Sapaan Pertama dari Kewirus

Ini hari Senin. Sudah lewat sesi uts, berarti di awal minggu tidak lagi kuliah dimulai jam satu siang tapi jam delapan pagi. Ada mata kuliah Pengantar Kewirausahaan. Mau bahasa gaul? Ada. Sebut saja Kewirus. Ini bobotnya dalam sks cuma satu. Biarpun begitu, sama seperti Pengantar Ilmu Pertanian, semua orang di semester satu wajib memiliki.

Pengusaha itu banyak, tapi wirausaha bisa jadi sedikit. Yang membedakannya adalah inovasi. Bertahun-tahun berjualan dengan hal-hal yang sama adalah pengusaha. Tapi wirausaha adalah yang melakukan perubahan.

Pak Lukman masuk kelas setelah tilawah selesai. Setelah membacakan kontrak perkuliahan di awal, beliau membicarakan tentang kewirausahaan. Saya pikir itu mudah dan membosankan. Tapi sepanjang kelas tadi saya merasa tertarik. Itu karena yang dibicarakan Pak Lukman banyak tentang pertanian. Pertanian…

Saya tahu kampus ini adalah kampus pertanian. Semakin tua saya di sini juga semakin sadar saya bahwa sebenarnya tujuan terbesar adanya pendidikan di sini salah satunya adalah agar tumbuh jiwa wirausaha. Bukan sekadar tumbuh, deh, berkembang dan hidup juga. Bagaimana saya tahu itu? Jawabannya ada di slide yang tadi ditunjukkan Pak Lukman.

Menurut saya menjadi mahasiswa pertanian itu sulit. Saya bahkan bingung, haruskah bangga menjadi bagian darinya? Alasannya adalah seperti istilah yang dilontarkan Pak Lukman, yaitu moral obligation. Saya –dan seluruh mahasiswa pertanian– harus setia karena ada kewajiban moral yang secara tidak kasat mata melingkari tangan, kepala, bahkan kaki.

Akhirnya di tengah kuliah kejadian dulu ketika saya memilih jurusan melintas lagi. Kenapa saya begitu senang dan tertarik dengan pertanian? Karena dulu ada kalimat yang mengikat mata membacanya, menarik hati merenunginya: Kalau bukan kita yang mengurusi pertanian, siapa lagi?

Sederhana, iya, sederhana dan klise untuk tidak bilang itu terlalu umum dan samar sebagai sebuah mimpi. Pak Lukman tadi membahas tentang pentingnya setiap orang berpikir untuk menjadi seorang job creator. Pastinya harus tetap memperhatikan peluang-peluang di bidang pertanian.

Indonesia pasti akan mencapai masa hebatnya ketika wirausaha melebihi angka di atas dua persen dari seluruh penduduknya.

Awal yang baik minggu ini, Kewirus menyapa kelasku mengingatkan lagi tentang pertanian.

Iklan

Daskom Mengakhiri

Ini bulan April. Sejak tanggal enam hari Kamis lalu makhluk-makhluk PPKU melaksanakan ujian tengah semester. Ujian ini biasanya disebut ujian sesi UTS. Bisa mencakup lima bab materi, enam bab, atau tujuh bab. Berbeda sendiri itu ya Landasan Matematika. Sesi UTS-nya hanya meliputi tiga bab yang saya akui memang wajarlah tiga.

 

102_0030

UTS kedua. UTS bulan April. UTS bersamamu, T03.

 

Hari ini terakhir ujian bagi departemen AGH angkatan baru. Di saat orang di departemen lain masih harus memikirkan strategi untuk menaklukkan slide memahami materi, kami–PPKU departemen AGH–hanya harus memikirkan: strategi menghemat uang jajan. Itu karena libur lima hari sudah dimulai sejak kami selesai mengumpulkan lembar jawaban ujian Dasar-Dasar Komunikasi.

Tadi siang tepatnya jam dua belas saya merasa lega dengan ujian. Selesai sudah. Daskom, begitu singkatan Dasar-Dasar Komunikasi, menjadi penutup rangkaian ujian. Seharian sebelumnya saya memahami apa itu persepsi. Ehm, sebenarnya tidak dramatis, hanya saja karena banyak interupsi, jadinya itu saya sebut seharian. Jadi… persepsi (bukan presepsi) adalah proses pemberian makna.

