Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Akhir)

Kulihat pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya. Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Aku mulai panik. Tidak, tidak, aku panik sejak tadi. Sekarang bahkan semakin panik!

“Mar, larutan ini jangan dipindah.” Agung berkata padaku dan meletakkan sesuatu di dekatku.

“Hm, ya.” Aku menolehnya sekilas lalu kembali menatap tabung tadi yang sudah kusimpan rapi. Tabung itu berjejer bersama tabung lain yang “normal”. Jika dilihat sejauh ini tidak terlihat sama sekali bekas pecah di mulut tabung. Aku memutuskan melupakannya.

Bukankah tadi tidak ada pecahannya di manapun? Aku bahkan tidak tahu apakah itu benar-benar pecah karenaku. Aku, kan, tidak mungkin mempertanggungjawabkan apa yang belum tentu kulakukan! Aku melirik sekitar yang terus sibuk mengerjakan perhitungan asam basa lalu berjalan perlahan menuju tempat Nofi berdiri.

“Mar, tadi apa yang jatuh?” Pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Lama dia menunggu dan aku belum merespon.

Satu menit, aku menyesali kejadian itu. Dua menit, aku bingung apakah benar aku yang memecahkannya. Tiga menit, aku takut harus mengganti dengan yang baru. Menit-menit berikutnya penuh kepanikan. Okelah, aku yang membuatnya jatuh. Mungkin karena tanganku licin. Tapi hanya menjatuhkan, kok, sungguh!

“Em.. itu, tabung reaksi yang habis dipakai Agung… eh, kamu, Nof.”

“Oh begitu. Kenapa tidak kamu ganti?”

Kedua kalinya, pertanyaan Nofi membuatku tertegun. Aku juga terkejut dia bisa tahu tabung reaksi itu pecah.

“Apa?”

“Kaubilang ‘apa’? Kau pasti tahu apa maksudku!” Suaranya meninggi dengan wajah yang memerah. Hei, mengapa ia menjadi begini?

“Kenapa harus menggantinya, Nof? Aku, kan, tidak sengaja. Lagi pula aku tidak sampai membuatnya hancur.”

“Ha! Begitulah jahatmu! Memangnya kaupikir hanya alasan hancur kau harus menggantinya, hah? Pikir, Mar, pikir! Bahkan dengan pecahan sekecil itu kamu sudah mengubahnya. Kamu tahu artinya? Tabung reaksi itu tidak seperti semula.”

“Apa katamu? Omong kosong, Nofi! Aku hanya mengubahnya sedikit! Dan jangan kamu keraskan suaramu, bisa-bisa seisi laboratorium ini menuduhku.”

“Janganlah takut dituduh, Mar, karena kamu benar-benar orang yang harus bertanggung jawab!”

Asisten praktikum kami yang berdiri tidak jauh dari Nofi menoleh ke arahku dan Nofi. Mungkin karena ia mendengar kata tanggung jawab. Ia berjalan menuju tempatku berdiri.

“Ada apa, mengapa ribut di sini?” Aku bertambah panik begitu mendengar pertanyaan yang berpotensi mengusir seperti itu.

“Dia, Kak, salah satu mahasiswa pengejar IPK tinggi ini memecahkan itu.” Nofi menunjuk tabung reaksi yang sudah rapi dalam raknya.

“Saya tadi tidak sengaja, Kak. Pecahannya tidak bisa saya temukan. Mungkin memang sudah pecah dari awal.”

Kakak Asisten terdiam mendengarku. Dibetulkannya kerudung biru miliknya lalu menarik napas dalam. “Kamu… kamu pikir saya bisa percaya dengan kata-katamu? Bahkan kamu masih menggunakan kata ‘mungkin’. Kamu bahkan tidak yakin orang lain yang memecahkannya, bukan?”

“Iya, Kak, dia hanya beralasan. Ah, mahasiswa macam apa yang hanya mengejar nilai di atas kertas, ya?” Novi mencondongkan wajahnya ke arahku. “Orang yang hanya mementingkan nilai-nilai adalah orang yang egois! Kamu pikir kejujuran tidak penting? Kamu pikir bisa melenggang pergi dengan tenang bila tabung reaksi di sana itu meringkuk dalam hatimu?”

