Formasi Empat yang Bahagia

“Apa yang sedang kaupegang itu, An?” Aku menghampiri An yang sedang memegang kertas kecil. Kelihatannya catatan belanja, eh mirip begitu.

An tetap berdiri, lama tidak menjawabku. Matanya, dan oh tentu saja pikirannya dipusatkan untuk membaca tulisan itu. Tulisan yang bukan sebuah cerita karena bentuknya memanjang ke bawah. Seperti puisi. Tulisannya rapi dan kecil-kecil.

“Surat.” An menarik napas. “Baca sendiri. Kamu sudah besar, tidak usah minta dibacakan.”

Dalam hati aku menertawakannya. Memangnya siapa yang minta seperti itu?

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu, hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku

Awalnya berdua
Menjadi tiga
Akhirnya empat, kita sempurna
Ke mana pun, formasi ini tetap sama
Berjalan-jalan dan berkeliling kota
Melintasi daratan, kita bertamasya
Menyeberangi lautan, kita pulang ke desa
Ke mana saja, formasi ini sempurna

Di warung-warung tenda mengisi perut
Di wisma pinggir kota memejamkan mata
Di gunung-gunung menghirup segarnya udara
Di kebun buah memetik segarnya alam
Di jalan menuju pulang kita bersyukur indahnya bersama

Kapan pun, formasi kita sama
Di angkot, becak, andong,
Di kereta, taksi, perahu
Di kapal, pesawat, dan nanti roket
Formasi empat yang bahagia

Hari ini, aku sedang mengingat kembali perjalanan-perjalanan
Yang tidak jarang terlupakan sebab tidak diabadikan
Semua tak beraturan dalam ingatan, sebab sedikit video atau jurnal
Yang kurasakan dan selalu tersimpan hanya satu: kebersamaan

Hari ini, Sang Waktu menegurku
Padahal ada yang masih berceceran, melayang-layang
Padahal aku belum selesai merangkai perjalanan kita dalam ingatan
Katanya aku harus berkemas

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku,
Sang Waktu menyuruhku berangkat hari ini

“Hari saat kau pergi, itulah hari ini
lepas dari formasi empatmu yang bahagia ini.”

Satu tahun, dua tahun, atau lebih
Waktuku untuk pergi sendiri
Agar warung-warung tenda bisa menyajikan yang lebih bergizi
Agar wisma-wisma kita berubah, bergaya seni masa kini
Agar gunung-gunung di sana tetap hijau lestari
Dan agar kebun buah mampu menjadikan negeri ini mandiri

Tiga tahun, empat tahun atau lebih
Waktuku untuk pergi sendiri
Percayalah, aku bisa pergi sendiri
Begitu banyak yang sudah kususun menjadi bekal diri
Dari perjalanan kita selama ini

Lima tahun, enam tahun, atau lebih
Aku tidak mau sebutkan tahun kapan aku kembali
Tak juga mau janjian aku pasti kembali
Sebab usia ini, diri ini, bukanlah miliknya sendiri
Hanya bisa pastikan, aku selalu ingin kembali

Untuk yang ditakdirkan melengkapiku
Menjalani dua puluh empat jam seminggu, hari-hariku
Menuntun langkah kecil patah-patahku
Menunjukkan bagaimana seharusnya lariku

Formasi kita memang akan lubang satu, maafkan aku
Tapi formasi empat atau tiga, aku ingin semua bahagia
Sebab sebuah keluarga tidak peduli formasi

Dan keluargalah yang menantiku kembali

 

Aku terdiam menatap An.

“Mirip sekali, bukan?”

“Apanya, An?”

“Mirip kamu yang sebentar lagi akan pergi.”

Aku tidak membalas kalimatnya. “Aku seperti pernah membaca ini, An. Tapi tidak tahu di mana. Kamu yang menulis ini?”

“Mirip kamu, Mari. Lihat judul di baliknya! Surat itu persis seperti isi hatimu.” An tidak mau kalah. Dia menunjuk judul itu. Untuk Tiga Insan Istimewa.

Hawa dingin karena hujan membuatku merinding. Hujan… Aku tahu di mana itu kota hujan. Entah istilah atau memang nyata. Di sanalah aku nanti. Dan bagiku, tiga orang berharga yang menungguku kembali… keluarga ini.

“An, biarkan aku yang simpan ini ya.”

Aku melipat kertas itu, menyimpannya. An benar, mirip sekali dengan isi hatiku. Formasi empat yang bahagia. Ah, bahkan aku mulai merasa dirikulah yang menulis surat ini.