Persepsi adalah cara memberi makna. Wenburg & Wilmont

Hal lain seperti simbol verbal dan non verbal juga dipelajari dalam Daskom (tadinya saya tidak setuju dengan sebutan itu, tapi lama-lama seru juga menyebutnya). Selama sesi UTS ini mata kuliah yang dianggap oleh orang sekitar saya tidak relevan dengan AGH sering membuat saya terkejut. Bagaimana bisa?

Begini ceritanya. Saya pernah berbicara pada teman saya dan itu menceritakan sesuatu yang penting. Saya, katanya, bicara dengan lambaaat sekali. Bukan seperti lambat yang normal, tapi karena telat mikir, begitu katanya. Dan apa yang saya dapat dari belajar Daskom? Ternyata ketika berbincang dan saya terlambat merespon atau sulit menemukan kata yang tepat adalah karena selama pembicaraan saya sibuk mengeksplorasi pikiran saya sendiri. Saya tidak fokus menangkap pesan pengirim tapi malah sibuk dengan diri sendiri. Oke, saya mengakui itu. Saya bahkan berpikir bahwa saya ini adalah tipe orang yang dalam komunikasinya sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Melalui Daskom juga saya seperti dinasehati bahwa sebaiknya jika berada dalam keadaan terdesak atau terburu-buru lalu ada orang yang mengajak berkomunikasi, sebaiknya ungkapkan bahwa kita–atau lebih tepatnya saya–tidak punya waktu untuk berbincang dan mendengarkan. Itu lebih baik daripada berpura-pura mendengarkan. Hmm, saya sering begitu, pura-pura mengerti dengan menganggukkan kepala. Aduh…

Saya ini tipe orang yang dalam berkomunikasi sering berusaha melihat apa yang ada di belakang. Ternyata itu memang mengganggu komunikasi.

Pada akhirnya, saya mendapat manfaat belajar Daskom. Hei, ini bukan testimoni yang harus dikumpulkan dalam kelas responsi untuk mendapatkan nilai. Ini sungguh untuk membuktikan bahwa Daskom itu penting, bahkan bisa jadi untuk semua departemen di sini 😀 . Bagaimana bisa seseorang berkomunikasi dengan baik jika tidak mengerti apa saja yang bisa menjadi gangguan dan hambatan? Ini sekaligus sebagai pembelaan pada mereka yang berkata bahwa departemen Agronomi dan Hortikultura belajar Daskom untuk mengajak bicara para tumbuhan. Lawakan macam apa itu? Hahaha.

Saya ingat di awal belajar Daskom di kelas kuliah, dikatakan bahwa banyak sekali riset yang telah dilakukan mahasiswa maupun kalangan akademisi lainnya. Tapi kuantitas bukanlah tujuan utama. Manfaat apa yang dapat dirasakan manusia dari hasil penelitian, itulah yang menjadi tujuan. Bagaimana menerjemahkan skripsi berbahasa ilmiah pada orang awam? Komunikator, merekalah tonggaknya. Mereka orang-orang yang mampu menjadi jembatan, menerjemahkan skripsi dan penelitian menjadi sebuah pemahaman yang sifatnya umum, dapat dipahami oleh siapa saja.

Masih berpikir ilmu itu ada yang sia-sia? Ilmu hitam kali.

Cemara

Waktu itu malam hari pas road show beasiswa KSE di belakang CCR, kakak yang menjadi pembicara disebut sebagai mantan Direktur IPB Mengajar. Itu bukan unit kegiatan mahasiswa tapi lembaga struktural yang geraknya di bawah BEM KM IPB. Waktu itu saya belum tau apa-apa, belum mengerti detail seperti apa IPB Mengajar. Yang terlintas cuma fakta bahwa pasti mengajar, mengajar lagi.

Sebelum ke Bogor, jauh, jauh, jauh hari, saya suka nonton Lentera Indonesia. Itulah “pasukan” yang dikirim ke pelosok untuk mengajar. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tertarik dengannya. Setiap kali ada foto atau film yang bercerita tentang itu rasanya mau juga. Ikut pelatihan, dikarantina, ketemu orang-orang baru… wuih! Pengalamannya yang sulit digantikan.

