Jalan Pulang

Bagi saya, pulang adalah satu kata yang berharga.

Pulang adalah suguhan bagi para pengembara. Seperti apapun keadaan mereka, pulang adalah keniscayaan.

Setiap perjalanan bisa mengubah keadaan, baik lebih cemerlang atau lebih lusuh. Bagi mereka yang merasa lusuh dan hampir jatuh, pulang bukan tanda kalah. Pulang bukan pertanda perjalanan menjadikannya pecundang, pun pengkhianat. Pulang, bagi mereka adalah waktunya mengisi semangat dan mencuci debu yang menutupi jati diri. Pulang juga waktunya napak tilas untuk menguatkan cita-cita. Karena tiap langkah mereka menuju rumah bisa memperbesar bara impian.

Pulang, bagi para pemenang tentu sebuah kebahagiaan. Tampaknya tiada kebahagiaan lebih tinggi dari perjalanan pulang mereka. Tapi tidak boleh ada rasa tinggi hati telah meminang impian. Kepulangan ini justru harus menyebabkan saudaranya memperoleh teladan yang hebat dalam menyulam mimpinya sendiri.

Pada akhirnya, tiap kepulangan kita memiliki makna sendiri. Maka mari menjalani ‘perjalanan pulang’ kita sendiri.

Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian
hanya saja,
ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
sementara yang lain menghuni kamar berjendela

-Kahlil Gibran-

Florikultura Indonesia 2017

Sekian lama menunggu, akhirnya sampai juga. Sudah lama menanti, akhirnya diputuskan sudah. Sebenarnya saya bukan panitianya, sibuk mengurus acara ini dan akhirnya lega setelah poster sudah disebar. Saya sekarang penikmatnya. Jadi… ini dia acaranya.


 

Flori

 

[INFO FLORI: H-25 FLORI INDONESIA]
————-
Florikultura Indonesia 2017 merupakan rangkaian kegiatan yang yang bertujuan mendorong kebangkitan industri florikultura di Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh: Kementerian Koordinator Bagian Keuangan (Kemenko), Kementerian Pertanian (Kementan), Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura (Himagron), Agrisocio, dan Himpunan Alumni Agronomi IPB (HAAI). Florikultura Indonesia 2017 terdiri atas beberapa kegiatan yaitu Bursa Pertanian, Bursa Kuliner, Lomba Merangkai Bunga, Lomba Fashion Show, Talkshow, dan Karnaval yang dimeriahkan oleh Pawai, Lomba Marching Band, dan Lomba Mobil Hias yang seluruhnya dikonsep penuh bunga nusantara.

Acara akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal: Sabtu-Minggu, 29-30 Juli 2017
Tempat : Lapangan IPB Baranangsiang, Bogor dan keliling Kebun Raya Bogor

Narahubung:
Rofi’uddin (0896 5059 3723)
Bartolomeus (0877 7879 6478)
Qisthi (0857 7508 0888)

Mari datang dan ramaikan Florikultura Indonesia 2017!

Salam kebangkitan bunga nusantara!

Website: floriindonesia.com
————-
107/G/26/6

#FloriIndonesia
#RamaikanFI2017

Diteruskan oleh:
DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
KABINET MIRABILIS
[HIMAGRON 2016/2017]

Ini tanah yang belum dikenal. Di sini tempat belajar untuk hidup lalu bertahan. Kita memang di Indonesia, tempatnya banyak budaya mengalami akulturasi bahkan asimilasi, persis seperti yang sudah kita pelajari satu semester ini.

Saya datang dari pulau di timur sementara kau pergi merantau dari barat. Kita berbeda. Di sini tempat belajar untuk hidup dan berkawan.

Senang ada di sini sebab saya keluar dari lingkungan nyaman yang diselimuti persamaan. Bahagia rasanya merasakan berdiri di tengah lalu-lalang budaya yang beragam. Untuk tidak bilang terpesona, saya tersentuh. Indonesia sepertinya semakin jelas terlihat dari sini.

