Jaka Tarub & Dewi Nawang Wulan (Part I)

Have you ever watched a drama? It must be a quite enjoyful experience because we can see the actor directly. May be it’s just my reason, you can find another one. Over all, a drama is lovable art.

Besides watching drama, i like to have a role in drama. I like being another person, hehe. But one day when i was in senior high school, instead of took a role, i said that i will create a script for my team. The problem was the language. Because it was for our English lesson, we have to had it in that. What did i do? Of course i looked for it in a lot of blogs. The second problem was the number of people in my team! How could it match perfectly with the script in those blogs? Finally, i found the way: modify.

I got the script from here. I read it. Then i thought, what kind of problem that i can set to the story? I also thought about adding some role so that everyone in my team can play.

This is it.

♦♦♦

Jaka Tarub & Dewi Nawang Wulan
A Visit to The Earth

 

Once upon a time, there was a young man named Jaka Tarub. Jaka Tarub was a very handsome man. He lived in the middle of the forest with his mother, Randa Dhadapan. There was also a lake named Toyawening Lake.

Meanwhile, far upon the earth, there was the sky emperor, where the fairies lived. That place led by a king. That king had seven beautiful daughters. They usually down to the earth to take a bath.                                     

 

♦ Scene 1 ♦

Ningrum: “Very hot here, my sisters!”

Sekar: “Then let us go to the lake! Swimming!”

Putri: “Hm. I want to sing there.”

Arum: “Yeah! Talk to mother please, Asri!”

Asri: “Okay. Everybody follow me!”

(They give their greeting to The King and The Queen)

Asri: “We are going to ask your permission to go to the lake, Mom. It’s very hot here.”

The Queen: “Do you bring everything you need?”

The Seven Angels: “Yes, Mom!”

The Queen: “Are you sure? Why didn’t I see your powder? Comb? Hair dryer?”

Lintang: “Oh Mom, can’t you remember we are a fairy? We have this magic from you, Mom.”

The Queen: “Oh I see. Sorry for that. You have a duty to look after Nawang Wulan because this is the first time for she to go to the lake. Okay gals, you can go!”

(The seven angels cheer, then say bye!)

 

♦ Scene 2 ♦

(They arrive at the lake)

Asri: “Okay, everyone follows the rules! No fishing, no crying here, no eat. Go put your shawl on that rock, and enjoy!”

Wulan: “Wow I will enjoy this!”

(They talk and laugh each other, play joyfully)

 

In the same time around the lake, there was Jaka Tarub. He was tired of chasing the prey. When almost at the lake, Jaka Tarub stopped his footsteps. He heard the sound of the girls who were laughing.

Jaka: “Maybe it was just my imagination.” (He moves toward the lake slowly) “Hei, but the sound very clear to me.”
(Jaka is surprised)
“Oh my God, am I dreaming? I found seven beautiful girl here! Oh I hope one of them will be mine. Hmm… wait! What is that?” (He steals a yellow shawl) “After this, one of them couldn’t go to Kayangan, then she will be my wife! Yeah!”

(A few moments later)

Asri: “My sisters, I think we must go home now!”

Sekar: “But it’s too fast!”

Arum: “Yeah! I love to play here! I feel at home.”Ningrum : “Yeah! Me too!”

Asri: “Mother said that we must stay home before twilight, and she would be very worried about Wulan.”

Lintang: “Yeah, she loves her more than she love us!”

Putri: “If it were true, i would want to be like her.”

(Then, they are get ready)

Wulan: “Sister, wait me a minute, please!”

Sekar: “What are we waiting for?”

Wulan: “My shawl! I placed it here before we take a bath.” (Looking for something)

Lintang: “Huh, you waste our time. Come on every one, let’s go home!”

Wulan: “Wait, i lost my shawl.”

Asri: “Don’t lie!”

Wulan: “I’m sure it placed somewhere. I’m not lying.”

Putri: “Asri, we’re going to help her to find it, aren’t we?”

Wulan: “I put it here, besides Ningrum shawl.”

Ningrum: “Don’t give me that look! I didn’t see yours.”

Arum: “Then how can she come back? We must help her, Putri.”

 

When everyone was busy to look for the shawl, one of the fairy realised that the sky getting dark.