Sebelum pergi jauh-jauh harusnya saya siap-siap. Bagaimana bisa bertahan kalau belum mengenal lingkungannya? Persiapan itu saya wujudkan dengan bergabung di sini, IPB Mengajar. Tidak banyak, saya bersama sekitar tiga puluhan orang. Pertama kali beraktivitas bersama yaitu di program Manajemen Mengajar. Saya kaget berjumpa dengan anak-anak kecil yang hmm… senang lari saat kami sudah mulai menulis angka di papan tulis. Begitulah.

Saya pernah berdoa untuk diloloskan dalam sebuah organisasi. Waktu itu ketika berdoa saya diliputi kecewa. Sudah saya lalui empat wawancara menuju organisasi dan kepanitiaan dan kesemuanya “menolak” saya. Hipotesis yang ada dalam hati saya yaitu saya menjawab pertanyaan dengan tidak jujur, dibuat-buat, diatur sekeren-kerennya. Hasilnya? Tidak keren.

Dalam awancara terakhir, saya menjadi diri saya sendiri. Saya ungkapkan bahwa berita tentang Lentera Indonesia yang digerakkan oleh Pengajar Muda membuat saya kecanduan. Karena apa? Karena itu yang saya cari, menjadi guru. Urusan itu kedengaran hebat atau tidak, itu belakangan saja.

Ting.
Saya lulus tes dan bergabung dalam IPB Mengajar tahun ini dalam Kabinet Cemara. Diambil nama cemara karena sang pembuat nama berharap orang-orangnya selalu sedia membuat perkumpulan ini hijau.

 

Salah Fokus

PPKU semester kedua. Selamat tinggal Kimia dan sampai jumpa lagi Biologi. Sekarang, maksudnya di semester ini, saya harus menyapa Fisika dan bertatap muka dengan Matematika. Gak takut, buat apa, toh sudah pernah kenal sebelumnya. Cuma canggung karena beberapa ‘jalan pintas’ sudah saya lupakan, hehe. Rumus-rumus itu… sudah menguap.

Semester ini isinya juga Sosiologi Umum yang disebutnya Sosum, juga Ekonomi Umum yang dibilang Ekum. Datanglah mari, masih ada segudang singkatan yang geleng-geleng kepala dengarnya. Karena unik.

Jadi kemarin siang Sosum menyapa. Saya mengantuk, tapi mau serius. Bahasannya tentang interaksi sosial. Syarat & bentuknya. Sampai di pembahasan tentang toleration.

Toleration. Apa artinya? Perdamaian tanpa persetujuan.

Jadi ingat. Dulu kalo musuhan sama adek mulut ini selalu yang paling aktif. Iya, yang paling cepat bereaksi. Doi gak mau kalah. Bukan bersuara lebih kencang, tapi lebih sengit kata-katanya. Ibarat mobil tercepat di dunia yang ramping, enteng, tapi menusuk hahaha. Begitulah. Karena sama-sama perempuan mungkin.

Mirisnya, bukannya menjadi kakak yang baik, saya malah berjanji dalam hati. Sampe besok gak mau ngomong sama dia, titik. Tau apa yang terjadi? Saya selalu tidak bisa menepatinya. Janji yang konyol karena kita serumah, sekamar, sekasur, dan lahir dari rahim yang sama. Mana bisa?

“Aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah ini adalah simbol kesetiaan. Artinya, keluarga adalah segalanya. Mereka boleh jadi bertengkar dengan saudara sendiri, tidak sependapat dengan sepupu sendiri. Tapi ketika datang orang asing, musuh, mereka akan bersatu padu, melupakan semua perbedaan. Kesetiaan adalah segalanya.” (Tere Liye: Pulang)

Yang ada mah saya tiba-tiba sudah bicara hal lain, cerita macam-macam. Atau dia yang duluan tanya-tanya tentang apapun. Bisa juga tiba-tiba ketawa, entah saya yang duluan atau dia. Bisa gara-gara mesin cuci, lucu-lucuan sama Mamak di dapur, atau acara apa saja di tv.

