertanian.

Indonesia pasti akan mencapai masa hebatnya ketika wirausaha melebihi angka di atas dua persen dari seluruh penduduknya.

Awal yang baik minggu ini, Kewirus menyapa kelasku mengingatkan lagi tentang pertanian.

Xenofili

bahasbahasa


 

Xenofili /xe·no·fi·li/ /sénofili/ n orang yang tertarik kepada hal-hal yang berasal dari luar negeri (gaya, tata cara, dan sebagainya)

 

Satu kali saya lagi mencari info lomba menulis. Tapi ada itu yang menarik.

Saya baru tahu ada istilah ini, istilah untuk orang yang begitu tertarik pada hal-hal tentang luar negeri. Pertanyaan yang muncul adalah… apa orang seperti itu positif atau negatif? Atau bahkan netral saja sifatnya?

Orang yang tertarik pada satu hal cenderung membandingkannya dengan apa yang dia miliki atau alami. Baiknya sih, setelah membandingkan itu cepat bertindak, tau posisi dan keadaan sekitar. Maksudnya, ya… kalau tertarik pada luar negeri yang terlihat bersih jalanannya dan keren lingkungannya harusnya bertindak. Ingatkan orang sekitarnya untuk jaga kebersihan.

Eh, apa saya juga termasuk xenofili?

#bahasbahasa
Sumber

Daskom Mengakhiri

Ini bulan April. Sejak tanggal enam hari Kamis lalu makhluk-makhluk PPKU melaksanakan ujian tengah semester. Ujian ini biasanya disebut ujian sesi UTS. Bisa mencakup lima bab materi, enam bab, atau tujuh bab. Berbeda sendiri itu ya Landasan Matematika. Sesi UTS-nya hanya meliputi tiga bab yang saya akui memang wajarlah tiga.

 

102_0030

UTS kedua. UTS bulan April. UTS bersamamu, T03.

 

Hari ini terakhir ujian bagi departemen AGH angkatan baru. Di saat orang di departemen lain masih harus memikirkan strategi untuk menaklukkan slide memahami materi, kami–PPKU departemen AGH–hanya harus memikirkan: strategi menghemat uang jajan. Itu karena libur lima hari sudah dimulai sejak kami selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian Dasar-Dasar Komunikasi.

Tadi siang tepatnya jam dua belas saya merasa lega dengan ujian. Selesai sudah. Daskom, begitu singkatan Dasar-Dasar Komunikasi, menjadi penutup rangkaian ujian. Seharian sebelumnya saya memahami apa itu persepsi. Ehm, sebenarnya tidak dramatis, hanya saja karena banyak interupsi, jadinya itu saya sebut seharian. Jadi… persepsi (bukan presepsi) adalah proses pemberian makna.

Persepsi adalah cara memberi makna. Wenburg & Wilmont

Hal lain seperti simbol verbal dan non verbal juga dipelajari dalam Daskom (tadinya saya tidak setuju dengan sebutan itu, tapi lama-lama seru juga menyebutnya). Selama sesi UTS ini mata kuliah yang dianggap oleh orang sekitar saya tidak relevan dengan AGH sering membuat saya terkejut. Bagaimana bisa?

Begini ceritanya. Saya pernah berbicara pada teman saya dan itu menceritakan sesuatu yang penting. Saya, katanya, bicara dengan lambaaat sekali. Bukan seperti lambat yang normal, tapi karena telat mikir, begitu katanya. Dan apa yang saya dapat dari belajar Daskom? Ternyata ketika berbincang dan saya terlambat merespon atau sulit menemukan kata yang tepat adalah karena selama pembicaraan saya sibuk mengeksplorasi pikiran saya sendiri. Saya tidak fokus menangkap pesan pengirim tapi malah sibuk dengan diri sendiri. Oke, saya mengakui itu. Saya bahkan berpikir bahwa saya ini adalah tipe orang yang dalam komunikasinya sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Melalui Daskom juga saya seperti dinasehati bahwa sebaiknya jika berada dalam keadaan terdesak atau terburu-buru lalu ada orang yang mengajak berkomunikasi, sebaiknya ungkapkan bahwa kita–atau lebih tepatnya saya–tidak punya waktu untuk berbincang dan mendengarkan. Itu lebih baik daripada berpura-pura mendengarkan. Hmm, saya sering begitu, pura-pura mengerti dengan menganggukkan kepala. Aduh…

