Dua Simpul

[10.56]

Harusnya liburan ini tidak diisi dengan pulang ke rumah. Tetap di asrama, memenuhi buku agenda dengan aktivitas seputar asrama. Atau bisa juga memenuhi target-target di awal April yagn sempat tertunda, ini kan masih ada satu-dua hari menjelang bulan baru. Tapi berita itu mengubah rencana matangnya yang sudah rapi tadi. Membungkus cucian, menumpuk jemuran kering dalam lemari. Jarak 50 km Bogor-Depok harus bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

 

[11.10]

Harusnya sekarang saatnya menonton film yang direncanakan dengan teman sekelasnya. Baru setengah jam yang lalu ketika keluar dari gedung kuliah itu direncanakan. Baru tadi di warung makan bicara tentang film apa yang naik daun. Kesempatan saat anak Jabodetabek pulang, wifi melaju di jalan tol. Tapi berita itu membuat rencana berubah. Menonton film akhirnya harus tanpa satu orang.

 

[11.28]

Commuter line sedang sepi karena ini di stasiun ujung. Tempat duduk yang empuk sanggup menghibur hatinya yang dilanda sunyi. Lima menit berjalan, badannya miring karena gerbong mulai bergerak. Mengedarkan pandangan lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Di MAN 7 tempat kita bertemu
Ku tak ta(h)u siapa dirimu
Lambat laun berputar roda waktu
Pada akhirnya kaulah temanku

~
Kita memang beda kelas
Tapi kita satu alas

~
Pada akhirnya kita ‘kan pisah
Ingatlah kita pernah bersama

 

[11.56]

Ia pernah berpikir bahwa sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Satu dekade adalah rentang yang sempit sehingga ia pasti akan berjumpa lagi dengan mereka yang dulu mengisi lima hari dalam satu minggu miliknya. Maka ketika pelepasan ia sanggup melambaikan tangan memberi salam perpisahan pada mereka semua. Ia bisa tertawa dan berfoto. Toh setelah sepuluh tahun, atau anggap saja tiga tahun setelah kelulusan, sebuah reuni akan melengkapi. Ia yakin.

Harusnya reuni di tempat makan atau di sudut taman yang mengundang kita, begitu yakinnya. Baginya reuni itu dekat tanpa tahu ada yang lebih dekat dari itu: kepulangan.

 

[12.00]

Jalan ini dulu tiap pagi ia lewati dengan berlari kecil atau berjalan cepat karena sering kesiangan. Ramai bocah-bocah yang jajan di sekitar kadang menyulitkan langkahnya. Tapi ini Sabtu dan siang hari menjelang dzuhur, jadi jalanan ini seperti miliknya, bersih dari penjual maupun apa yang sering mengisinya. Gerbang hijau tinggi di tikungan depan sana membisu seperti menunggu disapa.

Ia berdiri di sana memandang gerbang itu. Tidak perlu penjaga sekolah membukakan pintu, toh dia hanya berdiri saja. Dia hanya ingin memberi kabar bahwa akan ada reuni siang ini.

 

[12.13]

Ternyata reuni itu memang dekat, tidak perlu menunggu tiga tahun kelulusan atau sepuluh tahun. Ternyata hal yang tertinggal disadari adalah ada reuni dalam sebuah perpisahan. Dengan begitu, perpisahan lebih dekat daripada sebuah reuni.

Sebentar lagi kami akan reuni. Ya, reuni untuk mengantar kepergian salah satu dari kami. Pertemuan itu ada, bahkan bisa menjadi reuni. Sebab yang jauh-jauh datang ke sini. Yang berbeda adalah suasananya. Ini adalah reuni untuk sebuah perpisahan.

Lagi, yang kedua kali di bulan yang sama. Berita itu berwarna duka. Memang umur tak ada yang sanggup mengira-ngira. Termasuk mereka yang satu usia. Mereka yang dulu pernah putih abu-abu bersama. Mereka yang pernah berfoto bersama. Sekolah ini mampu bercerita tentang kami yang pernah satu alas.

Sekarang, bukan senyuman, jabat tangan, atau hadiah yang akan sampai pada mereka melainkan doa. Doamu, doaku, doa kita. Semoga disampaikan pada mereka.

 

[12.20]

Langkahnya menuju rumah pelan meski matahari membuat telapak kakinya terasa panas. Ia menggenggam catatan kecil yang satu kertasnya diselipkan di celah gerbang sekolah tadi.

Untuk Akredigas yang kehilangan dua simpulnya.

