Kita dan Kota Petir

Ini jam sepuluh malam di salah satu jalan ramai di Kota Belimbing. Entah itu ramai karena ini hari Sabtu dan besok masih akhir pekan atau memang jalanan ini tidak pernah sepi. Dua jam lagi tengah malam dan jalan di depan bahkan macet. Bahkan motor yang bianya mudah terselip di mana-mana sekarang harus sabar menunggu gilirannya melintas, bergantian dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Jika mengikuti julukan yang entah dari mana datangnya, kota ini bisa disebut sebagai Kota Petir. Tidak perlu takut sungguhan petir sering menghantui karena sekarang hujan pun tidak deras, hanya sanggup membuat basah tisu yang dibentangkan di atas tempat duduk di motor. Tidak perlu takut juga karena ini sudah lewat satu jam setelah jam malam asrama yang biasa diberlakukan. Inilah waktu liburan ketika tidak ada yang membuat khawatir, utamanya jam malam.

Selagi masih tersisa sekitar seminggu lagi bulan Ramadhan, hari ini diadakan buka bersama dengan teman lama. Mereka adalah puluhan orang yang selama hampir tiga tahun lamanya pernah menanggung malu, bersusah-payah, membandel, dan bersenang-senang bersama. Orang-orang yang ditemui delapan jam tiap hari dan lima hari dalam seminggu. Mereka yang satu kelas dan satu seragam, satu tugas dan satu guru. Malam ini diberi judul buka puasa bersama, satu yang tampak berbeda di antara kita: masa depan.

Ini bukan bicara tentang indah atau kaburnya jalan yang ditempuh masing-masing kita. Seperti kata seorang guru sebelum kita diusir dari sekolah, kehidupan di madrasah kita akan berbeda dengan kehidupan setelahnya. Jalan kita akan berbeda, seperti yang terjadi pada setiap kita dan pemikiran di dalamnya.

Tujuh hari yang akan datang adalah hari yang fitri karena itu adalah hari kemenangan. Rasanya diri ini jauh dari predikat itu: menang. Melihat kalian seperti melihat mimpi-mimpi sendiri yang masih tertulis dalam daftar seratus impian yang terlipat di dalam dompet. Tapi menghadiri kebersamaan kita seperti menuangkan keruh dalam perjalanan meraih mimpi sebab tiba-tiba timbul rasa takut kehilangan. Jika begini, bisakah kemenangan diraih menghadapi dunia?

Ini yang keempat dan pasti bukan yang terakhir. Entah yang kelima akan diadakan di rumah siapa dan kapan, itu tidak bisa ditebak dan belum bisa didiskusikan. Yang menakutkan bukanlah berhentinya kita bertemu melainkan berhentinya kita saling mengenal dan peduli. Terasa menyeramkan ketika membayangkan kehilangan kalian.

Di jalan pulang menuju rumah, sinar lampu jalan yang jingga menambah keruh hati. Barisan toko-toko di Jalan Raya Tanah Baru seperti menatap menyalahkan. Apakah di sisa waktu penghabisan Ramadhan diri ini mampu menjadi pemenang? Di sisi lain kedatangan dalam acara kita adalah karena ingin bertemu, takut kehilangan, dan khawatir berpisah?

Dunia ini begitu berat. Rumit pula terasa. Salahkan saja hati ini yang terlalu lebar terbuka dan sangat kaya dalam perbendaharaan rasa. Salahkan pula kota ini yang terlalu lekat dalam ingatan. Dan terakhir, salahkan cinta yang diberikan asal-asalan, tidak pada Sang Pemiliknya.

 

Jika di dunia ada ketakutan akan kehilangan, bisakah diraih kemenangan atas dunia?