 

-Kampus rakyat, lima hari menuju farewell asrama-

Hijau atau Biru

Saya berdiri di depan kompor. Sendok kayu panjang di tangan kanan dan serbet di tangan kiri menempel di wajan. Pagi, saatnya kolaborasi dengan Mamak untuk siapkan sarapan. Itu satu pagi yang biasa di rumah, tidak di asrama. Sudah hari libur, bahkan tidak lama lagi harus kembali ke asrama. UAS menunggu dihadapi. Asrama menunggu didatangi. Teman-teman baru di sana (mungkin) menunggu disapa 😀

Waktu bawang sudah mulai cokelat, nasi sudah diturunkan semua, sambal sudah dicampurkan, garam sudah diaduk rata, saya ingat satu teman yang sebentar lagi jadi teman sekamar di kos. Yaa, dia orang yang mencari sensasi, memang mudah diingat.

Pagi itu, sambil menggoreng nasi saya teringat calon maba IPB itu. Dia adalah mahasiswa IPB yang sedang berusaha menjadi maba IPB.

Senang rasanya punya teman yang belajar tentang perikanan. Dengan jurusan (baca: departemen) yang unik pula: Manajemen Sumberdaya Perairan yang disingkat MSP. Itu punya warna khas sendiri, biru.

Dengan tiba-tiba, dia bilang akan mengikuti satu ujian masuk. Itu ujian mandiri yang tidak pernah dia rencanakan (untuk diceritakan). Memang, sih, ujian itu tidak akan mengubah rencana kami tinggal di kos yang sama. Bahkan kampus yang dia inginkan tetaplah kampus yang sama! Hanya masalah jurusan yang dia ingin pindah. Tapi keputusan dia ikut tes itu… duh. Dadakan!

Dia sekarang ada di fakultas perikanan. Sebelum bilang akan ikut tes, dia menyebut satu jurusan (baca: departemen) yang ada di fakultas pertanian. Menurut saya itu memang keinginan dia. Dengan kemampuan membuat kaligrafi yang diatas rata-rata waktu dulu di pelajaran seni budayanya MAN 7, saya maklum mengetahui pilihan dia. Jadi, kenapa itu pilihannya? Sederhana, karena dia senang menggambar.

Tapi dia bilang satu jurusan lain yang dia lirik. Saya sudah tanya. Katanya sudah lihat mata kuliahnya yang menarik. Jurusan ini jadi pilihan keduanya. AGH.

Ini hari Sabtu. Dua hari lagi pengumuman itu datang. Tanggal sepuluh, entah jam berapa, pengumuman Ujian Talenta Masuk IPB akan bisa diakses oleh setiap pesertanya, dan salah satunya adalah teman saya. Lewat pesan langsung, dia minta didoakan.

Hari ini, saya menulis tentang dia, hahaha. Ketua Tari Saman MAN 7 yang suaranya melengking, yang sembilan hari lagi menjadi teman sekamar, yang suka sekali bolak-balik Bogor-Depok, yang takut dengan cacing. Niat saya menjadikan tulisan ini berbentuk surat. Biarlah dia saya suruh baca nanti setelah pengumuman.


 

buku-penugasan-ukuran-4x6.jpg

Ini fotonya Agronomi dan Hortikultura 53 dengan nama Phoenix. Ingat ya, kurma!

Hei teman, saya tunggu, ya.

Tapi tidak juga berharap sekali kau ada di antara kami, Phoenix ini. Tidak juga terlalu ingin kau bisa ikut di setiap kegiatan di ladang nanti. Pun tidak terlalu berharap kau akan bergabung, menerima label (NIM) dengan huruf A di depannya.

Tunggu, iya cuma menunggu. Dua hari lagi pengumuman ada.
Bisa jadi kau bisa mengikuti impianmu. Sibuk dalam urusan gambar-menggambar.
Tapi bisa juga kau tetap dalam warna birumu, tidak pindah ke sini, ke zona hijau.

Makanya saya tunggu. Pengumuman itu akan tiba.
Apapun hasilnya, itu pasti yang paling baik.