“Omong kosong semua nilai jika kamu tidak mementingkan integritas, Mar. Kamu akan jadi sampah. Dan kamu tahu, kan, seperti apa sampah itu? Tidak berguna.”

Kakak Asisten terkejut mendengar ucapan Nofi. Terlebih aku yang menjadi sasarannya, hatiku hancur. Merasa tidak cukup, Nofi melanjutkan kalimatnya.

“Kamu sudah mengeluh padaku tentang nilai Kimiamu yang seperti ini.” Nofi membuka telapak tangan kanannya menunjukkan angka lima, “apakah sikapmu akan seperti ini juga, Mar? Bernilai jelek? Kamu adalah orang paling payah yang pernah kukenal jika kamu lari dari tanggung jawab. Pun jika nilaimu sudah A nanti, memangnya kenapa? Hei peraih nilai A, apakah kamu tidak malu sudah pernah bersembunyi dari tanggung jawab?”

Aku tepekur memahami kalimat Nofi yang memenuhi kepalaku. Kata-katanya menyayat nilai Kimiaku juga hatiku yang rapuh. Ingin rasanya semua kembali seperti semula. Ingin rasanya tangan ini memutar mesin waktu, mengembalikan waktu ke dua jam yang lalu saat aku beranjak dari duduk menuju wastafel. Atau mengulang tadi pagi, mungkin aku bisa izin ke toilet agar lebih lambat menuju laboratorium, dengan begitu peristiwa ini bisa bergeser sehingga tidak pernah terjadi. Bisa juga kuputar menuju waktu tiga bulan lalu, mungkin aku bisa menolak kampus ini, dengan begitu aku tidak akan mengalami ini. Aku juga bisa mengatur agar tidak lahir di tahun 1998, dengan begitu aku tidak akan ada di sini. Tapi itu semua pengandaian yang tidak bisa terwujud. Aku menghela napas panjang. Bukan karena mahal, melainkan karena menyadari betapa kikir dan menyedihkannya diriku. Ternyata selain tidak pandai Kimia aku juga tidak berakhlak baik.

Puk! Nofi memukul bahuku pelan.

“Kenapa kamu malah melamun?” Wajahnya bingung, “wajahmu berubah menjadi sedih, memangnya tadi apa yang jatuh?”

Aku segera tersadar dari lamunanku. Kuberikan senyum yang lebar padanya tanda terima kasih telah bertanya. Kusuruh ia minggir.

“Permisi dululah, Nof, aku harus bicara dengan Kakak Asisten.”

“Hei, memangnya apa yang terjadi?” Pertanyaan Nofi tidak sempat kujawab. Aku berbalik mengambil tabung reaksi tadi lalu berjalan ke arah Nofi kembali, lurus lagi, dan melewatinya. Meskipun dengan wajah yang menuntut penjelasan, ia tetap diam melihatku melaluinya.

Kulihat Kakak Asisten sedang menulis sesuatu di papan tulis kecil. Kuhampiri ia dengan perlahan.

“Kak… maaf saya baru saja menjatuhkan tabung reaksi,” suaraku menciut, “jadinya begini, pecah ini-nya, Kak.” Aku menunjuk pinggiran tabung reaksi. Jika saja Kakak Asisten fokus pada tanganku, ia pasti melihat jari telunjukku gemetar tidak terkendali.

Kakak Asisten menatapku dan menjawab datar, “Saya sarankan kamu tanyakan ini pada Bapak Penjaga Laboratorium yang sedang duduk itu.” Ia menunjuk seorang bapak yang duduk berbincang dengan petugas kebersihan. Bapak itu duduk bersila di atas kursi di luar sana.

Dengan memantapkan hati, aku berjalan. Tabung reaksi harganya tidak akan melebihi biaya makan dalam sehari, kan? Pastilah begitu!

Ya, tidak akan semahal itu. Kalaupun mahal, bukankah itu salahmu juga, kan? Terima saja, masalah selesai.

Kau benar, ini akan cepat selesai. Aku rela, kok, beli lagi. Ini saja aku sedang berjalan mengakui kesalahan. Aku tidak akan malu lagi.

Ah, Sang Nurani memang paling bisa diandalkan. Ia memang menyalahkanku. Lalu mau apa? Aku memang salah. Kulihat bapak yang dimaksud oleh Kakak Asisten heran melihatku datang mendekat. Aku mengumpulkan nyali untuk mulai bicara.