Saya ini tipe orang yang dalam berkomunikasi sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Pada akhirnya, saya mendapat manfaat belajar Daskom. Hei, ini bukan testimoni yang harus dikumpulkan dalam kelas responsi untuk mendapatkan nilai. Ini sungguh untuk membuktikan bahwa Daskom itu penting, bahkan bisa jadi untuk semua departemen di sini 😀 . Bagaimana bisa seseorang berkomunikasi dengan baik jika tidak mengerti apa saja yang bisa menjadi gangguan dan hambatan? Ini sekaligus sebagai pembelaan pada mereka yang berkata bahwa departemen Agronomi dan Hortikultura belajar Daskom untuk mengajak bicara para tumbuhan. Lawakan macam apa itu? Hahaha.

Saya ingat di awal belajar Daskom di kelas kuliah, dikatakan bahwa banyak sekali riset yang telah dilakukan mahasiswa maupun kalangan akademisi lainnya. Tapi kuantitas bukanlah tujuan utama. Manfaat apa yang dapat dirasakan manusia dari hasil penelitian, itulah yang menjadi tujuan. Bagaimana menerjemahkan skripsi berbahasa ilmiah pada orang awam? Komunikator, merekalah tonggaknya. Mereka orang-orang yang mampu menjadi jembatan, menerjemahkan skripsi dan penelitian menjadi sebuah pemahaman yang sifatnya umum, dapat dipahami oleh siapa saja.

Masih berpikir ilmu itu ada yang sia-sia? Ilmu hitam kali.

Salah Fokus

PPKU semester kedua. Selamat tinggal Kimia dan sampai jumpa lagi Biologi. Sekarang, maksudnya di semester ini, saya harus menyapa Fisika dan bertatap muka dengan Matematika. Gak takut, buat apa, toh sudah pernah kenal sebelumnya. Cuma canggung karena beberapa ‘jalan pintas’ sudah saya lupakan, hehe. Rumus-rumus itu… sudah menguap.

Semester ini isinya juga Sosiologi Umum yang disebutnya Sosum, juga Ekonomi Umum yang dibilang Ekum. Datanglah mari, masih ada segudang singkatan yang geleng-geleng kepala dengarnya. Karena unik.

Jadi kemarin siang Sosum menyapa. Saya mengantuk, tapi mau serius. Bahasannya tentang interaksi sosial. Syarat & bentuknya. Sampai di pembahasan tentang toleration.

Toleration. Apa artinya? Perdamaian tanpa persetujuan.

Jadi ingat. Dulu kalo musuhan sama adek mulut ini selalu yang paling aktif. Iya, yang paling cepat bereaksi. Doi gak mau kalah. Bukan bersuara lebih kencang, tapi lebih sengit kata-katanya. Ibarat mobil tercepat di dunia yang ramping, enteng, tapi menusuk hahaha. Begitulah. Karena sama-sama perempuan mungkin.

Mirisnya, bukannya menjadi kakak yang baik, saya malah berjanji dalam hati. Sampe besok gak mau ngomong sama dia, titik. Tau apa yang terjadi? Saya selalu tidak bisa menepatinya. Janji yang konyol karena kita serumah, sekamar, sekasur, dan lahir dari rahim yang sama. Mana bisa?

“Aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah ini adalah simbol kesetiaan. Artinya, keluarga adalah segalanya. Mereka boleh jadi bertengkar dengan saudara sendiri, tidak sependapat dengan sepupu sendiri. Tapi ketika datang orang asing, musuh, mereka akan bersatu padu, melupakan semua perbedaan. Kesetiaan adalah segalanya.” (Tere Liye: Pulang)

Yang ada mah saya tiba-tiba sudah bicara hal lain, cerita macam-macam. Atau dia yang duluan tanya-tanya tentang apapun. Bisa juga tiba-tiba ketawa, entah saya yang duluan atau dia. Bisa gara-gara mesin cuci, lucu-lucuan sama Mamak di dapur, atau acara apa saja di tv.

Mungkin karena sudah dua minggu gak pulang, dua minggu itu juga gak pernah ngobrol sama adek, hahaha. Berdekatan tapi musuhan, berjauhan eh dipikirkan 😀 .