 

Selesai memikirkan teman itu, saya kembali fokus ke nasi goreng. Sudah harum dan merah. Saatnya menyeduh teh dan menarik keluar lauk dari dalam lemari.

Jika saja–ini bukan permohonan tapi permisalan–dia harus tetap di perikanan, itu hebat.
Bukankah saya pagi ini makan nasi dengan lauk?
Saya hijau, sudah tentu pertanian daerahnya. Budidaya tanaman pangan, obat-obatan, sayur, dan sebagainya. Ranahnya darat.
jika saja dia tetap biru, dunianya perikanan. Harus banyak yang memperhatikan tentang ikan-ikannya negeri ini, caranya supaya sampai di piring dengan baik dan tetap sehat.

Kau berdiri di sisi itu, aku tetap di sisi ini. Tidak ada yang salah karena kita sama-sama bisa memiliki impian.

Kau berjaga di samping meriammu, aku mengasah parang panjang dengan hati-hati. Kita berbeda tapi tidak dibenarkan saling bermusuhan. Sebab tanah ini menjamin kebebasan bergerak.

Bumi yang tentram dan impian yang menggantung tinggi; ketika kau memilih jalan pesimis, berikan aku alasanmu!

Apa Kau yang Bawa Lelahku?

Dari dalam ruang yang luas ini matahari di atas sana terasa betul teriknya karena banyak yang berkumpul di sini. Wajah-wajah penuh derita yang harus melewati berjam-jam kegiatan yang melelahkan otak dan tentu saja menguji perut. Mereka berbaris di depan penjaja makanan. Tapi lihatlah, di depan penjual minuman sedang rusuh. Keringnya kerongkongan tidak menyurutkan semangat mereka meneriakkan pesanan masing-masing dengan ganas. Orang-orang itu tampaknya tidak ingin patuh pada sang penjual yang sejak awal membentak menyuruh merapikan barisan. Tangan-tangan lincah mereka berlomba mengibaskan uang-uang kertas, berharap segera dilirik oleh sang penjual dan bisa lepas dari dahaga.

Dari sudut kantin aku memperhatikan kerusuhan itu. Orang-orang itu didominasi oleh para siswa yang begitu kehausan. Tapi sungguh bukan lagi dominasi melainkan tidak ada satu siswi pun di sana yang terlibat dalam kerusuhan. Mereka bukan takut. Hanya saja urusan bisa tambah pelik jika yang rusuh adalah para siswi. Masalah jajan akan berujung hingga ke kelas, terjadi labrak-melabrak, bully, dan ujungnya mungkin perang media sosial. Entahlah, itu dugaanku saja, kok. Siswi-siswi memang rapi berbaris dan sabar. Lalu sekali ada kecurangan dalam antrian, sebatas bisik-bisik akibatnya. Aku tersenyum hambar.

Lia yang baru datang menarik bangku di depanku. “Apa sih?” Begitu duduk, ia memutar badannya mengikuti arah pandanganku. Rusuh lagi, begitu maksud ekspresinya.

Kerusuhan ini bukanlah selera tontonanku. Aku hanya ngasal mencari hiburan sebelum kembali ke kelas. Hal menyenangkan harus didapat sebelum kembali ke tempat yang membuat kita bersedih.

So, ada kabar apa dari kelasmu?” Lia meletakkan bungkusan plastik di atas meja.

Aku menghentikan tawa tiba-tiba. Lucu juga mendengarnya bertanya kabar kelas. Itu basa-basi yang kaku sekali. Dengan merengut aku menjawab, “belajar biasa dengan buku dan pulpen.”

“Kenapa Aul gak diajak? Tumben ini.”

Untuk itulah aku menemuimu di kantin rusuh ini, Li.

“Karena kamu diam, berarti ada sesuatu. Kenapa, Mar? Buruan cerita, lama-lama di sini makin gerah, loh.” Lia membuka es krimnya.

♦♦♦

Koridor kelas dipadati para siswa baru. Mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang menempel di pintu kelas. Tunggu, kenapa mereka menempel begitu?