“Pak, ini pecah ini-nya saya jatuhkan tadi,” kata-kataku tidak karuan.

Aku memperlihatkan tabung reaksi tadi, “Harus diganti, Pak?”

Beliau mengamati dengan cepat dan menyimpulkan sesuatu di luar dugaanku, “Letakkan saja kembali.”

Eh tunggu, apa maksudnya?

“Pak, tidak perlukah diganti?”

“Tidak usahlah, itu masih bisa digunakan.” Jawaban singkat yang begitu menarik!

Aku segera pamit dengan baik dan berterima kasih. Aku balik badan lalu tersenyum-senyum sendiri. Rasanya senyum ini yang paling lebar selama aku hidup. Aku seperti mendapat hadiah yang indah, paling indah sekaligus lucu. Kubuka pintu laboratorium dan meletakkan tabung reaksi kembali pada raknya. Lucu juga, sih. Bagaimana bisa tadi aku berpikir untuk melarikan diri? Bisa jadi hidupku tidak tenang setiap kali memasuki laboratorium Kimia. Aku mungkin akan takut sekali menyentuh tabung reaksi. Lalu yang terburuk adalah tabung reaksi itu bersemayam di otakku, menghantui hatiku, dan ujungnya membuatku sulit bernapas.

Aku lega. Hatiku cerah tidak lagi terisi perasaan yang tercampur aduk seperti beberapa menit yang lalu. Tangan ini terasa ringan.

“Mar, bagaimana?”

“Ya begitulah, Nof.”

Bagiku peristiwa ini adalah pembuktian. Aku telah menunjukkan, entah pada diriku sendiri atau pada siapalah-itu bahwa aku telah memiliki kategori. Kawan, tahukah kamu kategori mahasiswa apa yang kupilih? Aku baru saja menjadi mahasiswa dengan kategori jujur. Aku bahagia.

Orang-orang cerdas memang harus diperbanyak, tetapi jangan pernah lupa menjadi orang jujur, Kawan. Aku bicara begini sebab aku telah merasakannya. Baru saja!

Semester ini aku harus mengejar ketertinggalanku, harus memperbanyak jam belajarku. Namun kejujuran tidak bisa diganggu keberadaannya, bukan?

Rasanya ingin aku bicara dengan tabung reaksi itu, mengajaknya tertawa sebentar. Aku bahagia sekali hari ini.

Tamat


Tabung Reaksi dalam Hati dibuat karena ada lomba dalam IIF 2016 yang diselenggarakan oleh LDK Alhurriyah IPB 😀 Cerita ini diikutsertakan dalam kategori cerpen. Motivasi karya yang sebenarnya adalaaaah supaya penulis bisa ingat terus peristiwa hidupnya. Mumpung pelajaran di baliknya sangat berharga 🙂

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Awal)

 

Ini Kamis. Aku bangun lebih awal menanti waktu shubuh. Belum beranjak dari atas tempat tidur, aku menatap lurus ke arah jendela. Langit masih gelap di sana. Tentu saja, bahkan fajar belum menyapa bumi. Dari dalam kamarku terdengar suara ribut langkah kaki di lorong-lorong. Juga suara ember yang digeser—karena terlalu berat diangkat. Di ujung-ujung lorong, dari kamar mandi yang berjejer, terdengar suara air dari keran yang sepertinya dibuka penuh. Biarpun belum pagi, keadaan di sini jarang sekali dingin. Walaupun kelihatannya di sini belumlah kota, masih banyak sawah, aku bisa dengan santai mandi di saat seperti ini. Dua bulan lalu saat masa pengenalan kampus bahkan aku mandi satu jam sebelum waktu shalat shubuh.

Aku senang bangun lebih awal. Andai aku bisa bicara pada puncak gunung Salak yang terlihat dari jendela kamarku, aku akan setiap hari menyapanya, bertanya apakah ia senang kusapa lebih dahulu daripada mentari. Secepat apa aku bangun itu menentukan tingkat kebahagiaanku dalam menjalani satu hari itu. Karena aku senang menanti fajar tiba di langit. Fajar yang menyapa bumi selalu bisa membuatku ikut tersenyum. Fajar menjanjikan banyak kemenangan untukku.