Yang Berlalu

Kemarin, persis jam satu siang, pengumuman SNMPTN di sekolah saya diakses ramai-ramai. Seharian saya diserang penasaran. Group chat dihadiri Sensei, wali kelasku dulu. Beliau melaporkan satu per satu orang yang diterima undangan. Saya bilang, Sei tolong kalo bisa live report, penasarannya sampai ke ujung-ujung rambut nih.

Hasil mereka cukup membuat saya, hmm apa ya? Senang? Iya sih, karena capaian mereka lebih baik. Bukannya begitu harusnya seorang kakak? Ada yang ke UGM, UNJ, dan UI, sementara itu yang saya tahu.

Siang tadi teman-teman di kelas pasti juga mencari tahu tentang adik-adiknya. Pengumuman itu dibuka tepat waktu kami sedang kuliah Pendidikan Pancasila. Teman ada yang serius sekali dengan itu, bahkan selesai kuliah dan berteduh dia bicara tentang “pengikutnya” yang masih belum ketahuan namanya. Maksudnya yang resmi diterima IPB.

Berlalu, memang sudah berlalu masa itu. Duduk di depan layar menyala pulang dari les, berlatar suara Mamak bikin sambel di dapur, pengumuman itu mudah diakses. Entah karena lalu lintasnya lancar atau saya dipermudah melihatnya. Masukkan nama, nomor apalah itu. Kemudian merah.

Team red.
Begitu istilahnya, katanya.

Pengumuman SNMPTN tidak hanya mendebarkan bagi mereka yang sedang menanti, tapi juga bagi mereka yang pernah menanti.

Xenofili

bahasbahasa


 

Xenofili /xe·no·fi·li/ /sénofili/ n orang yang tertarik kepada hal-hal yang berasal dari luar negeri (gaya, tata cara, dan sebagainya)

 

Satu kali saya lagi mencari info lomba menulis. Tapi ada itu yang menarik.

Saya baru tahu ada istilah ini, istilah untuk orang yang begitu tertarik pada hal-hal tentang luar negeri. Pertanyaan yang muncul adalah… apa orang seperti itu positif atau negatif? Atau bahkan netral saja sifatnya?

Orang yang tertarik pada satu hal cenderung membandingkannya dengan apa yang dia miliki atau alami. Baiknya sih, setelah membandingkan itu cepat bertindak, tau posisi dan keadaan sekitar. Maksudnya, ya… kalau tertarik pada luar negeri yang terlihat bersih jalanannya dan keren lingkungannya harusnya bertindak. Ingatkan orang sekitarnya untuk jaga kebersihan.

Eh, apa saya juga termasuk xenofili?

#bahasbahasa
Sumber

Besok Pesta

Twitter ramai dengan hashtag. Ada yang sebut nama calonnya, ada juga yang tidak. Tapi ini yang keren.

#BesokGueNyoblos

Lah, apalah daya, sepertinya saya harus balas dengan tulisan BesokGueKuliah. Tapi ada yang menarik dengan masalah ini. Bukan masalah tanda pagar, tapi masalah lain.


 

Dalam pos sebelumnya saya cerita bahwa ujian tengah semester sudah selesai. Saya libur selama lima hari termasuk Sabtu dan Minggu. Ini hari terakhir dan besok sudah mulai kuliah. Jam satu siang nanti ada Pendidikan Pancasila di CCR. Besok tanggal sembilan belas, tepat diadakannya pesta demokrasi putaran kedua untuk warga DKI Jakarta.

Unik memang pesta ini. Bisa diadakan putaran keduanya. Bukan untuk mereka yang tidak sempat mengikuti sesi pertama, melainkan untuk menggenapkan suara memilih pemimpin. Pesta ini bagi saya tidak berarti apa-apa karena provinsi tersebut tidak ada urusannya dengan saya selain saya pernah menetap selama kurang lebih empat tahun dan terdaftar sebagai siswanya selama enam tahun. Kartu penduduk yang saya punya bukan tercatat sebagai warganya tapi akhir-akhir ini saya sering merasa gatal di hati, tidak sadar berbicara pada diri sendiri, siapa yang nanti naik, ya? Aduh, siapa ya?

Sebagai warna Depok yang pernah menjadi warga Jakarta, saya ikut senang dan antusias mengikuti berita pilkada. Lagi pula siapa yang tidak tertarik setelah hebatnya pemberitaan ini-itu tentang pilkada yang dijadikan menu utama media? Belum bumbu-bumbu yang dilahap mentah oleh orang-orang, diangin-anginkan, lalu hinggap di telinga-telinga. Jadilah berita pilkada itu sedap dibincangkan. Fasih menjabarkan satu informasi saja sudah buat bangga hati, hehe. Tapi tulisan saya bukan untuk membahas itu melainkan mengomentari kebijakan yang dikeluarkan oleh tempat saya belajar.

