Yang Pergi

Ini larut malam dan sedikit lagi tengah malam. Bogor, seperti biasa dalam dua minggu terakhir, malamnya dingin. Kondisi yang bagus untuk tidur, terutama bagi anak asrama yang baru saja selesai menonton pembukaan acara yang besar.

Bukan saya.

Beberapa jam lalu waktu acara pembukaan terdengar sampai asrama, saya di tempat yang sama sejak pulang dari kelas terakhir: kamar. Cuma keluar untuk cuci baju dan mandi. Masuk lagi. Bikin apa? Makan. Pie susu dari Bali.

Jadi ingat. Kemarin waktu libur panjang di rumah, pagi-pagi ada orang depan rumah, tetangga baru maksudnya, bawakan sekotak pie susu. Sebagai bentuk ramah tamah. Untuk berkenalan. Masuklah pie susu itu ke dalam lemari makan.

Hai pie susu, sudah lama saya mau makan kamu.

Berhubung liburan sudah hampir habis, saya ada ide untuk minta jatah pie susu untuk stok di asrama. Wah, stok? Padahal cuma ada sepuluh biji pie susu di sana. Tapi namanya sangat-ingin-sekali, ya akhirnya saya yakin, mau bawa pie susu.

Ternyata ada adek. Sepupu juga suka. Makanlah mereka. Dan dipikir lagi, ternyata tidak enak sembunyikan, timbun, bahkan selundupkan makanan kita dari orang lain. Apa yang saya bawa kembali ke asrama?

Tempe saja deh Ma.

Iya, tempe akhirnya. Pie susu selamat tinggal. Lain kali pastilah saya bisa makan kamu, entah di mana itu, hahaha. Lagian juga kamu cuma pie susu kok.

Satu bulan, saya lupa pernah mau sekali makan pie susu banyak-banyak. Saya lupa pernah merelakan pie susu yang ada di ‘hadapan mulut’. Teman selorong tiba-tiba bilang dia dapat kiriman pie susu dari bude di Bali. Sesudah habis yang ditawarkan tadi, saya datang lagi, tanya, kapan harus dihabiskan mengingat tanggal kadaluarsa kue itu. Ngobrol sebentar di lorong, karena mau cepat dihabiskan, beberapa pie susu dibawa lagi, jadi camilan.

Ternyata yang pergi bisa kembali. Bisa lebih banyak, mungkin karena panggil rakyatnya.

Iklan