Kaartje

Itulah tiga nama makanan/minuman khas Belanda yang diberi embel-embel –je (maknanya ‘kecil’).
Itu adalah kalimat di bagian akhir dari satu tulisan milik seseorang. Saya membacanya sudah lama tapi masih ingat juga untuk menulis ini, alhamdulillaah. Tapi apa hubungannya kutipan tadi dengan saya, ya?

Kaartje. Sudah saya lihat di kamus bahasa Belanda, itu artinya tiket. Ya, saya punya pengalaman menarik tentang tiket. Sudah lama terjadi sebenarnya tapi saya masih ingat. Sayang juga sih rasanya kalau tidak ditulis ulang. Soalnya ini kejadian yang menunjukkan betapa liciknya saya. Harus banyak belajar dari orang lain supaya lebih ‘polos’ dalam menjalani hidup.

Waktu itu akhir pekan sudah selesai. Saya harus segera pulang alias pergi dari rumah karena rumah saya bukan lagi di sini. Singkatnya, saya harus sudah ada di Bogor sebelum dzuhur. Jadi saya menumpang kereta. Biasanya ada Bapak yang mengantar tapi waktu itu tidak bisa. Alhasil Mamak dan adek yang mengantar.

“Mak, mau sampe mana?”

“Stasiun Bogor.”

“Oh, kalau gitu bayarnya sampe Depok Lama saja, Mak.”

Ini dia. Ide ini datang dengan spontan sesuai aturan yang berlaku. Why?

Jelas. Mamak pasti tidak keluar dari stasiun. Pastinya lagi, sehabis turun kereta tanpa keluar dari peron dan tap tiket, Mamak naik kereta yang menuju Depok.

Ayolah, daripada harus membayar sampai Bogor sebesar tiga ribu rupiah, lebih baik membayar lebih murah dari itu. Cukup bayar satu stasiun setelah stasiun kotaku. Kalau bisa sih bilang ke petugas loket, “Pak, beli tiket yang ke sini.” Nah, bingung, kan? Lebih baik dilebihkan satu stasiun. Murah, sungguh.

“Paling beda seribu.”

“Mak itu berharga, Mak.”

Mamak tampaknya diam mengalah. Namun tiba-tiba dengan pelan, “Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?”

Oh, yeah! Sempurna sudah saya yang terdiam. Tambahkan satu fakta lagi: saya kalah. Mau bilang apa lagi?

Niat saya membayar sedikit bukan karena jahat (tapi saya takut ini niat jahat, hmm). Namun cepat dibalas Mamak, cepat diluruskan, diingatkan. Sebenarnya kalau mau kembali lagi ke stasiun ini tanpa keluar peron waktu tiba di Bogor, sih, tidak perlu membayar penuh. Toh tidak ditagih siapapun dan mesin tap tidak bisa menyalahkan sejauh apapun kita pergi.

But that’s it.
Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?

Mak, ideku tadi curangkah?
Aduh.

 

Inspirasinya dari tempat ini .

Iklan