Di Gedung Kita

Wajahmu cerah saat menyapaku di pintu
Kaubilang ini hari istimewa kita
Kaubilang sudah berdandan yang hebat
Kau ciptakan potret terbaik, bersamaku

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Batas akhir sebuah kebersamaan
Putih abu-abu yang penuh kenangan

Apakah sebuah prosesi 240 menit cukup bagi kita
Sebagai pemuas rindu, pengganti semua waktu yang hilang?
Bahkan jika itu sehari semalam lamanya
Adakah hal hebat yang bisa kita tempuh?

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Perpisahan adalah hal yang nyata
Meski seerat-eratnya genggaman kita

Acara ini usai, dan
Ratusan foto sudah diabadikan
Anak dan orangtua pulang bergandengan

Pada gedung yang sudah ditinggalkan kini,
Kursi-kursi yang disusun rapi,
Lantai yang kembali bersih tapi sepi,
Panggung yang tinggal sendiri,
Pendingin ruangan yang menebar sunyi,
Aku melambaikan tangan
Bayangmu bersama 29 lainnya juga melambaikan tangan

Jalanku bisa jadi sepi
Dan bahumu, jauh untuk diraih
Tapi sampai nanti, jangan pergi dari hati
Tiga tahun kita hebat dan kaulah pelangi

 

24-04-2016
Setelah acara pelepasan siswa MAN 7 Jakarta

Iklan

Mataku Melihatnya

 

Sinar putih kekuningan sang mentari sudah tiba di jendela kamar. Suara kesibukan terdengar di sudut-sudut gedung ini. Satu jam lagi kuliah pagi dimulai. Aku bergegas meraih kacamata, memperbaiki posisinya di pangkal hidung. Tidak lama kemudian menyapa satpam di pintu depan lalu duduk menunggu di sofa panjang sambil menikmati sarapan.

ooo

 

Jam tangan kulit yang mengkilat. Keren kau ya!

            Sekelompok orang yang duduk melingkar sedang bercakap-cakap. Suara tawanya terdengar dari sini, delapan meter jaraknya. Sepertinya salah satu di antara mereka telah membeli barang itu dari toko online. Diskon akhir tahun. Sama seperti beberapa orang yang berlalu-lalang tadi. Pergelangan tangan yang mengkilat diterpa cahaya matahari.

Wih, keren juga gaya hijabnya!

            Aku mengarahkan pandangan pada tiga orang gadis yang baru saja melewatiku. Dengan motifnya yang unik ditambah modelnya yang tidak biasa, salah satu di antara mereka tampak cerah. Mereka berjalan menuju pintu samping. Tiga orang yang berpakaian senada dengan orang itu berdiri menunggu. Berbincang sebentar lalu keenamnya berbaris acak dan memberi senyum indah. Mungkin ada lima foto dengan bermacam gaya.

Sepatu baru! Kenalan dong!

            Sepasang manusia berbincang ringan dari arah kiriku. Yang laki-laki berusaha menginjak kaki kiri orang disebelahnya—seakan berkenalan—dengan usilnya. Yang berusaha diinjak justru berhenti, cemberut. Entahlah itu tanda jengkel atau merajuk.

“Heee, pagi-pagi bengong aja!” Alfa duduk di sebelahku sambil menepuk bahu.

Aku menoleh padanya.

“Coba itu makanan diperhatiin. Ada lalatnya tuh.”

Aku diam.

“Dan ini… coba dilepas. Biar gak kebanyakan liatin orang. Punya orang diperhatiin, tapi roti sendiri dibiarin berlalat. Iuh.” Alfa menarik lepas kacamataku.

“Eh, apaan sih. Mau kuliah nih.” Kacamata di genggamannya berusaha kuraih.

“Rabun jauh itu bagus buatmu, deh, Mar,” Ia berdiri menarik tanganku, “biar gak fokus sama kelebihan orang dan sadar dengan apa yang kamu punya.”

Aku meraih tasku.

“Jangan lupa buang rotimu, tuh. Dilalatin.”

 

Aku senang melukismu
dengan cerita masa lalu
berharap dengan membacanya lagi dan lagi
kau di sini
lalu kita kembali

 

p.s.
rasanya mau balik ke asramaaa

Tentang Malam Itu

Ada waktu dalam hidupmu ketika malam begitu sulit dilalui.

Malam itu akan sangat panjang, sama panjangnya dengan sedihmu yang sedang takut kehilangan. Hewan malam akan menambah rasa, bernyanyi tentang sepi. Jangan lihat langit beserta dalam hitamnya. Cukup pandangi kaca jendela. Di sana, carilah pantulan dirimu. Temukan makna perpisahan, temukan arti jauhnya jarak.

Tapi malam itu juga akan sangat pendek, sama pendeknya dengan kebersamaan yang kau rasakan. Suara embusan napas, dinginnya lantai, dan semua sudut pandang yang kau dapat seperti ingin disimpan, dijaga, dibawa serta. Jangan hanya pandangi jarum jam sebab itu menghabiskan waktumu dengan sia-sia. Cukup tarik napas perlahan dan mensyukuri pertemuan, gembirakan hati dengan kisah-kisah dulu saat perkenalan.

Ada satu dari sekian malam-malammu yang begitu sulit didefinisi. Kau akan menolak tidur, bertahan semalam mengejar kebebasan melalui tulisan. Kau pasti akan mengajak bicara layar kotak di hadapanmu. Berdiskusi tentang kalimat terbaik untuk meluapkan perasaan. Membahas tentang betapa panjangnya malam itu sekaligus resah mengenai malam yang juga terasa pendek.

Jika harus membiarkan mengalir tetes air mata, letakkan di tempat yang benar, di saat yang tepat. Laporkan tentang panjang-pendeknya rasa malam pada pemiliknya. Laporkan tentang beratnya mendefinisikannya.

Ada waktu dalam hidupmu ketika malam begitu sulit dilalui. Mungkin kau tidak butuh penjelasan atas mengapa? tapi hanya kekuatan. Lalu karena kau butuh, maka sebutkan dalam doamu pada Yang Maha Dekat.

Jalan Pulang

Bagi saya, pulang adalah satu kata yang berharga.

Pulang adalah suguhan bagi para pengembara. Seperti apapun keadaan mereka, pulang adalah keniscayaan.

Setiap perjalanan bisa mengubah keadaan, baik lebih cemerlang atau lebih lusuh. Bagi mereka yang merasa lusuh dan hampir jatuh, pulang bukan tanda kalah. Pulang bukan pertanda perjalanan menjadikannya pecundang, pun pengkhianat. Pulang, bagi mereka adalah waktunya mengisi semangat dan mencuci debu yang menutupi jati diri. Pulang juga waktunya napak tilas untuk menguatkan cita-cita. Karena tiap langkah mereka menuju rumah bisa memperbesar bara impian.

Pulang, bagi para pemenang tentu sebuah kebahagiaan. Tampaknya tiada kebahagiaan lebih tinggi dari perjalanan pulang mereka. Tapi tidak boleh ada rasa tinggi hati telah meminang impian. Kepulangan ini justru harus menyebabkan saudaranya memperoleh teladan yang hebat dalam menyulam mimpinya sendiri.

Pada akhirnya, tiap kepulangan kita memiliki makna sendiri. Maka mari menjalani ‘perjalanan pulang’ kita sendiri.

Kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian
hanya saja,
ada yang terkurung di ruang gelap tanpa cahaya
sementara yang lain menghuni kamar berjendela

-Kahlil Gibran-