Memang saya bukan orang yang dikenai kebijakan itu. Sebab saya tidak termasuk pemilih dalam pilkada besok. Sebagai informasi, kebijakan yang saya maksud adalah kewajiban untuk segera mengikuti kuliah setelah jam satu siang karena waktu yang diberikan untuk memilih hanya sampai pukul 13.00 WIB. Kenapa tidak libur? Itu karena memang tidak libur untuk wilayah Jawa Barat. DKI Jakarta saja yang libur dalam rangka pilkada. Belum selesai sampai di situ, ada juga kewajiban melapor pada koordinator mata kuliah dengan membawa fotokopi KTP, surat pemberitahuan pemungutan suara, juga menunjukkan bukti berupa kelingking yang membiru, hehe. Beginilah prosesnya orang yang mau berpesta.

Salah satu teman kelas bilang ini ribet. Dia bukan orang Jakarta yang besok akan berpesta. Mungkin dia juga merasa ini semua terlalu panjang dilalui oleh orang yang mau memberi hak suara dalam pilkada. Toh memilih adalah pilihan. Bagaimana jika ada yang telanjur malas? Terlalu ogah melalui prosedur pelaksanaan? Waduh. Bukannya pesimis dan berpikir terlalu buruk, tapi libur toh libur, kan? Saya bukan pemuja hari libur, sekali lagi, kan saya ini anak Depok yang cuma bertetangga lima menit jaraknya dari Jakarta.

Harapan saya pemimpin Jakarta segera diumumkan, hahaha. Hati ini terlalu bosan menunggu kabar. Mata pun lelah melihat televisi yang itu-itu saja pemberitaan pilkadanya, membuat bingung saya yang menonton. Telinga? Oh sama lelahnya. Selamat berpesta teman-teman Jakarta. Bagi yang akan kembali ke IPB dan masih PPKU jangan lupa jaga jari kelingkingnya, tidak terlalu lama jika mencuci tangan, atau jangan dibiarkan terlalu lama terkena angin. Oh, jika perlu dibungkus supaya tintanya tetap tajam warnanya ketika harus melapor nanti 😀 .

Besok itu pesta, pesta demokrasi, untuk warga de-ka-i. #PilihanmuMasaDepanmu

Cie, pesta. Anak Depok yang besok harus kuliah ke Bogor ya jangan ikutan. Cuma tetangga toh? Atau mau bolos? Hm. #PilihanmuMasaDepanmu

Daskom Mengakhiri

Ini bulan April. Sejak tanggal enam hari Kamis lalu makhluk-makhluk PPKU melaksanakan ujian tengah semester. Ujian ini biasanya disebut ujian sesi UTS. Bisa mencakup lima bab materi, enam bab, atau tujuh bab. Berbeda sendiri itu ya Landasan Matematika. Sesi UTS-nya hanya meliputi tiga bab yang saya akui memang wajarlah tiga.

 

102_0030

UTS kedua. UTS bulan April. UTS bersamamu, T03.

 

Hari ini terakhir ujian bagi departemen AGH angkatan baru. Di saat orang di departemen lain masih harus memikirkan strategi untuk menaklukkan slide memahami materi, kami–PPKU departemen AGH–hanya harus memikirkan: strategi menghemat uang jajan. Itu karena libur lima hari sudah dimulai sejak kami selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian Dasar-Dasar Komunikasi.

Tadi siang tepatnya jam dua belas saya merasa lega dengan ujian. Selesai sudah. Daskom, begitu singkatan Dasar-Dasar Komunikasi, menjadi penutup rangkaian ujian. Seharian sebelumnya saya memahami apa itu persepsi. Ehm, sebenarnya tidak dramatis, hanya saja karena banyak interupsi, jadinya itu saya sebut seharian. Jadi… persepsi (bukan presepsi) adalah proses pemberian makna.

Persepsi adalah cara memberi makna. Wenburg & Wilmont

Hal lain seperti simbol verbal dan non verbal juga dipelajari dalam Daskom (tadinya saya tidak setuju dengan sebutan itu, tapi lama-lama seru juga menyebutnya). Selama sesi UTS ini mata kuliah yang dianggap oleh orang sekitar saya tidak relevan dengan AGH sering membuat saya terkejut. Bagaimana bisa?