Lima menit setelahnya fokus pandanganku berubah. Kini aku memandang pantulan diri sendiri di kaca jendela. Menatap diri sendiri, terlintaslah masalah-masalah yang menimpa. Selama seminggu ini aku dijadwalkan menerima hasil ujian tengah semester. Itu adalah ujian perdanaku di tempat yang baru. Ujian pertamaku sebagai mahasiswa calon sarjana pertanian dan ujian pembuka bagiku sebagai pelajar yang jauh dari orangtuanya. Sampai hari ini nilai-nilai itu membuatku tepekur. Apalagi nilai Kimiaku. Tidak perlu bingung jika ingin tahu berapakah itu. Cukup dengan menghadap jendela, angkat tangan kanan lalu buka telapaknya. Begitulah nilaiku.

Aku sempat menangis—dalam hati—begitu menyadari nilai Kimiaku jauh dari yang kuharapkan. Ah ya, aku juga merasa menyesal. Seharusnya aku menyempatkan diri begadang jauh-jauh hari sebelum ujian. Aku mengeluhkan itu pada Nofi. Aku tahu bahwa nilainya lebih tinggi dua angka dibandingkan nilaiku. Firda kuberitahu bahwa nilaiku tidak termasuk dalam “A”, bahkan jauh. Agung kutanya tentang nilainya. Ia meraih nilai Kimia tertinggi di kelas, empat angka di atas nilaiku. Begitulah teman-kelas baruku.

Tidak diam diriku mendapati nilai Kimia yang demikian parah. Aku bertekad ingin duduk paling depan selalu saat kuliah Kimia. Aku juga ingin menjadi mahasiswa yang baik saat praktikum di laboratorium.

Praktikum siang ini telah kupersiapkan dengan baik. Maksudku, aku telah membaca panduan praktikum dengan saksama. Aku juga sudah memeriksa perlengkapan yang harus dibawa saat praktikum. Sempurna! Aku semangat.

Saat praktikum, aku bergabung dengan sepuluh orang teman kelas. Termasuk di dalamnya Nofi dan Agung. Kelompok E, begitulah namanya. Hari ini judul praktikum kami yaitu asam basa. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aku harus bekerja dengan tiga orang, sementara yang lain juga bertiga atau berdua. Asam basa menurutku adalah materi Kimia yang sulit tetapi menyenangkan. Kami belajar menggunakan pH meter. Cukup mudah ternyata, sebab kami hanya harus mengganti larutan yang akan diukur tingkat keasamannya. Alat itu yang akan memberitahu nilai pH larutan, lalu kami simpulkan, asam atau basa.

Menjadi mahasiswa di tempat yang jauh dari orangtua menjadi tantangan bagiku. Aku bertemu orang-orang dengan semangat tinggi, contohnya Firda. Ada pula mereka yang sangat tulus dalam membantu, contohnya Nofi. Juga ada yang begitu jenius, Agung misalnya. Entahlah, aku tidak tahu pada kelas mana diriku. Aku bahkan mulai berpikir aku bukan bagian manapun dari sistem klasifikasi mahasiswa perguruan tinggi. Tidak, aku bukan putus asa, Kawan. Aku hanya mulai mengukur diri sendiri, di golongan manakah aku pantas berdiri. Ah, baiklah, aku terlalu banyak membicarakan perasaan. Bukankah ini di laboratorium, tempatnya orang bergerak cepat dan rapi?

Teman-teman di kelompokku begitu lincah. Begitu lincahnya, aku sampai harus berdiam diri karena tidak tahu lagi harus mengerjakan apa. Sebagian besar pekerjaan dan langkah kerja telah diambil alih oleh mereka. Ya, mungkin hanya tersisa mencuci alat-alat yang butuh sukarelawan. Tidak selalu begitu, tapi kali ini seperti itulah yang terjadi. Aku menunggu beberapa alat yang harus segera dibersihkan. Kusiapkan sikat kecil lalu aku bergegas menuju wastafel.

Nofi tiba di dekatku membawa gelas piala dan rak tabung reaksi beserta isinya. Dia pergi melanjutkan bermain pH meter sementara aku harus bermain air ditemani tabung reaksi dan gelas piala. Lalu persis ketika tangan kiriku membalikkan salah satu tabung reaksi agar larutan di dalamnya keluar, benda itu lolos dari peganganku. Inilah yang ditakuti semua orang yang masuk ke laboratorium!

