Hijau atau Biru

Saya berdiri di depan kompor. Sendok kayu panjang di tangan kanan dan serbet di tangan kiri menempel di wajan. Pagi, saatnya kolaborasi dengan Mamak untuk siapkan sarapan. Itu satu pagi yang biasa di rumah, tidak di asrama. Sudah hari libur, bahkan tidak lama lagi harus kembali ke asrama. UAS menunggu dihadapi. Asrama menunggu didatangi. Teman-teman baru di sana (mungkin) menunggu disapa 😀

Waktu bawang sudah mulai cokelat, nasi sudah diturunkan semua, sambal sudah dicampurkan, garam sudah diaduk rata, saya ingat satu teman yang sebentar lagi jadi teman sekamar di kos. Yaa, dia orang yang mencari sensasi, memang mudah diingat.

Pagi itu, sambil menggoreng nasi saya teringat calon maba IPB itu. Dia adalah mahasiswa IPB yang sedang berusaha menjadi maba IPB.

Senang rasanya punya teman yang belajar tentang perikanan. Dengan jurusan (baca: departemen) yang unik pula: Manajemen Sumberdaya Perairan yang disingkat MSP. Itu punya warna khas sendiri, biru.

Dengan tiba-tiba, dia bilang akan mengikuti satu ujian masuk. Itu ujian mandiri yang tidak pernah dia rencanakan (untuk diceritakan). Memang, sih, ujian itu tidak akan mengubah rencana kami tinggal di kos yang sama. Bahkan kampus yang dia inginkan tetaplah kampus yang sama! Hanya masalah jurusan yang dia ingin pindah. Tapi keputusan dia ikut tes itu… duh. Dadakan!

Dia sekarang ada di fakultas perikanan. Sebelum bilang akan ikut tes, dia menyebut satu jurusan (baca: departemen) yang ada di fakultas pertanian. Menurut saya itu memang keinginan dia. Dengan kemampuan membuat kaligrafi yang diatas rata-rata waktu dulu di pelajaran seni budayanya MAN 7, saya maklum mengetahui pilihan dia. Jadi, kenapa itu pilihannya? Sederhana, karena dia senang menggambar.

Tapi dia bilang satu jurusan lain yang dia lirik. Saya sudah tanya. Katanya sudah lihat mata kuliahnya yang menarik. Jurusan ini jadi pilihan keduanya. AGH.

Ini hari Sabtu. Dua hari lagi pengumuman itu datang. Tanggal sepuluh, entah jam berapa, pengumuman Ujian Talenta Masuk IPB akan bisa diakses oleh setiap pesertanya, dan salah satunya adalah teman saya. Lewat pesan langsung, dia minta didoakan.

Hari ini, saya menulis tentang dia, hahaha. Ketua Tari Saman MAN 7 yang suaranya melengking, yang sembilan hari lagi menjadi teman sekamar, yang suka sekali bolak-balik Bogor-Depok, yang takut dengan cacing. Niat saya menjadikan tulisan ini berbentuk surat. Biarlah dia saya suruh baca nanti setelah pengumuman.


 

buku-penugasan-ukuran-4x6.jpg

Ini fotonya Agronomi dan Hortikultura 53 dengan nama Phoenix. Ingat ya, kurma!

Hei teman, saya tunggu, ya.

Tapi tidak juga berharap sekali kau ada di antara kami, Phoenix ini. Tidak juga terlalu ingin kau bisa ikut di setiap kegiatan di ladang nanti. Pun tidak terlalu berharap kau akan bergabung, menerima label (NIM) dengan huruf A di depannya.

Tunggu, iya cuma menunggu. Dua hari lagi pengumuman ada.
Bisa jadi kau bisa mengikuti impianmu. Sibuk dalam urusan gambar-menggambar.
Tapi bisa juga kau tetap dalam warna birumu, tidak pindah ke sini, ke zona hijau.

Makanya saya tunggu. Pengumuman itu akan tiba.
Apapun hasilnya, itu pasti yang paling baik.


 

Selesai memikirkan teman itu, saya kembali fokus ke nasi goreng. Sudah harum dan merah. Saatnya menyeduh teh dan menarik keluar lauk dari dalam lemari.

Jika saja–ini bukan permohonan tapi permisalan–dia harus tetap di perikanan, itu hebat.
Bukankah saya pagi ini makan nasi dengan lauk?
Saya hijau, sudah tentu pertanian daerahnya. Budidaya tanaman pangan, obat-obatan, sayur, dan sebagainya. Ranahnya darat.
jika saja dia tetap biru, dunianya perikanan. Harus banyak yang memperhatikan tentang ikan-ikannya negeri ini, caranya supaya sampai di piring dengan baik dan tetap sehat.

Iklan