 

[to be continued]
Jaka Tarub and Dewi Nawang Wulan: A New Home

 


And the source is…
https://englishmotivator.wordpress.com/2011/02/12/text-of-english-drama/

Iklan

Di Gedung Kita

Wajahmu cerah saat menyapaku di pintu
Kaubilang ini hari istimewa kita
Kaubilang sudah berdandan yang hebat
Kau ciptakan potret terbaik, bersamaku

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Batas akhir sebuah kebersamaan
Putih abu-abu yang penuh kenangan

Apakah sebuah prosesi 240 menit cukup bagi kita
Sebagai pemuas rindu, pengganti semua waktu yang hilang?
Bahkan jika itu sehari semalam lamanya
Adakah hal hebat yang bisa kita tempuh?

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Perpisahan adalah hal yang nyata
Meski seerat-eratnya genggaman kita

Acara ini usai, dan
Ratusan foto sudah diabadikan
Anak dan orangtua pulang bergandengan

Pada gedung yang sudah ditinggalkan kini,
Kursi-kursi yang disusun rapi,
Lantai yang kembali bersih tapi sepi,
Panggung yang tinggal sendiri,
Pendingin ruangan yang menebar sunyi,
Aku melambaikan tangan
Bayangmu bersama 29 lainnya juga melambaikan tangan

Jalanku bisa jadi sepi
Dan bahumu, jauh untuk diraih
Tapi sampai nanti, jangan pergi dari hati
Tiga tahun kita hebat dan kaulah pelangi

 

24-04-2016
Setelah acara pelepasan siswa MAN 7 Jakarta

Hijau atau Biru

Saya berdiri di depan kompor. Sendok kayu panjang di tangan kanan dan serbet di tangan kiri menempel di wajan. Pagi, saatnya kolaborasi dengan Mamak untuk siapkan sarapan. Itu satu pagi yang biasa di rumah, tidak di asrama. Sudah hari libur, bahkan tidak lama lagi harus kembali ke asrama. UAS menunggu dihadapi. Asrama menunggu didatangi. Teman-teman baru di sana (mungkin) menunggu disapa 😀

Waktu bawang sudah mulai cokelat, nasi sudah diturunkan semua, sambal sudah dicampurkan, garam sudah diaduk rata, saya ingat satu teman yang sebentar lagi jadi teman sekamar di kos. Yaa, dia orang yang mencari sensasi, memang mudah diingat.

Pagi itu, sambil menggoreng nasi saya teringat calon maba IPB itu. Dia adalah mahasiswa IPB yang sedang berusaha menjadi maba IPB.

Senang rasanya punya teman yang belajar tentang perikanan. Dengan jurusan (baca: departemen) yang unik pula: Manajemen Sumberdaya Perairan yang disingkat MSP. Itu punya warna khas sendiri, biru.

Dengan tiba-tiba, dia bilang akan mengikuti satu ujian masuk. Itu ujian mandiri yang tidak pernah dia rencanakan (untuk diceritakan). Memang, sih, ujian itu tidak akan mengubah rencana kami tinggal di kos yang sama. Bahkan kampus yang dia inginkan tetaplah kampus yang sama! Hanya masalah jurusan yang dia ingin pindah. Tapi keputusan dia ikut tes itu… duh. Dadakan!

Dia sekarang ada di fakultas perikanan. Sebelum bilang akan ikut tes, dia menyebut satu jurusan (baca: departemen) yang ada di fakultas pertanian. Menurut saya itu memang keinginan dia. Dengan kemampuan membuat kaligrafi yang diatas rata-rata waktu dulu di pelajaran seni budayanya MAN 7, saya maklum mengetahui pilihan dia. Jadi, kenapa itu pilihannya? Sederhana, karena dia senang menggambar.

Tapi dia bilang satu jurusan lain yang dia lirik. Saya sudah tanya. Katanya sudah lihat mata kuliahnya yang menarik. Jurusan ini jadi pilihan keduanya. AGH.

Ini hari Sabtu. Dua hari lagi pengumuman itu datang. Tanggal sepuluh, entah jam berapa, pengumuman Ujian Talenta Masuk IPB akan bisa diakses oleh setiap pesertanya, dan salah satunya adalah teman saya. Lewat pesan langsung, dia minta didoakan.

Hari ini, saya menulis tentang dia, hahaha. Ketua Tari Saman MAN 7 yang suaranya melengking, yang sembilan hari lagi menjadi teman sekamar, yang suka sekali bolak-balik Bogor-Depok, yang takut dengan cacing. Niat saya menjadikan tulisan ini berbentuk surat. Biarlah dia saya suruh baca nanti setelah pengumuman.


