Daskom Mengakhiri

Ini bulan April. Sejak tanggal enam hari Kamis lalu makhluk-makhluk PPKU melaksanakan ujian tengah semester. Ujian ini biasanya disebut ujian sesi UTS. Bisa mencakup lima bab materi, enam bab, atau tujuh bab. Berbeda sendiri itu ya Landasan Matematika. Sesi UTS-nya hanya meliputi tiga bab yang saya akui memang wajarlah tiga.

 

102_0030

UTS kedua. UTS bulan April. UTS bersamamu, T03.

 

Hari ini terakhir ujian bagi departemen AGH angkatan baru. Di saat orang di departemen lain masih harus memikirkan strategi untuk menaklukkan slide memahami materi, kami–PPKU departemen AGH–hanya harus memikirkan: strategi menghemat uang jajan. Itu karena libur lima hari sudah dimulai sejak kami selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian Dasar-Dasar Komunikasi.

Tadi siang tepatnya jam dua belas saya merasa lega dengan ujian. Selesai sudah. Daskom, begitu singkatan Dasar-Dasar Komunikasi, menjadi penutup rangkaian ujian. Seharian sebelumnya saya memahami apa itu persepsi. Ehm, sebenarnya tidak dramatis, hanya saja karena banyak interupsi, jadinya itu saya sebut seharian. Jadi… persepsi (bukan presepsi) adalah proses pemberian makna.

Persepsi adalah cara memberi makna. Wenburg & Wilmont

Hal lain seperti simbol verbal dan non verbal juga dipelajari dalam Daskom (tadinya saya tidak setuju dengan sebutan itu, tapi lama-lama seru juga menyebutnya). Selama sesi UTS ini mata kuliah yang dianggap oleh orang sekitar saya tidak relevan dengan AGH sering membuat saya terkejut. Bagaimana bisa?

Begini ceritanya. Saya pernah berbicara pada teman saya dan itu menceritakan sesuatu yang penting. Saya, katanya, bicara dengan lambaaat sekali. Bukan seperti lambat yang normal, tapi karena telat mikir, begitu katanya. Dan apa yang saya dapat dari belajar Daskom? Ternyata ketika berbincang dan saya terlambat merespon atau sulit menemukan kata yang tepat adalah karena selama pembicaraan saya sibuk mengeksplorasi pikiran saya sendiri. Saya tidak fokus menangkap pesan pengirim tapi malah sibuk dengan diri sendiri. Oke, saya mengakui itu. Saya bahkan berpikir bahwa saya ini adalah tipe orang yang dalam komunikasinya sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Melalui Daskom juga saya seperti dinasehati bahwa sebaiknya jika berada dalam keadaan terdesak atau terburu-buru lalu ada orang yang mengajak berkomunikasi, sebaiknya ungkapkan bahwa kita–atau lebih tepatnya saya–tidak punya waktu untuk berbincang dan mendengarkan. Itu lebih baik daripada berpura-pura mendengarkan. Hmm, saya sering begitu, pura-pura mengerti dengan menganggukkan kepala. Aduh…

Saya ini tipe orang yang dalam berkomunikasi sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Pada akhirnya, saya mendapat manfaat belajar Daskom. Hei, ini bukan testimoni yang harus dikumpulkan dalam kelas responsi untuk mendapatkan nilai. Ini sungguh untuk membuktikan bahwa Daskom itu penting, bahkan bisa jadi untuk semua departemen di sini 😀 . Bagaimana bisa seseorang berkomunikasi dengan baik jika tidak mengerti apa saja yang bisa menjadi gangguan dan hambatan? Ini sekaligus sebagai pembelaan pada mereka yang berkata bahwa departemen Agronomi dan Hortikultura belajar Daskom untuk mengajak bicara para tumbuhan. Lawakan macam apa itu? Hahaha.

Saya ingat di awal belajar Daskom di kelas kuliah, dikatakan bahwa banyak sekali riset yang telah dilakukan mahasiswa maupun kalangan akademisi lainnya. Tapi kuantitas bukanlah tujuan utama. Manfaat apa yang dapat dirasakan manusia dari hasil penelitian, itulah yang menjadi tujuan. Bagaimana menerjemahkan skripsi berbahasa ilmiah pada orang awam? Komunikator, merekalah tonggaknya. Mereka orang-orang yang mampu menjadi jembatan, menerjemahkan skripsi dan penelitian menjadi sebuah pemahaman yang sifatnya umum, dapat dipahami oleh siapa saja.

Masih berpikir ilmu itu ada yang sia-sia? Ilmu hitam kali.