“Mar! Yah! Aduh, Mar!” Lia menghampiriku sambil memegangi dahinya.

“Kau ini kenapa!”

“Kelas kita dipisah, you know!” Lia menunjuk lurus ke depan.

Pintu kelas ramai sekali. Kulihat sebuah kertas menempel di sana. Daftar panjang tulisan bertinta hitam berjejer rapi dalam tabel-tabel. Di tengah-tengah urutan itu ada namaku. Lima orang dari kelas lamaku juga ada di sana. Selebihnya orang-orang yang sepintas kutemui bahkan ada yang tidak kukenal. Padahal ini semester baru dan bukan masa kenaikan kelas tapi kenapa pihak sekolah mengacak-acak susunan kelas?

Bel listrik dibunyikan. Para korban perombakan ini akhirnya masuk ke kelas baru. Aku pun begitu. Rencanaku untuk bertemu kepala sekolah dan memprotes kebijakannya mungkin bisa dilakukan lain kali. Sekarang aku harus menemukan teman duduk yang tepat.

“Sudah ada yang di sini?” Seseorang mengetuk sandaran bangku di sampingku.

Kulihat ke samping, Dinda dan Yuli sudah mengeluarkan buku-buku dari tas. Dian barusan sudah sepakat duduk di samping Riana. Dito? Baru saja dia menahan teman-teman barunya agar tidak duduk di sampingnya. Tanpa Lia berarti aku harus menambah teman baru.

“Em, belum.” Aku menatap orang itu.

“Kenalkan, Aulia.”

♦♦♦

“Kok bisa?”

“Karena bapakku serabutan, Mar.”

Kelas sepi ketika Aul, menceritakan keluarganya. Sudah lebih dari dua minggu kami harus beradaptasi dengan kelas baru. Salah satu cara menyesuaikan diri yaitu dengan bercerita.

“Kau gak coba daftar jadi penerima beasiswa? Katanya setiap bulan ada uang saku.”

“Sudah, tapi masih menunggu pengumuman, Mar.”

“Oh. Hmm.”

“Tapi buat hari ini ada kok.”

“Oke, bagus. Tapi…” aku meraba laci meja dan mengangkat kotak, “biarpun ada, gak bisa nolak ini kan? Heheee. Roti sobek itu kesukaanku. Potong di tengah, nih.”

Aul tersenyum. Aku memperhatikan cara makannya. Dia selalu makan dengan tangan kanan. Satu hal yang berbeda dengan orang lain adalah kebiasaannya setelah mengunyah. Aku berkali-kali tertawa melihatnya sebab Aul seperti para juri di lomba masak atau presenter di acara makan. Mmmm!

“Mar, gak keluar? Nyari Lia gitu.” Dito yang membawa sekantung makanan duduk di belakang kami.

“Katanya kelas Fisika ditambah. Jam istirahat mereka cuma nanti siang.”

“Iyakah?”

“Makanya, Dit…” aku membalik badan dan tersenyum jahil.

“Apa?”

“Kalo suka, tuh, ya cari tau!”

“Paparazi, kali!” Dito bangkit dan berjalan keluar.

“Mar, ini bikin sendiri?” Aul menunjuk kotak makanku, “atau beli?”

“Mar, kalo temen baru disayang, temen yg lama jangan dibuang.”

Pintu berdebam tertutup.

“Dia kenapa?”

“Gak tau aku. Ngomong-ngomong, itu bikin sendiri, lebih sehat.”

“Oh, boleh minta lagi?”

“Iya. Ini.” Aku membuka tutup kotak.

Kami makan sambil diam. Badanku kuarahkan ke depan sambil melirik ke jendela kelas. Tadi dia kenapa, sih?

“Mar?”

“Apa?” Aku menjawab tanpa menoleh.

“Tadi itu Dito, teman kelasmu dulu, kan?” Aul memperhatikan sisa selai cokelat di jarinya lalu memakannya, “apa dia marah kita berteman?”

Aku tertawa.

“Mungkin dia sudah tau aku suka minta makananmu.”

Aku tertawa. “Enak, kan?”

