Cemara

Waktu itu malam hari pas road show beasiswa KSE di belakang CCR, kakak yang menjadi pembicara disebut sebagai mantan Direktur IPB Mengajar. Itu bukan unit kegiatan mahasiswa tapi lembaga struktural yang geraknya di bawah BEM KM IPB. Waktu itu saya belum tau apa-apa, belum mengerti detail seperti apa IPB Mengajar. Yang terlintas cuma fakta bahwa pasti mengajar, mengajar lagi.

Sebelum ke Bogor, jauh, jauh, jauh hari, saya suka nonton Lentera Indonesia. Itulah “pasukan” yang dikirim ke pelosok untuk mengajar. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tertarik dengannya. Setiap kali ada foto atau film yang bercerita tentang itu rasanya mau juga. Ikut pelatihan, dikarantina, ketemu orang-orang baru… wuih! Pengalamannya yang sulit digantikan.

Sebelum pergi jauh-jauh harusnya saya siap-siap. Bagaimana bisa bertahan kalau belum mengenal lingkungannya? Persiapan itu saya wujudkan dengan bergabung di sini, IPB Mengajar. Tidak banyak, saya bersama sekitar tiga puluhan orang. Pertama kali beraktivitas bersama yaitu di program Manajemen Mengajar. Saya kaget berjumpa dengan anak-anak kecil yang hmm… senang lari saat kami sudah mulai menulis angka di papan tulis. Begitulah.

Saya pernah berdoa untuk diloloskan dalam sebuah organisasi. Waktu itu ketika berdoa saya diliputi kecewa. Sudah saya lalui empat wawancara menuju organisasi dan kepanitiaan dan kesemuanya “menolak” saya. Hipotesis yang ada dalam hati saya yaitu saya menjawab pertanyaan dengan tidak jujur, dibuat-buat, diatur sekeren-kerennya. Hasilnya? Tidak keren.

Dalam awancara terakhir, saya menjadi diri saya sendiri. Saya ungkapkan bahwa berita tentang Lentera Indonesia yang digerakkan oleh Pengajar Muda membuat saya kecanduan. Karena apa? Karena itu yang saya cari, menjadi guru. Urusan itu kedengaran hebat atau tidak, itu belakangan saja.

Ting.
Saya lulus tes dan bergabung dalam IPB Mengajar tahun ini dalam Kabinet Cemara. Diambil nama cemara karena sang pembuat nama berharap orang-orangnya selalu sedia membuat perkumpulan ini hijau.

 

Iklan