Ini awal Maret. Dia beberapa bulan ke depan sibuk persiapkan ujian akhir di mts. Ucapan dari Bogor semoga bisa semangati bulan-bulan ribetnya.

Jangan salahkan
jarak yang menjauhkan
pun genggaman dan curhatan
yang gagal menenangkan

cukup pastikan
doa selalu kaupanjatkan

Yang Pergi

Ini larut malam dan sedikit lagi tengah malam. Bogor, seperti biasa dalam dua minggu terakhir, malamnya dingin. Kondisi yang bagus untuk tidur, terutama bagi anak asrama yang baru saja selesai menonton pembukaan acara yang besar.

Bukan saya.

Beberapa jam lalu waktu acara pembukaan terdengar sampai asrama, saya di tempat yang sama sejak pulang dari kelas terakhir: kamar. Cuma keluar untuk cuci baju dan mandi. Masuk lagi. Bikin apa? Makan. Pie susu dari Bali.

Jadi ingat. Kemarin waktu libur panjang di rumah, pagi-pagi ada orang depan rumah, tetangga baru maksudnya, bawakan sekotak pie susu. Sebagai bentuk ramah tamah. Untuk berkenalan. Masuklah pie susu itu ke dalam lemari makan.

Hai pie susu, sudah lama saya mau makan kamu.

Berhubung liburan sudah hampir habis, saya ada ide untuk minta jatah pie susu untuk stok di asrama. Wah, stok? Padahal cuma ada sepuluh biji pie susu di sana. Tapi namanya sangat-ingin-sekali, ya akhirnya saya yakin, mau bawa pie susu.

Ternyata ada adek. Sepupu juga suka. Makanlah mereka. Dan dipikir lagi, ternyata tidak enak sembunyikan, timbun, bahkan selundupkan makanan kita dari orang lain. Apa yang saya bawa kembali ke asrama?

Tempe saja deh Ma.

Iya, tempe akhirnya. Pie susu selamat tinggal. Lain kali pastilah saya bisa makan kamu, entah di mana itu, hahaha. Lagian juga kamu cuma pie susu kok.

Satu bulan, saya lupa pernah mau sekali makan pie susu banyak-banyak. Saya lupa pernah merelakan pie susu yang ada di ‘hadapan mulut’. Teman selorong tiba-tiba bilang dia dapat kiriman pie susu dari bude di Bali. Sesudah habis yang ditawarkan tadi, saya datang lagi, tanya, kapan harus dihabiskan mengingat tanggal kadaluarsa kue itu. Ngobrol sebentar di lorong, karena mau cepat dihabiskan, beberapa pie susu dibawa lagi, jadi camilan.

Ternyata yang pergi bisa kembali. Bisa lebih banyak, mungkin karena panggil rakyatnya.

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Akhir)

Kulihat pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya. Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Aku mulai panik. Tidak, tidak, aku panik sejak tadi. Sekarang bahkan semakin panik!

“Mar, larutan ini jangan dipindah.” Agung berkata padaku dan meletakkan sesuatu di dekatku.

“Hm, ya.” Aku menolehnya sekilas lalu kembali menatap tabung tadi yang sudah kusimpan rapi. Tabung itu berjejer bersama tabung lain yang “normal”. Jika dilihat sejauh ini tidak terlihat sama sekali bekas pecah di mulut tabung. Aku memutuskan melupakannya.

Bukankah tadi tidak ada pecahannya di manapun? Aku bahkan tidak tahu apakah itu benar-benar pecah karenaku. Aku, kan, tidak mungkin mempertanggungjawabkan apa yang belum tentu kulakukan! Aku melirik sekitar yang terus sibuk mengerjakan perhitungan asam basa lalu berjalan perlahan menuju tempat Nofi berdiri.

“Mar, tadi apa yang jatuh?” Pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Lama dia menunggu dan aku belum merespon.

Satu menit, aku menyesali kejadian itu. Dua menit, aku bingung apakah benar aku yang memecahkannya. Tiga menit, aku takut harus mengganti dengan yang baru. Menit-menit berikutnya penuh kepanikan. Okelah, aku yang membuatnya jatuh. Mungkin karena tanganku licin. Tapi hanya menjatuhkan, kok, sungguh!

“Em.. itu, tabung reaksi yang habis dipakai Agung… eh, kamu, Nof.”

“Oh begitu. Kenapa tidak kamu ganti?”