Trang!

Benda kecil yang rapuh itu jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi yang menyayat saku mahasiswa! Paham, kan? Ya, resiko mengganti yang baru, Kawan!

“Aduh, hati-hati pecah!”

Beberapa teman di ruang laboratorium menoleh padaku memperingatkan. Beberapa yang lain hanya menatapku sekilas, mungkin artinya kasihan. Ada pula yang bertanya-tanya, apa yang terjadi?

Aku tersenyum menanggapi tetapi merasa panik. Kulirik tabung reaksi itu masih utuh saja setelah jatuh. Aku melambaikan tangan pada mereka, juga pada Nofi yang berada di ujung sana yang tadi terkejut dan menoleh padaku. Tidak apa-apa, lanjutkan saja kerja kalian.

Ya, tidak apa-apa. Tabung reaksi ini, kan, masih utuh. Kulihat sekelilingku yang kembali sibuk dalam praktikum. Aku mengambil tabung reaksi itu perlahan dan meletakkannya di atas rak tabung reaksi. Kulihat sekelilingku. Biasanya setelah terdengar suara peralatan laboratorium yang jatuh maka orang-orang akan berkumpul. Namun tidak saat itu. Entahlah, mungkin karena tabung itu tidak sampai hancur. Aku memeriksa kembali, benarkah tabung reaksi itu baik-baik saja?

Saat memeriksanya, tidak ada yang berubah.  Tabung itu baik-baik saja setelah jatuh, tidak ada cacat… Tunggu! Aku terkejut. Tanganku tiba-tiba gemetaran.  Jangan lihat wajahku, pastilah sudah pucat. Aku panik. Pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya.

Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Pecah tapi tidak ada bukti pecah. Bagus!

Aku bertambah panik.

Jejaknya Orang Kuliah

Waktu itu Jumat keduanya Desember. Tanggal muda karena kemarinnya baru masuk bulan baru. Juga tanggal istimewa karena hari itu bertepatan dengan aksi damai 212. Hari itu juga hari yang mendung. Jemuranku di bambu-bambu panjang yang bertumpuk dengan pakaian orang lain masih lembab tadi pagi padahal kupikir angin malam bisa keringkan baju-baju dengan baik. Kira-kira sudah seminggu matahari tidak bersinar dengan riang, banyak awan tebal besar-besar yang mengganggunya. Tapi yang namanya kuliah tidak harus menunggu mendung pergi atau matahari terik. Jumat pagi berarti saatnya Bahasa Indonesia!

Jadwal pertama (dan satu-satunya) di hari itu ya Bahasa Indonesia di kelas 1.02 jam 7 pagi. Itu sebenarnya kelas responsi, jadi lebih lama pulangnya. Beda kalo kelas kuliah yang bisa cuma lima puluh menit. Kaget? Jangan, karena itu betulan terjadi. Sebagian orang mungkin memanjatkan puji serta syukur, hahaha. Ada juga yang membatin, apa rasa kuliah cuma segitu. Dan sisanya netral tanpa perasaan, hehe.

Pak Dosenku sampai di kelas lebih awal (tapi aku bisa lebih awal beberapa kali :D). Materi minggu ini tentang pembuatan makalah. Setiap kuliah pasti dibantu slide untuk memperjelas materi. Kadang isinya betul-betul hanya poin tapi bisa juga berupa paragraf yang pantasnya ada di buku saja. Nah kadang juga penjelasan dosen yang terlalu cepat tidak bisa imbang dengan apa yang harus ditulis. Jadilah… beberapa kali slide hanya bisa diambil fotonya. Kepepet.

Materi minggu ini dimulai. Padahal baru di slide awal, Pak Dosen segera mengimbau penghuni kelas: boleh mencatat apa yang ada di slide atau cukup menuliskan poin-poin penting, lakukan apa saja kecuali mengambil foto. Akhirnya kami hanya menulis. Dan tahukah apa alasan beliau melarang kami memotret slide di depan?