Ranah Nuraini

Satu pagi di hari libur jadwalku mencuci piring. Mendengar kicauan burung di pohon sebelah rumah rasanya membuat semangat. Apalagi saat ini aku bermain-main air. Emm, maksudku berada di air. Jadi rasa sejuknya seperti meresap di kulit membuat hati riang. Saat itu juga ketika piring dan gelas kotor masih menumpuk, ya saat itu semua belum selesai, kepalaku seperti memproduksi daftar kegiatan yang ingin kulakukan. Menghayal? Tidak, tidak. Karena perkerjaanku tetap berjalan. Cuci, bilas, angkat.

“An. Di mana kamu?” Aku memanggil Nuraini. Sapaan tadi adalah nama yang disukainya. Kedengaran kebarat-baratan, ya? Tapi memang begitu yang diinginkannya, jadi ya sudahlah.

“Hm. Kenapa?” An muncul pelan-pelan.

“Aku bersemangat, An. Bisakah kamu melihatnya?” Aku tersenyum dan mempercepat gerakanku mencuci piring.

“Terus kenapa? Wajarlah. Ini masih pagi.”

“Aku bahkan sudah membuat daftar kegiatan yang ingin kulakukan, An.”

“Oh. Aku tahu itu. Aku melihatnya sebelum ke sini.”

“Akan kulakukan semua hari ini, An. Lihat ya!” Aku menyelesaikan kalimatku bersamaan dengan panci besar yang selesai dicuci. Oke, selesai sudah. Lihat nanti, An, semangatku akan membawaku mengerjakan semua yang ada di list itu. Ini semua akan goaaal! Dan yang terpenting adalah rumahku bisa bersih cling cling.

Aku menuju ruang tengah mulai menyapu.

♦♦♦

Aku memperhatikan kain pel yang kupegang. Perasaanku mengatakan bahwa tadi kain ini sudah benar-benar basah. Tapi sekarang sangat kering. Apa aku lupa? Eh mungkin karena agak lelah jadi begitulah. Dari posisi jongkok, aku berdiri meluruskan pinggang.

“Kayaknya capek.” An berkata datar mengomentari tingkahku. Aku tidak meresponnya. Buru-buru aku mencelupkan kain ini ke ember perisi pewangi lantai.

“An, menurutmu apa aku lanjut menyikat kamar mandi?”

“Hei kenapa bertanya padaku? Kamu yang membuat daftar itu.”

“Kan aku hanya bertanya, An. Ber-ta-nya.” Aku mulai mengepel ruang tamu.

“Ya, dan aku hanya menjawab, kan? Men-ja-wab.”

Aku terdiam memikirkan kata-kata An. Sebenarnya aku berpikir bagaimana menjawabnya. Ah tapi itu tidak penting. Baiklah, tidak perlu marah. Tenang, tenang. Aku melanjutkan pekerjaanku hingga dapur tanpa memedulikan An lagi. Ruang tidur, ruang keluarga, lalu dapur.

“Aku bersemangat, An. Bisakah kamu melihatnya?”

“Aku bahkan sudah membuat daftar kegiatan yang ingin kulakukan, An.”

“Akan kulakukan semua hari ini, An. Lihat ya!”

♦♦♦

Tanganku sudah memutih dari tadi. Saat ini sudah hampir setengah jam aku berada di dalam kamar mandi. Tetapi ini tidak seperti saat aku masih kecil dulu. Waktu itu aku dihukum untuk mandi. Apa? Dihukum mandi? Walah.

Aku masih siswa sekolah dasar waktu itu. Sore hari, banyak film anak yang ditayangkan di televisi. Nah itulah yang membuatku dihukum untuk mandi. Aku bukan menyalahkan film, tapi gara-gara film itu aku jadi malas mandi, dan ujungnya adalah hukuman itu, dikunci dari luar dan disuruh mandi. Aku tidak menyalahkan!

Itu waktuku kecil. Sekarang sudah berlalu masa-masa malas mandi 🙂

Hampir setengah jam di dalam kamar mandi aku mengelap dinding-dindingnya, menyikat lantainya. Menata ember, alat mandi, dan perlengkapan lain. Seharusnya lebih banyak menyikat daripada menyiramnya, tapi aku tidak. Disamakan saja. Sikat-siram dan sikat-siram. Belum lagi keluhan yang keluar dari mulutku. Memang, sih, ada yang tidak kusengaja. Tapi itu sedikit membuat kerjaku melambat. Begitu pun asam laktat yang (aduuuh) seperti bertumpuk di otot-ototku. Di kaki, punggung, apalagi di tangan. Oh asamku sayang!

