Karena Si Merah

Kemarin tepatnya siang, saya masih menikmati libur. Seperti kebanyakan gadis desa lainnya, saya bantu-bantu Mamak di dapur šŸ˜€ . Yaa kapan lagi anak asrama bisa cerita-cerita sambil masak, ya kan? Jadi yaa begitulah tiap siangnya kalo libur. Mengumpulkan memori di dapur, hahaha. Jadi nanti ditanya, apa yang paling kamu rindukan? Jiah, ini sih jawabnya beda dari yang lain: Cerita sama Mamak di dapur.

Oke, kembali.

Jadi Mamak punya pohon cabe yang sudah besaaaar. Saking besarnya sekarang pohon itu sudah tunduk-tunduk sama semua orang. Buahnya yang tadinya dirasa gak sanggup dimakan sendiri, sekarang malah ditunggu dengan cemas, udah merah belum yaaaa? Belakangan, tepatnya bertepatan dengan kepulanganku ke desa ini, tiba-tiba ada kabar harga cabe naik. Mak, makasih ya Mak sudah melakukan langkah yang tepat demi keluarga kita: menanam cabe. Nah tadinya saya mikir begitu.

Hari itu akhirnya Mamak beli cabe. Dan menyambung cerita yang paling awal, hampir setiap hari Mamak butuh sambal. Jadi sayalah yang beraksi. Cabe, bawang, tomat, jeruk limo. Nah…

“Mak sini saya yang bikin.” Biasalah, kalo di rumah bahasanya dominan baku hahaha. Malah jadi aneh kalo bilang aku.

Mengalirlah ceritaaa. Biasa, ibu-ibu. Mulai dari cerita tentang bayi wangi telon yang tadi pagi jumpa di warung, tentang pohon nangka tetangga yang selalu dibagi-bagi buahnya šŸ™‚ , sampai cerita tentang masa lalu Mamak ketemu teman hidupnya–yang selalu inisiatifnya Mamak sendiri. Nah, namanya cerita, yaa cerita… Pasti ada bengongnya. Tapi ini lagi bikin sambel, oi!

Tuing!

“Mak panas Maaaaaak. Huaaaaaah!” Tebak, apa yang terjadi?

Dia loncat. Tidak, salah deh. Terbang lebih tepatnya. Ke mata. Oke ini masalah besar. Apa mata ini akan buta? Oh tidak! Toloooong, mata yang kiri susah dibukaaaa.

Betulan. Cabe yang terbang masuk ke mata itu gawat! Sempoyongan, rasa takut, sedih karena reaksi Mamak biasa saja, dan kesal karena mata ini susah dibuka, dan mau ketawa karena ini lebay!!!

“Cuci, jangan digosok. Jangan digosok.” Aduh, lalalalalala. Bagaimanalah ini. Serileks itukah, Mak?

Andai ada yang menghitung, pasti bilasan itu lebih dari jumlah wajib membilas sesuatu yang terkena najis. Kenapa? Karena ada ketakutan tidak bisa melihat lagi–meskipun reaksi Mamak tidak mendukung hal itu.

“Pasti merah. Memang begitu.” Aduh Mak, mana reaksi yang lebih pro pada anak?

“Saya juga dulu pernah.”

“Oh, iya, Mak?”

Berarti Mamak bereaksi berdasarkan pengalaman. Dan itu membuatku sakit hati, huhuhu. Masa anaknya takut buta sementara orangtuanya rileks saja? Walah!

Tapi yang membuat saya bingung… Bukan, maksudnya lebih seperti takjub. Sesudah bercermin dan mendapati mata kiri berwarna merah dan berair, rasa pedih tidak lagi hebat. Tidak sama seperti habis makan olahan mercon yang memberangus lidah. Wuih. Lepas bercermin dan melanjutkan menghaluskan tomat, saya mendapati dan baru menyadari bahwa ada organ yang tidak kekar tapi betulan kuat.

Sejam setelah itu, saya bahkan sesaat lupa telah mengalami kejadian yang… seperti itu. Itu karena rasa perihnya sudah hilang. Bayangkan kalo yang kena itu bibir atau pipi. Hilangnya lamaaa. Bahkan pernah saya kena di tangan. Eh maksudnya sengaja kena, hehe. Cabe dipotek sebelum ditumbuk. Jadinya sampai sore–seingat saya–tangan masih panaaas.

Karena si Merah, hari ini saya mempercayai sesuatu bukan berdasarkan kata orang. Mata sungguhan punya kekuatan penyembuh. Dicuci, terus bekasnya merah karena iritasi, tapi cepat hilang pedihnya. Satu jam berlalu… dan bekas merah bahkan tidak terlihat lagi.

Yo, siapa yang belum percaya? Silakan coba adegan di atas. Persiapkan dirimu.