Menulis itu punya manfaat secara psikologis. Menulis berarti menghargai ilmu, bisa juga mengulang-ulang apa yang sudah dipelajari. Menulis membuat itu semua terekam dengan baik. Memotret slide? Itu bisa mengurangi makna belajar, makna kuliah. Lagi pula kalau kalian mau segampang itu, untuk apa hadir di kelas perkuliahan? Kalau mau segampang itu kenapa tidak memilih kuliah jarak jauh? Kalau mau semudah itu kenapa kalian susah-susah datang pagi-pagi ke kelas ini? Kalau gaya belajar kalian seperti yang selama ini: meminta slide dari dosen dan hanya mengandalkan foto-foto untuk belajar, untuk apa kalian disebut mahasiswa?

Nah, begitu kata Pak Dosenku, dosen Bahasa Indonesia kami di kelas T03 responsi dua. Kata-kata beliau segera masuk telinga kanan, merayap menuju gendang telinga, masuk ke saraf, dan sampai di otak untuk diproses. Kata-kata itu langsung menyebar ke hati dan diterima. Kami sekelas tidak berani foto-foto slide di depan.

Bagiku, belajar dengan memotret adalah sebuah cara belajar yang sudah maju. Kita kan sudah tiba di zaman ketika buku tidak lagi harus berupa kertas yang harus dibolak-balik saat membacanya. Zaman kita hidup ini berisi penemuan yang memungkinkan buku hanya perlu disentuh dari layar kaca supaya kita bisa tahu apa yang selanjutnya tertulis. Itulah electronic book. Aku pun menyukai cara belajar seperti ini–meskipun tidak selalu kulakukan. Tapi apa pun perubahan di dunia pasti memiliki dua sisi yang berbeda: baik dan buruk. Kurangnya catatan–yang memang tidak pernah diwajibkan–bisa jadi kurangnya kemauan untuk ribet-ribet dalam belajar. Aku sih begitu. Salah satu teman kelasku juga setuju dengan perkembangan dalam dunia catatan kuliah. Bagaimana dengan orang lain? Entahlah, makanya kukatakan bisa jadi.

Bisa jadi-nya lagi, Pak Dosen mau kelas kami ini punya catatan akhir kuliah 😀 . Bukan yang dibuat jadi film, tapi betulan catatan yang isinya coret-coretan pulpen biru atau hitam, juga bisa ringkasan dengan tulisan warna-warni.

Jadi bagaimana sekolahmu, kuliahmu?
Seperti apa jejak-jejak belajarmu?

 

24 Jam

Satu sore datang seorang kawan padaku
Sepanjang hari sudah bergerak dia tanpa henti
Kulihat banyak yang dia lakukan
Ini, itu, di sini, dan di sana

Saat dia datang letih wajahnya
Aku tahu masih banyak yang harus dia selesaikan
Menghitam bawah matanya
Menjadi sayu tatapannya

Kawanku, bagaimana nasibku
Banyak hal harus kuurus tapi sedikit waktuku
Beragam tempat harus kusambangi tapi letih ragaku
Aku khawatir istirahat sejenak saja menghabiskan waktu

Kubiarkan dia bicara
Kudengarkan dengan saksama

Kawanku, bagaimanalah aku
Tidak bisakah aku meminta lebih banyak?
Aku akan beruntung jika itu bisa terjadi
Tidak akan sesedih ini perasaanku,
andai itu bisa terjadi

Apa hal yang kau maksud?
Aku menebak hatinya

Andai bisa, aku meminta lebih dari yang kita punya
Lebih dari dua puluh empat jam sehari
Biar leluasa aku, biar lebih banyak istirahatku
Andai bisa, beruntungnya aku

Dan aku merasakan yang sama
Ke mana harus meminta lebih?

Yang Tersimpan

Apa yang terjadi jika aku dan kamu masing-masing menyimpan banyak memori di satu tempat? Galau? Bukan, maksudku, bagaimana sulitnya menyimpan semua itu? Apakah kita menjadi manusia lemot yag lebih kaku dari robot? Hohoho. Mungkin tidak sampai seperti itu. Tapi rasanya penuh. Lelah?

Setiap melihat sebuah komputer atau handphone aku berpikir. Rasanya aku ingin bertanya langsung pada mereka satu per satu (ini bukan efek menyimpan memori terlalu banyak 😛 ). Sungguh, rasanya ingin bertanya. Memori yang ada pada mereka, sebesar itu kapasitasnya, beratkah? Memangnya tidak mumet?