Kedua kalinya, pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Aku juga terkejut dia bisa tahu tabung reaksi itu pecah.

“Apa?”

“Kaubilang ‘apa’? Kau pasti tahu apa maksudku!” Suaranya meninggi dengan wajah yang memerah. Hei, mengapa ia menjadi begini?

“Kenapa harus menggantinya, Nof? Aku, kan, tidak sengaja. Lagi pula aku tidak sampai membuatnya hancur.”

“Ha! Begitulah jahatmu! Memangnya kaupikir hanya alasan hancur kau harus menggantinya, hah? Pikir, Mar, pikir! Bahkan dengan pecahan sekecil itu kamu sudah mengubahnya. Kamu tahu artinya? Tabung reaksi itu tidak seperti semula.”

“Apa katamu? Omong kosong, Nofi! Aku hanya mengubahnya sedikit! Dan jangan kamu keraskan suaramu, bisa-bisa seisi laboratorium ini menuduhku.”

“Janganlah takut dituduh, Mar, karena kamu benar-benar orang yang harus bertanggung jawab!”

Asisten praktikum kami yang berdiri tidak jauh dari Nofi menoleh ke arahku dan Nofi. Mungkin karena ia mendengar kata tanggung jawab. Ia berjalan menuju tempatku berdiri.

“Ada apa, mengapa ribut di sini?” Aku bertambah panik begitu mendengar pertanyaan yang berpotensi mengusir seperti itu.

“Dia, Kak, salah satu mahasiswa pengejar IPK tinggi ini memecahkan itu.” Nofi menunjuk tabung reaksi yang sudah rapi dalam raknya.

“Saya tadi tidak sengaja, Kak. Pecahannya tidak bisa saya temukan. Mungkin memang sudah pecah dari awal.”

Kakak Asisten terdiam mendengarku. Dibetulkannya kerudung biru miliknya lalu menarik napas dalam. “Kamu… kamu pikir saya bisa percaya dengan kata-katamu? Bahkan kamu masih menggunakan kata ‘mungkin’. Kamu bahkan tidak yakin orang lain yang memecahkannya, bukan?”

“Iya, Kak, dia hanya beralasan. Ah, mahasiswa macam apa yang hanya mengejar nilai di atas kertas, ya?” Novi mencondongkan wajahnya ke arahku. “Orang yang hanya mementingkan nilai-nilai adalah orang yang egois! Kamu pikir kejujuran tidak penting? Kamu pikir bisa melenggang pergi dengan tenang bila tabung reaksi di sana itu meringkuk dalam hatimu?”

“Omong kosong semua nilai jika kamu tidak mementingkan integritas, Mar. Kamu akan jadi sampah. Dan kamu tahu, kan, seperti apa sampah itu? Tidak berguna.”

Kakak Asisten terkejut mendengar ucapan Nofi. Terlebih aku yang menjadi sasarannya, hatiku hancur. Merasa tidak cukup, Nofi melanjutkan kalimatnya.

“Kamu sudah mengeluh padaku tentang nilai Kimiamu yang seperti ini.” Nofi membuka telapak tangan kanannya menunjukkan angka lima, “apakah sikapmu akan seperti ini juga, Mar? Bernilai jelek? Kamu adalah orang paling payah yang pernah kukenal jika kamu lari dari tanggung jawab. Pun jika nilaimu sudah A nanti, memangnya kenapa? Hei peraih nilai A, apakah kamu tidak malu sudah pernah bersembunyi dari tanggung jawab?”

Aku tepekur memahami kalimat Nofi yang memenuhi kepalaku. Kata-katanya menyayat nilai Kimiaku juga hatiku yang rapuh. Ingin rasanya semua kembali seperti semula. Ingin rasanya tangan ini memutar mesin waktu, mengembalikan waktu ke dua jam yang lalu saat aku beranjak dari duduk menuju wastafel. Atau mengulang tadi pagi, mungkin aku bisa izin ke toilet agar lebih lambat menuju laboratorium, dengan begitu peristiwa ini bisa bergeser sehingga tidak pernah terjadi. Bisa juga kuputar menuju waktu tiga bulan lalu, mungkin aku bisa menolak kampus ini, dengan begitu aku tidak akan mengalami ini. Aku juga bisa mengatur agar tidak lahir di tahun 1998, dengan begitu aku tidak akan ada di sini. Tapi itu semua pengandaian yang tidak bisa terwujud. Aku menghela napas panjang. Bukan karena mahal, melainkan karena menyadari betapa kikir dan menyedihkannya diriku. Ternyata selain tidak pandai Kimia aku juga tidak berakhlak baik.