 

buku-penugasan-ukuran-4x6.jpg

Ini fotonya Agronomi dan Hortikultura 53 dengan nama Phoenix. Ingat ya, kurma!

Hei teman, saya tunggu, ya.

Tapi tidak juga berharap sekali kau ada di antara kami, Phoenix ini. Tidak juga terlalu ingin kau bisa ikut di setiap kegiatan di ladang nanti. Pun tidak terlalu berharap kau akan bergabung, menerima label (NIM) dengan huruf A di depannya.

Tunggu, iya cuma menunggu. Dua hari lagi pengumuman ada.
Bisa jadi kau bisa mengikuti impianmu. Sibuk dalam urusan gambar-menggambar.
Tapi bisa juga kau tetap dalam warna birumu, tidak pindah ke sini, ke zona hijau.

Makanya saya tunggu. Pengumuman itu akan tiba.
Apapun hasilnya, itu pasti yang paling baik.


 

Selesai memikirkan teman itu, saya kembali fokus ke nasi goreng. Sudah harum dan merah. Saatnya menyeduh teh dan menarik keluar lauk dari dalam lemari.

Jika saja–ini bukan permohonan tapi permisalan–dia harus tetap di perikanan, itu hebat.
Bukankah saya pagi ini makan nasi dengan lauk?
Saya hijau, sudah tentu pertanian daerahnya. Budidaya tanaman pangan, obat-obatan, sayur, dan sebagainya. Ranahnya darat.
jika saja dia tetap biru, dunianya perikanan. Harus banyak yang memperhatikan tentang ikan-ikannya negeri ini, caranya supaya sampai di piring dengan baik dan tetap sehat.

Kau berdiri di sisi itu, aku tetap di sisi ini. Tidak ada yang salah karena kita sama-sama bisa memiliki impian.

Kau berjaga di samping meriammu, aku mengasah parang panjang dengan hati-hati. Kita berbeda tapi tidak dibenarkan saling bermusuhan. Sebab tanah ini menjamin kebebasan bergerak.

Bumi yang tentram dan impian yang menggantung tinggi; ketika kau memilih jalan pesimis, berikan aku alasanmu!

Kaartje

Itulah tiga nama makanan/minuman khas Belanda yang diberi embel-embel –je (maknanya ‘kecil’).
Itu adalah kalimat di bagian akhir dari satu tulisan milik seseorang. Saya membacanya sudah lama tapi masih ingat juga untuk menulis ini, alhamdulillaah. Tapi apa hubungannya kutipan tadi dengan saya, ya?

Kaartje. Sudah saya lihat di kamus bahasa Belanda, itu artinya tiket. Ya, saya punya pengalaman menarik tentang tiket. Sudah lama terjadi sebenarnya tapi saya masih ingat. Sayang juga sih rasanya kalau tidak ditulis ulang. Soalnya ini kejadian yang menunjukkan betapa liciknya saya. Harus banyak belajar dari orang lain supaya lebih ‘polos’ dalam menjalani hidup.

Waktu itu akhir pekan sudah selesai. Saya harus segera pulang alias pergi dari rumah karena rumah saya bukan lagi di sini. Singkatnya, saya harus sudah ada di Bogor sebelum dzuhur. Jadi saya menumpang kereta. Biasanya ada Bapak yang mengantar tapi waktu itu tidak bisa. Alhasil Mamak dan adek yang mengantar.

“Mak, mau sampe mana?”

“Stasiun Bogor.”

“Oh, kalau gitu bayarnya sampe Depok Lama saja, Mak.”

Ini dia. Ide ini datang dengan spontan sesuai aturan yang berlaku. Why?

Jelas. Mamak pasti tidak keluar dari stasiun. Pastinya lagi, sehabis turun kereta tanpa keluar dari peron dan tap tiket, Mamak naik kereta yang menuju Depok.

Ayolah, daripada harus membayar sampai Bogor sebesar tiga ribu rupiah, lebih baik membayar lebih murah dari itu. Cukup bayar satu stasiun setelah stasiun kotaku. Kalau bisa sih bilang ke petugas loket, “Pak, beli tiket yang ke sini.” Nah, bingung, kan? Lebih baik dilebihkan satu stasiun. Murah, sungguh.

“Paling beda seribu.”

“Mak itu berharga, Mak.”

Mamak tampaknya diam mengalah. Namun tiba-tiba dengan pelan, “Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?”