Isi memori mereka mungkin lebih banyak tugas presentasi atau makalah empunya. Tapi bagaimana dengan foto-foto? Tugas berupa makalah, kan, jelas, sangat berguna sampai kapan pun. Jadi bahan belajar. Bagaimana dengan koleksi foto-foto kenangan? Ya, foto kenangan yang bejibun, yang dimasukkan dalam jumlah besar, ribuan, lalu dibiarkan membisu di folder yang jarang sekali diziarahi. Aduh!

Aku seperti ingin menyapa memori mereka. Hai, memori komputer, apa kabar? Karena aku kasihan dengan beban berat mereka menyimpan foto-foto kenangan yang bahkan empunya sudah lupa di mana letaknya. Dalam hati, aku menyapa memori komputerku sendiri. Sudah panjang lebar kuceritakan macam-macam orang yang menelantarkan memorinya. Sedihnya, aku agaknya termasuk dalam salah satu golongan tadi. Menziarahi kenangan hanya sesekali. Aduduh!

Banyak sekali foto-foto yang kusimpan. Apalagi Gefant. Banyak karena satu objek punya banyak foto. Maksudku pemandangan sama, objek sama, itu diambil berkali-kali. Membereskannya (baca: menyeleksinya) seperti memilih baju di toko. Harus betul-betul dibandingkan. Ambil yang terbaik. Hai memori, ini kulakukan untuk mengurangi beban kerjamu 🙂 . Baik, kan?

Soal memilih, mungkin aku lambat. Bukan orang yang cus! Ini saja nih! Seakin banyak fotonya, semakin lama, semakin bingung, dan semakin pusinglah aku. Ayolah, demi memori supaya bisa move on. Eh, salah itu! Demi memori yang berat kerjanya, ayo!

Susah memang memilih foto terbaik. Aku akhirnya selesai. Kata siapa itulah yang terbaik? Ya buktinya aku memilihnya 🙂

Inilah beberapa foto-foto itu.

final_bstSnapshot_663741

UN udah di (depan) monitor. Bukan di depan mata, Kawan. Itu terlalu dekat. Tidak baik.

 

 

 

 

 

IMG-20150225-WA0005

Gefant2 Voice siap tempur

 

 

 

 

 

IMG-20140328-WA0007

Padahal belum siap. Hei balik lagi, ini yang terbaik!

 

 

 

 

 

IMG-20151028-WA0010.jpg

Sekilas dia tidaklah sakit. Karena wajahnya membuat dunia teralih.

 

 

 

 

 

IMG-20150116-WA0005

Jauh-jauh dari Jepang, jadi kita sambut dengan meriah. Welcome?

 

 

 

 

 

IMG-20150302-WA0045.jpg

Sudah pernah lihat gaya kuncup? Inilah kuncup!

 

 

 

 

 

IMG-20150116-WA0013.jpg

Betulan datang dari Jepang! Jadi disambut dengan meriaaaah.

 

 

 

Terakhir, meski bukan yang terbaik dalam album.
Saat semua kecuali piket sudah pulang.
Saat waktunya matahari sore menembus celah di jendela, seperti biasa.
Di ujung sana ada “our future”. Melihat satu foto ini saja membuat semua foto-foto di albumku beterbangan dari monitor.

Eh… mungkin lebay.

 

Maksudku, melihat ini saja membuatku rindu semuanya.

 

 

 

 

IMG-20150316-WA0004.jpg

Pojok lantai dua (ini pinjam hp Milla 🙂 )

Jadi, hari ini aku membereskan memori komputerku. Kasihan dia, lelah sekali menyimpan banyak foto. Aku sekaligus mengunjungi kenangan-kenangan. Mereka juga kasihan, lama tidak kusapa.

Sekarang aku bertanya padamu. Berapa foto-foto yang kau simpan di memori? Berapa lama sudah kau simpan mereka di sana? Apakah hanya kau simpan-simpan untuk yaaa mau disimpan ajah! atau untuk disimpan dan dikenang?

Kalau dikenang, jangan diabaikan! Sapa mereka, tanya kabarnya, dan pastikan tersimpan baik. Bukankah foto dibuat agar abadi?

Aku sering mendengar orang-orang bilang ingin mengabadikan peristiwa.