Puk! Nofi memukul bahuku pelan.

“Kenapa kamu malah melamun?” Wajahnya bingung, “wajahmu berubah menjadi sedih, memangnya tadi apa yang jatuh?”

Aku segera tersadar dari lamunanku. Kuberikan senyum yang lebar padanya tanda terima kasih telah bertanya. Kusuruh ia minggir.

“Permisi dululah, Nof, aku harus bicara dengan Kakak Asisten.”

“Hei, memangnya apa yang terjadi?” Pertanyaan Nofi tidak sempat kujawab. Aku berbalik mengambil tabung reaksi tadi lalu berjalan ke arah Nofi kembali, lurus lagi, dan melewatinya. Meskipun dengan wajah yang menuntut penjelasan, ia tetap diam melihatku melaluinya.

Kulihat Kakak Asisten sedang menulis sesuatu di papan tulis kecil. Kuhampiri ia dengan perlahan.

“Kak… maaf saya baru saja menjatuhkan tabung reaksi,” suaraku menciut, “jadinya begini, pecah ini-nya, Kak.” Aku menunjuk pinggiran tabung reaksi. Jika saja Kakak Asisten fokus pada tanganku, ia pasti melihat jari telunjukku gemetar tidak terkendali.

Kakak Asisten menatapku dan menjawab datar, “Saya sarankan kamu tanyakan ini pada Bapak Penjaga Laboratorium yang sedang duduk itu.” Ia menunjuk seorang bapak yang duduk berbincang dengan petugas kebersihan. Bapak itu duduk bersila di atas kursi di luar sana.

Dengan memantapkan hati, aku berjalan. Tabung reaksi harganya tidak akan melebihi biaya makan dalam sehari, kan? Pastilah begitu!

Ya, tidak akan semahal itu. Kalaupun mahal, bukankah itu salahmu juga, kan? Terima saja, masalah selesai.

Kau benar, ini akan cepat selesai. Aku rela, kok, beli lagi. Ini saja aku sedang berjalan mengakui kesalahan. Aku tidak akan malu lagi.

Ah, Sang Nurani memang paling bisa diandalkan. Ia memang menyalahkanku. Lalu mau apa? Aku memang salah. Kulihat bapak yang dimaksud oleh Kakak Asisten heran melihatku datang mendekat. Aku mengumpulkan nyali untuk mulai bicara.

“Pak, ini pecah ini-nya saya jatuhkan tadi,” kata-kataku tidak karuan.

Aku memperlihatkan tabung reaksi tadi, “Harus diganti, Pak?”

Beliau mengamati dengan cepat dan menyimpulkan sesuatu di luar dugaanku, “Letakkan saja kembali.”

Eh tunggu, apa maksudnya?

“Pak, tidak perlukah diganti?”

“Tidak usahlah, itu masih bisa digunakan.” Jawaban singkat yang begitu menarik!

Aku segera pamit dengan baik dan berterima kasih. Aku balik badan lalu tersenyum-senyum sendiri. Rasanya senyum ini yang paling lebar selama aku hidup. Aku seperti mendapat hadiah yang indah, paling indah sekaligus lucu. Kubuka pintu laboratorium dan meletakkan tabung reaksi kembali pada raknya. Lucu juga, sih. Bagaimana bisa tadi aku berpikir untuk melarikan diri? Bisa jadi hidupku tidak tenang setiap kali memasuki laboratorium Kimia. Aku mungkin akan takut sekali menyentuh tabung reaksi. Lalu yang terburuk adalah tabung reaksi itu bersemayam di otakku, menghantui hatiku, dan ujungnya membuatku sulit bernapas.

Aku lega. Hatiku cerah tidak lagi terisi perasaan yang tercampur aduk seperti beberapa menit yang lalu. Tangan ini terasa ringan.

“Mar, bagaimana?”

“Ya begitulah, Nof.”

Bagiku peristiwa ini adalah pembuktian. Aku telah menunjukkan, entah pada diriku sendiri atau pada siapalah-itu bahwa aku telah memiliki kategori. Kawan, tahukah kamu kategori mahasiswa apa yang kupilih? Aku baru saja menjadi mahasiswa dengan kategori jujur. Aku bahagia.