Mungkin karena sudah dua minggu gak pulang, dua minggu itu juga gak pernah ngobrol sama adek, hahaha. Berdekatan tapi musuhan, berjauhan eh dipikirkan 😀 .

Ini awal Maret. Dia beberapa bulan ke depan sibuk persiapkan ujian akhir di mts. Ucapan dari Bogor semoga bisa semangati bulan-bulan ribetnya.

Jangan salahkan
jarak yang menjauhkan
pun genggaman dan curhatan
yang gagal menenangkan

cukup pastikan
doa selalu kaupanjatkan

Tabung Reaksi dalam Hati (Bagian Awal)

 

Ini Kamis. Aku bangun lebih awal menanti waktu shubuh. Belum beranjak dari atas tempat tidur, aku menatap lurus ke arah jendela. Langit masih gelap di sana. Tentu saja, bahkan fajar belum menyapa bumi. Dari dalam kamarku terdengar suara ribut langkah kaki di lorong-lorong. Juga suara ember yang digeser—karena terlalu berat diangkat. Di ujung-ujung lorong, dari kamar mandi yang berjejer, terdengar suara air dari keran yang sepertinya dibuka penuh. Biarpun belum pagi, keadaan di sini jarang sekali dingin. Walaupun kelihatannya di sini belumlah kota, masih banyak sawah, aku bisa dengan santai mandi di saat seperti ini. Dua bulan lalu saat masa pengenalan kampus bahkan aku mandi satu jam sebelum waktu shalat shubuh.

Aku senang bangun lebih awal. Andai aku bisa bicara pada puncak gunung Salak yang terlihat dari jendela kamarku, aku akan setiap hari menyapanya, bertanya apakah ia senang kusapa lebih dahulu daripada mentari. Secepat apa aku bangun itu menentukan tingkat kebahagiaanku dalam menjalani satu hari itu. Karena aku senang menanti fajar tiba di langit. Fajar yang menyapa bumi selalu bisa membuatku ikut tersenyum. Fajar menjanjikan banyak kemenangan untukku.

Lima menit setelahnya fokus pandanganku berubah. Kini aku memandang pantulan diri sendiri di kaca jendela. Menatap diri sendiri, terlintaslah masalah-masalah yang menimpa. Selama seminggu ini aku dijadwalkan menerima hasil ujian tengah semester. Itu adalah ujian perdanaku di tempat yang baru. Ujian pertamaku sebagai mahasiswa calon sarjana pertanian dan ujian pembuka bagiku sebagai pelajar yang jauh dari orangtuanya. Sampai hari ini nilai-nilai itu membuatku tepekur. Apalagi nilai Kimiaku. Tidak perlu bingung jika ingin tahu berapakah itu. Cukup dengan menghadap jendela, angkat tangan kanan lalu buka telapaknya. Begitulah nilaiku.

Aku sempat menangis—dalam hati—begitu menyadari nilai Kimiaku jauh dari yang kuharapkan. Ah ya, aku juga merasa menyesal. Seharusnya aku menyempatkan diri begadang jauh-jauh hari sebelum ujian. Aku mengeluhkan itu pada Nofi. Aku tahu bahwa nilainya lebih tinggi dua angka dibandingkan nilaiku. Firda kuberitahu bahwa nilaiku tidak termasuk dalam “A”, bahkan jauh. Agung kutanya tentang nilainya. Ia meraih nilai Kimia tertinggi di kelas, empat angka di atas nilaiku. Begitulah teman-kelas baruku.

Tidak diam diriku mendapati nilai Kimia yang demikian parah. Aku bertekad ingin duduk paling depan selalu saat kuliah Kimia. Aku juga ingin menjadi mahasiswa yang baik saat praktikum di laboratorium.

Praktikum siang ini telah kupersiapkan dengan baik. Maksudku, aku telah membaca panduan praktikum dengan saksama. Aku juga sudah memeriksa perlengkapan yang harus dibawa saat praktikum. Sempurna! Aku semangat.