Formasi Empat yang Bahagia

“Apa yang sedang kaupegang itu, An?” Aku menghampiri An yang sedang memegang kertas kecil. Kelihatannya catatan belanja, eh mirip begitu.

An tetap berdiri, lama tidak menjawabku. Matanya, dan oh tentu saja pikirannya dipusatkan untuk membaca tulisan itu. Tulisan yang bukan sebuah cerita karena bentuknya memanjang ke bawah. Seperti puisi. Tulisannya rapi dan kecil-kecil.

“Surat.” An menarik napas. “Baca sendiri. Kamu sudah besar, tidak usah minta dibacakan.”

Dalam hati aku menertawakannya. Memangnya siapa yang minta seperti itu?

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu, hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku

Awalnya berdua
Menjadi tiga
Akhirnya empat, kita sempurna
Ke mana pun, formasi ini tetap sama
Berjalan-jalan dan berkeliling kota
Melintasi daratan, kita bertamasya
Menyeberangi lautan, kita pulang ke desa
Ke mana saja, formasi ini sempurna

Di warung-warung tenda mengisi perut
Di wisma pinggir kota memejamkan mata
Di gunung-gunung menghirup segarnya udara
Di kebun buah memetik segarnya alam
Di jalan menuju pulang kita bersyukur indahnya bersama

Kapan pun, formasi kita sama
Di angkot, becak, andong,
Di kereta, taksi, perahu
Di kapal, pesawat, dan nanti roket
Formasi empat yang bahagia

Hari ini, aku sedang mengingat kembali perjalanan-perjalanan
Yang tidak jarang terlupakan sebab tidak diabadikan
Semua tak beraturan dalam ingatan, sebab sedikit video atau jurnal
Yang kurasakan dan selalu tersimpan hanya satu: kebersamaan

Hari ini, Sang Waktu menegurku
Padahal ada yang masih berceceran, melayang-layang
Padahal aku belum selesai merangkai perjalanan kita dalam ingatan
Katanya aku harus berkemas

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku,
Sang Waktu menyuruhku berangkat hari ini

“Hari saat kau pergi, itulah hari ini
lepas dari formasi empatmu yang bahagia ini.”

Satu tahun, dua tahun, atau lebih
Waktuku untuk pergi sendiri
Agar warung-warung tenda bisa menyajikan yang lebih bergizi
Agar wisma-wisma kita berubah, bergaya seni masa kini
Agar gunung-gunung di sana tetap hijau lestari
Dan agar kebun buah mampu menjadikan negeri ini mandiri

Tiga tahun, empat tahun atau lebih
Waktuku untuk pergi sendiri
Percayalah, aku bisa pergi sendiri
Begitu banyak yang sudah kususun menjadi bekal diri
Dari perjalanan kita selama ini

Lima tahun, enam tahun, atau lebih
Aku tidak mau sebutkan tahun kapan aku kembali
Tak juga mau janjian aku pasti kembali
Sebab usia ini, diri ini, bukanlah miliknya sendiri
Hanya bisa pastikan, aku selalu ingin kembali

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu, hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku

Formasi kita memang akan lubang satu, maafkan aku
Tapi formasi empat atau tiga, aku ingin semua bahagia
Sebab sebuah keluarga tidak peduli formasi

Dan keluargalah yang menantiku kembali

 

Aku terdiam menatap An.

“Mirip sekali, bukan?”

“Apanya, An?”

“Mirip kamu yang sebentar lagi akan pergi.”

Aku tidak membalas kalimatnya. “Aku seperti pernah membaca ini, An. Tapi tidak tahu di mana. Kamu yang menulis ini?”

“Mirip kamu, Mari. Lihat judul di baliknya! Surat itu persis seperti isi hatimu.” An tidak mau kalah. Dia menunjuk judul itu. Untuk Tiga Insan Istimewa.

Hawa dingin karena hujan membuatku merinding. Hujan… Aku tahu di mana itu kota hujan. Entah istilah atau memang nyata. Di sanalah aku nanti. Dan bagiku, tiga orang berharga yang menungguku kembali… keluarga ini.

“An, biarkan aku yang simpan ini ya.”

Aku melipat kertas itu, menyimpannya. An benar, mirip sekali dengan isi hatiku. Formasi empat yang bahagia. Ah, bahkan aku mulai merasa dirikulah yang menulis surat ini.