Orang-orang cerdas memang harus diperbanyak, tetapi jangan pernah lupa menjadi orang jujur, Kawan. Aku bicara begini sebab aku telah merasakannya. Baru saja!

Semester ini aku harus mengejar ketertinggalanku, harus memperbanyak jam belajarku. Namun kejujuran tidak bisa diganggu keberadaannya, bukan?

Rasanya ingin aku bicara dengan tabung reaksi itu, mengajaknya tertawa sebentar. Aku bahagia sekali hari ini.

Tamat


Tabung Reaksi dalam Hati dibuat karena ada lomba dalam IIF 2016 yang diselenggarakan oleh LDK Alhurriyah IPB 😀 Cerita ini diikutsertakan dalam kategori cerpen. Motivasi karya yang sebenarnya adalaaaah supaya penulis bisa ingat terus peristiwa hidupnya. Mumpung pelajaran di baliknya sangat berharga 🙂

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Awal)

 

Ini Kamis. Aku bangun lebih awal menanti waktu shubuh. Belum beranjak dari atas tempat tidur, aku menatap lurus ke arah jendela. Langit masih gelap di sana. Tentu saja, bahkan fajar belum menyapa bumi. Dari dalam kamarku terdengar suara ribut langkah kaki di lorong-lorong. Juga suara ember yang digeser—karena terlalu berat diangkat. Di ujung-ujung lorong, dari kamar mandi yang berjejer, terdengar suara air dari keran yang sepertinya dibuka penuh. Biarpun belum pagi, keadaan di sini jarang sekali dingin. Walaupun kelihatannya di sini belumlah kota, masih banyak sawah, aku bisa dengan santai mandi di saat seperti ini. Dua bulan lalu saat masa pengenalan kampus bahkan aku mandi satu jam sebelum waktu shalat shubuh.

Aku senang bangun lebih awal. Andai aku bisa bicara pada puncak gunung Salak yang terlihat dari jendela kamarku, aku akan setiap hari menyapanya, bertanya apakah ia senang kusapa lebih dahulu daripada mentari. Secepat apa aku bangun itu menentukan tingkat kebahagiaanku dalam menjalani satu hari itu. Karena aku senang menanti fajar tiba di langit. Fajar yang menyapa bumi selalu bisa membuatku ikut tersenyum. Fajar menjanjikan banyak kemenangan untukku.

Lima menit setelahnya fokus pandanganku berubah. Kini aku memandang pantulan diri sendiri di kaca jendela. Menatap diri sendiri, terlintaslah masalah-masalah yang menimpa. Selama seminggu ini aku dijadwalkan menerima hasil ujian tengah semester. Itu adalah ujian perdanaku di tempat yang baru. Ujian pertamaku sebagai mahasiswa calon sarjana pertanian dan ujian pembuka bagiku sebagai pelajar yang jauh dari orangtuanya. Sampai hari ini nilai-nilai itu membuatku tepekur. Apalagi nilai Kimiaku. Tidak perlu bingung jika ingin tahu berapakah itu. Cukup dengan menghadap jendela, angkat tangan kanan lalu buka telapaknya. Begitulah nilaiku.

Aku sempat menangis—dalam hati—begitu menyadari nilai Kimiaku jauh dari yang kuharapkan. Ah ya, aku juga merasa menyesal. Seharusnya aku menyempatkan diri begadang jauh-jauh hari sebelum ujian. Aku mengeluhkan itu pada Nofi. Aku tahu bahwa nilainya lebih tinggi dua angka dibandingkan nilaiku. Firda kuberitahu bahwa nilaiku tidak termasuk dalam “A”, bahkan jauh. Agung kutanya tentang nilainya. Ia meraih nilai Kimia tertinggi di kelas, empat angka di atas nilaiku. Begitulah teman-kelas baruku.

Tidak diam diriku mendapati nilai Kimia yang demikian parah. Aku bertekad ingin duduk paling depan selalu saat kuliah Kimia. Aku juga ingin menjadi mahasiswa yang baik saat praktikum di laboratorium.

Praktikum siang ini telah kupersiapkan dengan baik. Maksudku, aku telah membaca panduan praktikum dengan saksama. Aku juga sudah memeriksa perlengkapan yang harus dibawa saat praktikum. Sempurna! Aku semangat.