“An…” aku berhenti sejenak, “kamu kenal asam laktat?”

“Siapa dia?”

“Itu, An, yang muncul di otot saat kita olahraga, beker—“

“Stop! Aku tahu dia. Si asam lelah.” An memotong kalimatku. “Kamu mau bilang dia membuatmu lelah?”

Aku terheran. “Apa? Memang begitu, kan? Dia bikin lelah? Ya iyalah!”

“Jangan kamu salahkan dia dong! Memangnya kamu berhak?”

“Lha?! Aku tidak menyalahkan, An. Tapi memang gara-gara dia aku jadi lelah.” Aku menahan diri mengingat ini masih di dalam kamar mandi. Baiklah, kuminta An menunggu aku membereskan pekerjaan di situ, lalu keluar.

Setelah membereskan semua aku berpikir untuk pergi tidur. Ya, hahaha aku lelah. Padahal baru beberapa dari kegiatan di list yang kuselesaikan. Tadi kucari An untuk menyelesaikan masalahku dengannya. Tapi dia entah ke mana. Mungkin nanti lain kali aku akan melanjutkan debat kami. Saat itu… aku lelah. Aku meraih gagang pintu kamarku.

“Kau tadi pagi bilang,” An menghampiriku tiba-tiba, “semangatmu akan menyelesaikan semua tugas rumah ini.”

Lihat nanti, An, semangatku akan membawaku mengerjakan semua yang ada di list itu. Ini semua akan goaaal! Dan yang terpenting adalah rumahku bisa bersih cling cling.

“Hahaha, kau bercanda, ya? Aku lelah, An. Dan… oh ya! Ini tentang asam lelah itu. Ya, karena di dalam tubuh manusia ada asam lelah, An. ADA. Jadi jangan salahkan aku jika sekarang aku lelaaaah.”

An memandangku dengan pandangannya yang… hm sedikit meremehkan. “Catat baik-baik, ya. Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya berpikir, kenapa baru sedikit yang kau kerjakan?”

Aku jengkel. “Keluar kau, An! Lihat pekerjaan rumah yang sudah kukerjakan! Apakah sedikit? Jawablah!”

An tidak bergerak sedkit pun dari posisi terakhirnya, berdiri menatapku di bawah bingkai pintu. Dia bahkan tidak mau sekadar memutar badannya sedikiiiit saja, melihat lantai yang bersih, atau mencium dari jauh wangi lantai kamar mandi.

“Hah, kasihan kau. Padahal tadi pagi kau bilang mau melihat rumah ini bersih cling cling. Kau tahu? Aku marah karena kau belum menyelesaikan keinginanmu.”

Aku sudah duduk di atas kasurku, siap untuk berdoa lalu tidur siang. Aku mencari kata untuk membalas An. Dia masih menatapku. Marah, sedih, kusut entahlah.

“Kau bahkan tidak tahu rasanya lelah kan? Dia tidak ada di kamusmu, begitu kau bilang, kan? Kau selalu membuatku banyak mendaftar kegiatan! Kau optimis, optimis, dan optimis. Tapi aku mulai lelah!” Aku emosi. Hampir saja menarik rambutku sendiri.

An tetap diam menatapku. Tapi… ekspresinya. Ekspresi meremehkanku yang jelas-jelas ia tampakkan.

“Katakan, An! Kenapa saat aku semangat dan bekerja rasa lelah perlahan datang padaku! Kenapa aku lelah! Kenapa ada asam apa? Ya asam lelah yang kita bicarakan! An, itu menggangguku!!!” Aku jengkel didebat begini. Sudut mataku rasanya berair.

“Kau lebay, kau tahu? Ini belumlah meraih cita-cita,” An menghampiriku.

Aku mengabaikan kata-katanya. “Kenapa, An? Aku ingin cepat bersih tapi bersih-bersih jadi satu-satunya cara. Aku lelah tapi banyak yang kau daftar, An. Katakan kenapa aku lelah… aku mau pergi tidur saja dulu…” Aku merasakan air mengalir menuju bibirku, asin.

“Katakan, An! Kenapa aku kalah dengan lelahku sendiri, An?”

“Jawablah…” Aku menangis, “kenapa manusia… dilahirkan dengan rasa lelah… An?”

An masih diam di tempatnya, menatapku. Tapi ekspresinya seperti mencari jawaban dari diriku.




Tentang Nuraini.
Aku pertama kali berbincang dengannya di pinggir jalan.