Oh, yeah! Sempurna sudah saya yang terdiam. Tambahkan satu fakta lagi: saya kalah. Mau bilang apa lagi?

Niat saya membayar sedikit bukan karena jahat (tapi saya takut ini niat jahat, hmm). Namun cepat dibalas Mamak, cepat diluruskan, diingatkan. Sebenarnya kalau mau kembali lagi ke stasiun ini tanpa keluar peron waktu tiba di Bogor, sih, tidak perlu membayar penuh. Toh tidak ditagih siapapun dan mesin tap tidak bisa menyalahkan sejauh apapun kita pergi.

But that’s it.
Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?

Mak, ideku tadi curangkah?
Aduh.

 

Inspirasinya dari tempat ini .

Kita dan Kota Petir

Ini jam sepuluh malam di salah satu jalan ramai di Kota Belimbing. Entah itu ramai karena ini hari Sabtu dan besok masih akhir pekan atau memang jalanan ini tidak pernah sepi. Dua jam lagi tengah malam dan jalan di depan bahkan macet. Bahkan motor yang bianya mudah terselip di mana-mana sekarang harus sabar menunggu gilirannya melintas, bergantian dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Jika mengikuti julukan yang entah dari mana datangnya, kota ini bisa disebut sebagai Kota Petir. Tidak perlu takut sungguhan petir sering menghantui karena sekarang hujan pun tidak deras, hanya sanggup membuat basah tisu yang dibentangkan di atas tempat duduk di motor. Tidak perlu takut juga karena ini sudah lewat satu jam setelah jam malam asrama yang biasa diberlakukan. Inilah waktu liburan ketika tidak ada yang membuat khawatir, utamanya jam malam.

Selagi masih tersisa sekitar seminggu lagi bulan Ramadhan, hari ini diadakan buka bersama dengan teman lama. Mereka adalah puluhan orang yang selama hampir tiga tahun lamanya pernah menanggung malu, bersusah-payah, membandel, dan bersenang-senang bersama. Orang-orang yang ditemui delapan jam tiap hari dan lima hari dalam seminggu. Mereka yang satu kelas dan satu seragam, satu tugas dan satu guru. Malam ini diberi judul buka puasa bersama, satu yang tampak berbeda di antara kita: masa depan.

Ini bukan bicara tentang indah atau kaburnya jalan yang ditempuh masing-masing kita. Seperti kata seorang guru sebelum kita diusir dari sekolah, kehidupan di madrasah kita akan berbeda dengan kehidupan setelahnya. Jalan kita akan berbeda, seperti yang terjadi pada setiap kita dan pemikiran di dalamnya.

Tujuh hari yang akan datang adalah hari yang fitri karena itu adalah hari kemenangan. Rasanya diri ini jauh dari predikat itu: menang. Melihat kalian seperti melihat mimpi-mimpi sendiri yang masih tertulis dalam daftar seratus impian yang terlipat di dalam dompet. Tapi menghadiri kebersamaan kita seperti menuangkan keruh dalam perjalanan meraih mimpi sebab tiba-tiba timbul rasa takut kehilangan. Jika begini, bisakah kemenangan diraih menghadapi dunia?

Ini yang keempat dan pasti bukan yang terakhir. Entah yang kelima akan diadakan di rumah siapa dan kapan, itu tidak bisa ditebak dan belum bisa didiskusikan. Yang menakutkan bukanlah berhentinya kita bertemu melainkan berhentinya kita saling mengenal dan peduli. Terasa menyeramkan ketika membayangkan kehilangan kalian.

Di jalan pulang menuju rumah, sinar lampu jalan yang jingga menambah keruh hati. Barisan toko-toko di Jalan Raya Tanah Baru seperti menatap menyalahkan. Apakah di sisa waktu penghabisan Ramadhan diri ini mampu menjadi pemenang? Di sisi lain kedatangan dalam acara kita adalah karena ingin bertemu, takut kehilangan, dan khawatir berpisah?

Dunia ini begitu berat. Rumit pula terasa. Salahkan saja hati ini yang terlalu lebar terbuka dan sangat kaya dalam perbendaharaan rasa. Salahkan pula kota ini yang terlalu lekat dalam ingatan. Dan terakhir, salahkan cinta yang diberikan asal-asalan, tidak pada Sang Pemiliknya.

 

Jika di dunia ada ketakutan akan kehilangan, bisakah diraih kemenangan atas dunia?