“Dia tidak suka denganku, sepertinya.”

Meja kayu kuketuk dengan jari-jari. Aku malas menanggapi kekhawatiran Aul. Kupandangi jam dinding.

“Tapi, Mar, kalau boleh… aku pinjam ongkos pulang, ya.”

“Hmm.”

Dito masuk disusul Ketua Paskibra sekolah. Mereka bicara tentang acara minggu depan yang mengundang entah-siapa-itu. Kuperhatikan wajahnya. Begitu melewati Aul ia membuang muka. Ia duduk dengan rusuh di belakangku.

Selalu ribut ketika dia menunjukkan rasa tidak suka pada orang lain. Termasuk minggu depan ketika pelajaran selesai. Waktunya pulang.

“He, biasa aja!” Aku menghardik setelah membalik badanku.

“Apa!”

Kutunjuk tasnya. “Caramu merapikan buku, lebay!” suaraku lebih pelan.

“Mar makasih, aku duluan ya.”

“Iya, hati-hati.”

“Lebay apanya!” Dito mengangkat bangku hendak menyusunnya di atas meja.

BRAK!

“Kenapa, sih, Dit?!”

Yang ditanya tidak menjawab. Ia berjalan cepat keluar kelas. Aku meraih tas dan buku yang belum rapi lalu berlari menuju pintu.

“Dit salah Aul apa!” Aku berteriak tapi dia tidak berhenti.

Aku berlarian menuruni tangga. Sepertinya ini harus cepat diselesaikan. Kalau tidak, Dito akan menjadi menjengkelkan dan Aul akan tersudutkan.

Seseorang bersandar di balik gerbang sekolah. Aku berjalan cepat. Setiba di dekatnya, aku menggoyang gerbang.

“Jadi dia ngutang berapa hari ini?” Dito membalik badan. Kedua tangannya mengencangkan tali tasnya.

“Kenapa memang, Dit? Dia bakal bayar kok. Sudahlah.”

“Sudah, Mar?! Aku yang capek lihat kau dipinjami uang!”

Aku tersenyum. “Nah, itu dia salahmu, Dit. Kenapa harus marah, hah?”

Dito memegangi pagar. Dia marah. “Salahmu, Mar. Dia selalu dibantu, selalu minta ini itu terus dikasih. Bikin capek liatnya. Dia gak mau usaha sih.”

“Haih, cuma capek liat, toh. Ya sudaaah, jangan liat.” Aku memasukkan buku ke dalam tas lalu berbalik pergi, “kau yang gak pernah bantu dia kenapa jadi ribet.”

“Karena dia bikin susah! Temen baru gak seharusnya gitu!!!”

Oh, dia mulai menjengkelkan dengan teriakannya itu. Bukankah sudah jelas kalimatku tadi? Kenapa dia yang merasa keberatan?

Aku melanjutkan jalan. Dito memanggil beberapa kali bahkan sampai berteriak-teriak. Tidak lama, suara langkahnya yang pelan-pelan terdengar olehku. Biarpun marah dan bertengkar, dia tidak merasa enggan menumpang angkutan yang sama denganku seperti biasa.

“Cuma menolong, Dit. Jangan menghalangiku.” Kuraih tas dan segera turun di halte.

Senin pagi, Selasa pagi, bahkan hingga Rabu siang ini aku belum bicara apapun padanya. Tapi sikapnya pada Aul mengalami perubahan. Di setiap pertemuannya dengan Aul pasti terjadi penolakan secara terang-terangan. Ia akan mendengus jengkel dalam jarak yang bisa dilihat Aul lalu meliriknya dengan tatapan yang… mengejek?

“He, perhatikan tatapanmu!”

Dito berbalik, wajahnya datar. “Kenapa memang?”

Cepat sekali anak ini membuatku jengkel dan marah sekaligus. Hebat sekali!

“Dit biasa aja sih.”

Aul yang berdiri di belakangku mengamati pertengkaran kecil ini.