Saat praktikum, aku bergabung dengan sepuluh orang teman kelas. Termasuk di dalamnya Nofi dan Agung. Kelompok E, begitulah namanya. Hari ini judul praktikum kami yaitu asam basa. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aku harus bekerja dengan tiga orang, sementara yang lain juga bertiga atau berdua. Asam basa menurutku adalah materi Kimia yang sulit tetapi menyenangkan. Kami belajar menggunakan pH meter. Cukup mudah ternyata, sebab kami hanya harus mengganti larutan yang akan diukur tingkat keasamannya. Alat itu yang akan memberitahu nilai pH larutan, lalu kami simpulkan, asam atau basa.

Menjadi mahasiswa di tempat yang jauh dari orangtua menjadi tantangan bagiku. Aku bertemu orang-orang dengan semangat tinggi, contohnya Firda. Ada pula mereka yang sangat tulus dalam membantu, contohnya Nofi. Juga ada yang begitu jenius, Agung misalnya. Entahlah, aku tidak tahu pada kelas mana diriku. Aku bahkan mulai berpikir aku bukan bagian manapun dari sistem klasifikasi mahasiswa perguruan tinggi. Tidak, aku bukan putus asa, Kawan. Aku hanya mulai mengukur diri sendiri, di golongan manakah aku pantas berdiri. Ah, baiklah, aku terlalu banyak membicarakan perasaan. Bukankah ini di laboratorium, tempatnya orang bergerak cepat dan rapi?

Teman-teman di kelompokku begitu lincah. Begitu lincahnya, aku sampai harus berdiam diri karena tidak tahu lagi harus mengerjakan apa. Sebagian besar pekerjaan dan langkah kerja telah diambil alih oleh mereka. Ya, mungkin hanya tersisa mencuci alat-alat yang butuh sukarelawan. Tidak selalu begitu, tapi kali ini seperti itulah yang terjadi. Aku menunggu beberapa alat yang harus segera dibersihkan. Kusiapkan sikat kecil lalu aku bergegas menuju wastafel.

Nofi tiba di dekatku membawa gelas piala dan rak tabung reaksi beserta isinya. Dia pergi melanjutkan bermain pH meter sementara aku harus bermain air ditemani tabung reaksi dan gelas piala. Lalu persis ketika tangan kiriku membalikkan salah satu tabung reaksi agar larutan di dalamnya keluar, benda itu lolos dari peganganku. Inilah yang ditakuti semua orang yang masuk ke laboratorium!

Trang!

Benda kecil yang rapuh itu jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi yang menyayat saku mahasiswa! Paham, kan? Ya, resiko mengganti yang baru, Kawan!

“Aduh, hati-hati pecah!”

Beberapa teman di ruang laboratorium menoleh padaku memperingatkan. Beberapa yang lain hanya menatapku sekilas, mungkin artinya kasihan. Ada pula yang bertanya-tanya, apa yang terjadi?

Aku tersenyum menanggapi tetapi merasa panik. Kulirik tabung reaksi itu masih utuh saja setelah jatuh. Aku melambaikan tangan pada mereka, juga pada Nofi yang berada di ujung sana yang tadi terkejut dan menoleh padaku. Tidak apa-apa, lanjutkan saja kerja kalian.

Ya, tidak apa-apa. Tabung reaksi ini, kan, masih utuh. Kulihat sekelilingku yang kembali sibuk dalam praktikum. Aku mengambil tabung reaksi itu perlahan dan meletakkannya di atas rak tabung reaksi. Kulihat sekelilingku. Biasanya setelah terdengar suara peralatan laboratorium yang jatuh maka orang-orang akan berkumpul. Namun tidak saat itu. Entahlah, mungkin karena tabung itu tidak sampai hancur. Aku memeriksa kembali, benarkah tabung reaksi itu baik-baik saja?

Saat memeriksanya, tidak ada yang berubah.  Tabung itu baik-baik saja setelah jatuh, tidak ada cacat… Tunggu! Aku terkejut. Tanganku tiba-tiba gemetaran.  Jangan lihat wajahku, pastilah sudah pucat. Aku panik. Pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya.

Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Pecah tapi tidak ada bukti pecah. Bagus!

Aku bertambah panik.