Dua Simpul

[10.56]

Harusnya liburan ini tidak diisi dengan pulang ke rumah. Tetap di asrama, memenuhi buku agenda dengan aktivitas seputar asrama. Atau bisa juga memenuhi target-target di awal April yagn sempat tertunda, ini kan masih ada satu-dua hari menjelang bulan baru. Tapi berita itu mengubah rencana matangnya yang sudah rapi tadi. Membungkus cucian, menumpuk jemuran kering dalam lemari. Jarak 50 km Bogor-Depok harus bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

 

[11.10]

Harusnya sekarang saatnya menonton film yang direncanakan dengan teman sekelasnya. Baru setengah jam yang lalu ketika keluar dari gedung kuliah itu direncanakan. Baru tadi di warung makan bicara tentang film apa yang naik daun. Kesempatan saat anak Jabodetabek pulang, wifi melaju di jalan tol. Tapi berita itu membuat rencana berubah. Menonton film akhirnya harus tanpa satu orang.

 

[11.28]

Commuter line sedang sepi karena ini di stasiun ujung. Tempat duduk yang empuk sanggup menghibur hatinya yang dilanda sunyi. Lima menit berjalan, badannya miring karena gerbong mulai bergerak. Mengedarkan pandangan lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Di MAN 7 tempat kita bertemu
Ku tak ta(h)u siapa dirimu
Lambat laun berputar roda waktu
Pada akhirnya kaulah temanku

~
Kita memang beda kelas
Tapi kita satu alas

~
Pada akhirnya kita ‘kan pisah
Ingatlah kita pernah bersama

 

[11.56]

Ia pernah berpikir bahwa sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Satu dekade adalah rentang yang sempit sehingga ia pasti akan berjumpa lagi dengan mereka yang dulu mengisi lima hari dalam satu minggu miliknya. Maka ketika pelepasan ia sanggup melambaikan tangan memberi salam perpisahan pada mereka semua. Ia bisa tertawa dan berfoto. Toh setelah sepuluh tahun, atau anggap saja tiga tahun setelah kelulusan, sebuah reuni akan melengkapi. Ia yakin.

Harusnya reuni di tempat makan atau di sudut taman yang mengundang kita, begitu yakinnya. Baginya reuni itu dekat tanpa tahu ada yang lebih dekat dari itu: kepulangan.

 

[12.00]

Jalan ini dulu tiap pagi ia lewati dengan berlari kecil atau berjalan cepat karena sering kesiangan. Ramai bocah-bocah yang jajan di sekitar kadang menyulitkan langkahnya. Tapi ini Sabtu dan siang hari menjelang dzuhur, jadi jalanan ini seperti miliknya, bersih dari penjual maupun apa yang sering mengisinya. Gerbang hijau tinggi di tikungan depan sana membisu seperti menunggu disapa.

Ia berdiri di sana memandang gerbang itu. Tidak perlu penjaga sekolah membukakan pintu, toh dia hanya berdiri saja. Dia hanya ingin memberi kabar bahwa akan ada reuni siang ini.

 

[12.13]

Ternyata reuni itu memang dekat, tidak perlu menunggu tiga tahun kelulusan atau sepuluh tahun. Ternyata hal yang tertinggal disadari adalah ada reuni dalam sebuah perpisahan. Dengan begitu, perpisahan lebih dekat daripada sebuah reuni.

Sebentar lagi kami akan reuni. Ya, reuni untuk mengantar kepergian salah satu dari kami. Pertemuan itu ada, bahkan bisa menjadi reuni. Sebab yang jauh-jauh datang ke sini. Yang berbeda adalah suasananya. Ini adalah reuni untuk sebuah perpisahan.

Lagi, yang kedua kali di bulan yang sama. Berita itu berwarna duka. Memang umur tak ada yang sanggup mengira-ngira. Termasuk mereka yang satu usia. Mereka yang dulu pernah putih abu-abu bersama. Mereka yang pernah berfoto bersama. Sekolah ini mampu bercerita tentang kami yang pernah satu alas.

Sekarang, bukan senyuman, jabat tangan, atau hadiah yang akan sampai pada mereka melainkan doa. Doamu, doaku, doa kita. Semoga disampaikan pada mereka.

 

[12.20]

Langkahnya menuju rumah pelan meski matahari membuat telapak kakinya terasa panas. Ia menggenggam catatan kecil yang satu kertasnya diselipkan di celah gerbang sekolah tadi.

Untuk Akredigas yang kehilangan dua simpulnya.