N.B
Karena saran di atas konyol dan aneh, lebih baik kamu pindah ke sini. Kalo belum cukup, bisa cari sendiri. Tapi tolong jangan cari pengalamannya, tapi cari bacaannya šŸ˜€

Yang Tersimpan

Apa yang terjadi jika aku dan kamu masing-masing menyimpan banyak memori di satu tempat? Galau? Bukan, maksudku, bagaimana sulitnya menyimpan semua itu? Apakah kita menjadi manusia lemot yag lebih kaku dari robot? Hohoho. Mungkin tidak sampai seperti itu. Tapi rasanya penuh. Lelah?

Setiap melihat sebuah komputer atau handphone aku berpikir. Rasanya aku ingin bertanya langsung pada mereka satu per satu (ini bukan efek menyimpan memori terlalu banyak šŸ˜› ). Sungguh, rasanya ingin bertanya. Memori yang ada pada mereka, sebesar itu kapasitasnya, beratkah? Memangnya tidak mumet?

Isi memori mereka mungkin lebih banyak tugas presentasi atau makalah empunya. Tapi bagaimana dengan foto-foto? Tugas berupa makalah, kan, jelas, sangat berguna sampai kapan pun. Jadi bahan belajar. Bagaimana dengan koleksi foto-foto kenangan? Ya, foto kenangan yang bejibun, yang dimasukkan dalam jumlah besar, ribuan, lalu dibiarkan membisu di folder yang jarang sekali diziarahi. Aduh!

Aku seperti ingin menyapa memori mereka. Hai, memori komputer, apa kabar? Karena aku kasihan dengan beban berat mereka menyimpan foto-foto kenangan yang bahkan empunya sudah lupa di mana letaknya. Dalam hati, aku menyapa memori komputerku sendiri. Sudah panjang lebar kuceritakan macam-macam orang yang menelantarkan memorinya. Sedihnya, aku agaknya termasuk dalam salah satu golongan tadi. Menziarahi kenangan hanya sesekali. Aduduh!

Banyak sekali foto-foto yang kusimpan. Apalagi Gefant. Banyak karena satu objek punya banyak foto. Maksudku pemandangan sama, objek sama, itu diambil berkali-kali. Membereskannya (baca: menyeleksinya) seperti memilih baju di toko. Harus betul-betul dibandingkan. Ambil yang terbaik. Hai memori, ini kulakukan untuk mengurangi beban kerjamu šŸ™‚ . Baik, kan?

Soal memilih, mungkin aku lambat. Bukan orang yang cus! Ini saja nih! Seakin banyak fotonya, semakin lama, semakin bingung, dan semakin pusinglah aku. Ayolah, demi memori supaya bisa move on. Eh, salah itu! Demi memori yang berat kerjanya, ayo!

Susah memang memilih foto terbaik. Aku akhirnya selesai. Kata siapa itulah yang terbaik? Ya buktinya aku memilihnya šŸ™‚

Inilah beberapa foto-foto itu.

final_bstSnapshot_663741

UN udah di (depan) monitor. Bukan di depan mata, Kawan. Itu terlalu dekat. Tidak baik.

 

 

 

 

 

IMG-20150225-WA0005

Gefant2 Voice siap tempur

 

 

 

 

 

IMG-20140328-WA0007

Padahal belum siap. Hei balik lagi, ini yang terbaik!

 

 

 

 

 

IMG-20151028-WA0010.jpg

Sekilas dia tidaklah sakit. Karena wajahnya membuat dunia teralih.

 

 

 

 

 

IMG-20150116-WA0005

Jauh-jauh dari Jepang, jadi kita sambut dengan meriah. Welcome?

 

 

 

 

 

IMG-20150302-WA0045.jpg

Sudah pernah lihat gaya kuncup? Inilah kuncup!

 

 

 

 

 

IMG-20150116-WA0013.jpg

Betulan datang dari Jepang! Jadi disambut dengan meriaaaah.

 

 

 

Terakhir, meski bukan yang terbaik dalam album.
Saat semua kecuali piket sudah pulang.
Saat waktunya matahari sore menembus celah di jendela, seperti biasa.
Di ujung sana ada “our future”. Melihat satu foto ini saja membuat semua foto-foto di albumku beterbangan dari monitor.

Eh… mungkin lebay.

 

Maksudku, melihat ini saja membuatku rindu semuanya.

 

 

 

 

IMG-20150316-WA0004.jpg

Pojok lantai dua (ini pinjam hpĀ Milla šŸ™‚ )

Jadi, hari ini aku membereskan memori komputerku. Kasihan dia, lelah sekali menyimpan banyak foto. Aku sekaligus mengunjungi kenangan-kenangan. Mereka juga kasihan, lama tidak kusapa.

Sekarang aku bertanya padamu. Berapa foto-foto yang kau simpan di memori? Berapa lama sudah kau simpan mereka di sana? Apakah hanya kau simpan-simpan untuk yaaa mau disimpan ajah! atau untuk disimpan dan dikenang?

Kalau dikenang, jangan diabaikan! Sapa mereka, tanya kabarnya, dan pastikan tersimpan baik. Bukankah foto dibuat agar abadi?

Aku sering mendengar orang-orang bilang ingin mengabadikan peristiwa.