Begini ceritanya. Saya pernah berbicara pada teman saya dan itu menceritakan sesuatu yang penting. Saya, katanya, bicara dengan lambaaat sekali. Bukan seperti lambat yang normal, tapi karena telat mikir, begitu katanya. Dan apa yang saya dapat dari belajar Daskom? Ternyata ketika berbincang dan saya terlambat merespon atau sulit menemukan kata yang tepat adalah karena selama pembicaraan saya sibuk mengeksplorasi pikiran saya sendiri. Saya tidak fokus menangkap pesan pengirim tapi malah sibuk dengan diri sendiri. Oke, saya mengakui itu. Saya bahkan berpikir bahwa saya ini adalah tipe orang yang dalam komunikasinya sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Melalui Daskom juga saya seperti dinasehati bahwa sebaiknya jika berada dalam keadaan terdesak atau terburu-buru lalu ada orang yang mengajak berkomunikasi, sebaiknya ungkapkan bahwa kita–atau lebih tepatnya saya–tidak punya waktu untuk berbincang dan mendengarkan. Itu lebih baik daripada berpura-pura mendengarkan. Hmm, saya sering begitu, pura-pura mengerti dengan menganggukkan kepala. Aduh…

Saya ini tipe orang yang dalam berkomunikasi sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Pada akhirnya, saya mendapat manfaat belajar Daskom. Hei, ini bukan testimoni yang harus dikumpulkan dalam kelas responsi untuk mendapatkan nilai. Ini sungguh untuk membuktikan bahwa Daskom itu penting, bahkan bisa jadi untuk semua departemen di sini 😀 . Bagaimana bisa seseorang berkomunikasi dengan baik jika tidak mengerti apa saja yang bisa menjadi gangguan dan hambatan? Ini sekaligus sebagai pembelaan pada mereka yang berkata bahwa departemen Agronomi dan Hortikultura belajar Daskom untuk mengajak bicara para tumbuhan. Lawakan macam apa itu? Hahaha.

Saya ingat di awal belajar Daskom di kelas kuliah, dikatakan bahwa banyak sekali riset yang telah dilakukan mahasiswa maupun kalangan akademisi lainnya. Tapi kuantitas bukanlah tujuan utama. Manfaat apa yang dapat dirasakan manusia dari hasil penelitian, itulah yang menjadi tujuan. Bagaimana menerjemahkan skripsi berbahasa ilmiah pada orang awam? Komunikator, merekalah tonggaknya. Mereka orang-orang yang mampu menjadi jembatan, menerjemahkan skripsi dan penelitian menjadi sebuah pemahaman yang sifatnya umum, dapat dipahami oleh siapa saja.

Masih berpikir ilmu itu ada yang sia-sia? Ilmu hitam kali.

Cemara

Waktu itu malam hari pas road show beasiswa KSE di belakang CCR, kakak yang menjadi pembicara disebut sebagai mantan Direktur IPB Mengajar. Itu bukan unit kegiatan mahasiswa tapi lembaga struktural yang geraknya di bawah BEM KM IPB. Waktu itu saya belum tau apa-apa, belum mengerti detail seperti apa IPB Mengajar. Yang terlintas cuma fakta bahwa pasti mengajar, mengajar lagi.

Sebelum ke Bogor, jauh, jauh, jauh hari, saya suka nonton Lentera Indonesia. Itulah “pasukan” yang dikirim ke pelosok untuk mengajar. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tertarik dengannya. Setiap kali ada foto atau film yang bercerita tentang itu rasanya mau juga. Ikut pelatihan, dikarantina, ketemu orang-orang baru… wuih! Pengalamannya yang sulit digantikan.

Sebelum pergi jauh-jauh harusnya saya siap-siap. Bagaimana bisa bertahan kalau belum mengenal lingkungannya? Persiapan itu saya wujudkan dengan bergabung di sini, IPB Mengajar. Tidak banyak, saya bersama sekitar tiga puluhan orang. Pertama kali beraktivitas bersama yaitu di program Manajemen Mengajar. Saya kaget berjumpa dengan anak-anak kecil yang hmm… senang lari saat kami sudah mulai menulis angka di papan tulis. Begitulah.

Saya pernah berdoa untuk diloloskan dalam sebuah organisasi. Waktu itu ketika berdoa saya diliputi kecewa. Sudah saya lalui empat wawancara menuju organisasi dan kepanitiaan dan kesemuanya “menolak” saya. Hipotesis yang ada dalam hati saya yaitu saya menjawab pertanyaan dengan tidak jujur, dibuat-buat, diatur sekeren-kerennya. Hasilnya? Tidak keren.