“Jadi manja dia, Mar, memang kau ibunya? Banyak orang yang bisa dipinjami selain kau, Mar.” Dito menatap lurus menuju arah di belakangku, “membantu itu ada batasnya, ya. Gak setiap waktu. Dan yang meminta juga tau diri, memangnya sudah kenal lama?”

Aku bingung meresponnya. Ini rasanya kesal dan sedih ditambah khawatir. Aku tidak mau menyebut nama Aul di sini.

Dengan memendam kesal, aku marah-marah sambil berbalik menuju kelas. Kutarik lengan Aul dan menyuruhnya segera duduk. Pelajaran bahasa yang kusukai tidak mampu menawar kemarahanku.

♦♦♦

“Hmm, pantas tadi dia tidak menyapa waktu lewat sini.”

“Huh, jangankan menyapa. Aku lagi menahan diri tidak minta bantuan apapun dari dia.”

Lia tertawa kecil. Ia menyandarkan punggungnya di tembok kantin, “jadi kenapa Aul gak ke kantin? Tumben.”

“Dia di kelas. Capek nyalin Hiragana katanya.”

“Oh. Ya bisa juga sih karena males deket kau.” Lia berkata pelan.

“Apaan, sih? Kok bisa gitu?”

“Ya masuk akal lah. Di sini ada Dito. Kau juga ada. Ya kau tau lah maksudku.”

Aku terdiam.

“Biarpun kau gak pernah keberatan, Mar, gak ada yang tau itu. Namanya juga hati, siapa yang bisa baca? Lagian juga kita ini temen. Kalo bisa bermanfaat buat temen sendiri, why not?”

“Aku takut terhasut, deh, Li. Kenapa takut? Nih ya, dia selalu bilang tentang keberatan. Dia selalu bilang temen baru seharusnya gak begitu. Temen baru harusnya gak membuat kenalannya kesusahan. Li, aku mau terus bantu dia, kok. Tapi kendalanya itu ada di Dito yang terlalu apa ya? Dia marah sana-sini tapi gak pernah mau bantu. Dia gak suka aku membantu si dia atas dasar pertemanan sementara langkah nyata dia bantu itu gak ada, Li. Kasian juga dong, kalo orang yang minta bantuan selalu dibilang manja, gak mandiri, apalah itu. Sekarang aku mulai capek, sih. Tapi harus ada cara—“

Tuk tuk tuk.

“Li masih mau dengerin gak!” Aku ketus. Terbawa suasana, dudukku menjadi tegak dan tanganku hampir menggebrak meja kantin.

“Iya, Mar, aku denger. Ngerti kok maksudmu.” Lia menunjukkan layar ponselnya padaku.

Cepat kuraih benda itu. Di layar terlihat Lia sedang mengakses sebuah situs. Banyak foto di dalamnya.

“Dulu, waktu belum kenal baik sama kalian, aku mengalami beginian. Yaa, malah aku yang bertindak kayak Dito. Aku jengkel diminta bantuan terus. Hmmm… rasanya kayak gimana ya? Tunggu.” Lia masih bersandar dengan santai.

“Aku dulu gak suka diminta bantuan karena… capek. Aku pikir masih banyak yang mau bantu, kenapa harus aku? Em, aku gak usah sebut orangnya ya Mar. Pokoknya aku marah ke dia dan saat puncak marah itu ada, kata-kataku seperti orang mengusir. Hmm… pakhirnya, aku gak sengaja memilih buku yang menusuk sampai sini.”

Lia tertawa pelan.

“Menolak menolong orang itu tanda orang lemah.”  Tangannya menunjuk ponselnya.

Suara kantin masih ramai terdengar. Tapi meja ini tiba-tiba sunyi. Lia berhenti bicara sementara aku memandang dalam-dalam foto buku itu.

Bagaimana bisa?

Aku tidak tau itu.

Aul hanya butuh dibantu, maka kuberi bantuan itu. Aul hanya perlu beberapa kali pinjaman uang untuk pulang, untuk makan, entah untuk apa lagi. Kenapa aku merasa lelah?

Apa aku akan jadi orang yang lemah?

 


16:04
29 Juni 2017