Dalam awancara terakhir, saya menjadi diri saya sendiri. Saya ungkapkan bahwa berita tentang Lentera Indonesia yang digerakkan oleh Pengajar Muda membuat saya kecanduan. Karena apa? Karena itu yang saya cari, menjadi guru. Urusan itu kedengaran hebat atau tidak, itu belakangan saja.

Ting.
Saya lulus tes dan bergabung dalam IPB Mengajar tahun ini dalam Kabinet Cemara. Diambil nama cemara karena sang pembuat nama berharap orang-orangnya selalu sedia membuat perkumpulan ini hijau.

 

Pulang

Saya ingat sekitar sebulan lalu, pilkada serentak diadakan. Libur nasional ditetapkan presiden. Semua kuliah hari itu tidak aktif dan beberapa mahasiswa Jabodetabek pulang. Saatnya menghadiri pesta demokrasi di daerah masing-masing, lalu kembali membawa tanda ungu di jari kelingking.

Sampai sekarang sejak pilkada sudah sebulan lebih beberapa hari. Jangka waktu selama itu pula lamanya saya tidak pulang. Eit, bukan lebay, tapi memang sudah lama. Makanan di asrama rasanya sudah berubah. Apanya berubah? Rasanya. Mungkin karena ada campuran bumbu baper di dalamnya. Minuman yang biasanya cuma air putih terasa segar menjadi membosankan, mungkin karena lambung mengeluarkan hormon manja. Entahlah, sepertinya saya yang dulu waktu semester satu malah belagu mau lama-lama di asrama sekarang di semester kedua bahkan menunggu-nunggu laporan menyelesaikan dirinya sendiri.

Semester satu, jadwal kuliah hanya dari Senin sampai Jum’at. Itu pun tidak penuh dari pagi sampai sore. Paling banyak jadwal itu hanya tiga mata kuliah. Berbeda dengan hari Sabtu, jadwalnya menjadi sampai hari Sabtu. Ini jadi bahan ejekan–bisa dibilang begitu–oleh teman sekamar. Sabtu ceria, Sabtu ceria!

Bukannya sama mau menyalahkan hari Sabtu. Saya bahkan mau mengeluh mendapat jadwal hari Sabtu. Toh nanti terkesan jarang pulang, kan? Terkesan sibuk, toh? Tapi ternyata itu tidak juga menyenangkan.

Akhirnya minggu ini setelah laporan praktikum Fisika selesai tadi pagi, saya pulang. Dijemput di depan toko donat di depan gerbang kecil Berlin IPB, saya menuju rumah. Mau bertemu lidah buaya dan pohon cabenya Mamak yang mulai sakit sebulan lalu.

Saya selalu senang naik motor karena bisa dengan bebas kena udara yang memang bisa menampar-nampar muka. Tapi di situlah kelebihan motor. Leluasa juga melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan lain. Saya memang bertingkah sebagai orang yang serba betul. Mengomentari dalam hati, menertawakan juga dalam hati. Ada orang yang melawan arus bahkan ketika membonceng keluarga kecilnya. Biarpun dengan kecepatan yang rendah, ya, tetap saja itu salah. Masa iya hanya karena putarannya jauh kita bisa bebas dan seenak hati memakai jalanan? Ada pula orang yang memarkir mobilnya sembarangan ke tengah jalanan.

Lewat sebuah perjalanan yang tidak jauh saya bisa mendapat banyak cerita. Itu salah satu alasan untuk bersyukur hari ini. Asrama yang penuh warna biru yang katanya menenangkan ternyata tidak cukup menghibur mata. Lantai keramiknya yang dingin membuat gerak lambat. Lorong-lorongnya membuat kepekaan kadang tumpul. Hmm.. sebenarnya tidak begitu tepat seperti itu, tapi dipukul-pukul oleh angin di atas motor seperti membuat kulit menjadi lebih peka. Seperti lancar aliran darah menuju otak, membuatnya mampu berimajinasi bebas.

Intinya, hari Selasa libur, itu karena tanggal merah. Bagi siapa saja anak asrama yang sudah tiba di rumah, semoga waktu kalian bisa digunakan dengan baik. Bagi yang masih menahan rindu? Semoga kuatlah 🙂 Bukan hari ini, tapi bisa saja lusa, bulan depan, tahun depan, nanti, memeluk rumah adalah keniscayaan.

Semangat! Bukan karena nanti ada tanggal merah, melainkan karena besok hari Senin. Hari yang harus disambut karena banyak harapan dan rencana yang bisa diperbarui.

“Tuanku Imam benar. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit.” (Tere Liye: Pulang)

 

Pulang