Saat praktikum, aku bergabung dengan sepuluh orang teman kelas. Termasuk di dalamnya Nofi dan Agung. Kelompok E, begitulah namanya. Hari ini judul praktikum kami yaitu asam basa. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aku harus bekerja dengan tiga orang, sementara yang lain juga bertiga atau berdua. Asam basa menurutku adalah materi Kimia yang sulit tetapi menyenangkan. Kami belajar menggunakan pH meter. Cukup mudah ternyata, sebab kami hanya harus mengganti larutan yang akan diukur tingkat keasamannya. Alat itu yang akan memberitahu nilai pH larutan, lalu kami simpulkan, asam atau basa.

Menjadi mahasiswa di tempat yang jauh dari orangtua menjadi tantangan bagiku. Aku bertemu orang-orang dengan semangat tinggi, contohnya Firda. Ada pula mereka yang sangat tulus dalam membantu, contohnya Nofi. Juga ada yang begitu jenius, Agung misalnya. Entahlah, aku tidak tahu pada kelas mana diriku. Aku bahkan mulai berpikir aku bukan bagian manapun dari sistem klasifikasi mahasiswa perguruan tinggi. Tidak, aku bukan putus asa, Kawan. Aku hanya mulai mengukur diri sendiri, di golongan manakah aku pantas berdiri. Ah, baiklah, aku terlalu banyak membicarakan perasaan. Bukankah ini di laboratorium, tempatnya orang bergerak cepat dan rapi?

Teman-teman di kelompokku begitu lincah. Begitu lincahnya, aku sampai harus berdiam diri karena tidak tahu lagi harus mengerjakan apa. Sebagian besar pekerjaan dan langkah kerja telah diambil alih oleh mereka. Ya, mungkin hanya tersisa mencuci alat-alat yang butuh sukarelawan. Tidak selalu begitu, tapi kali ini seperti itulah yang terjadi. Aku menunggu beberapa alat yang harus segera dibersihkan. Kusiapkan sikat kecil lalu aku bergegas menuju wastafel.

Nofi tiba di dekatku membawa gelas piala dan rak tabung reaksi beserta isinya. Dia pergi melanjutkan bermain pH meter sementara aku harus bermain air ditemani tabung reaksi dan gelas piala. Lalu persis ketika tangan kiriku membalikkan salah satu tabung reaksi agar larutan di dalamnya keluar, benda itu lolos dari peganganku. Inilah yang ditakuti semua orang yang masuk ke laboratorium!

Trang!

Benda kecil yang rapuh itu jatuh ke dalam wastafel dengan bunyi yang menyayat saku mahasiswa! Paham, kan? Ya, resiko mengganti yang baru, Kawan!

“Aduh, hati-hati pecah!”

Beberapa teman di ruang laboratorium menoleh padaku memperingatkan. Beberapa yang lain hanya menatapku sekilas, mungkin artinya kasihan. Ada pula yang bertanya-tanya, apa yang terjadi?

Aku tersenyum menanggapi tetapi merasa panik. Kulirik tabung reaksi itu masih utuh saja setelah jatuh. Aku melambaikan tangan pada mereka, juga pada Nofi yang berada di ujung sana yang tadi terkejut dan menoleh padaku. Tidak apa-apa, lanjutkan saja kerja kalian.

Ya, tidak apa-apa. Tabung reaksi ini, kan, masih utuh. Kulihat sekelilingku yang kembali sibuk dalam praktikum. Aku mengambil tabung reaksi itu perlahan dan meletakkannya di atas rak tabung reaksi. Kulihat sekelilingku. Biasanya setelah terdengar suara peralatan laboratorium yang jatuh maka orang-orang akan berkumpul. Namun tidak saat itu. Entahlah, mungkin karena tabung itu tidak sampai hancur. Aku memeriksa kembali, benarkah tabung reaksi itu baik-baik saja?

Saat memeriksanya, tidak ada yang berubah.  Tabung itu baik-baik saja setelah jatuh, tidak ada cacat… Tunggu! Aku terkejut. Tanganku tiba-tiba gemetaran.  Jangan lihat wajahku, pastilah sudah pucat. Aku panik. Pinggiran tabung reaksi itu pecah menyisakan lengkungan kecil di sana. Aku tidak tahu mana pecahannya.

Kulihat dalam wastafel, kuperiksa lantai di bawahnya, atau mungkin menempel di tanganku? Tidak kutemukan. Pecah tapi tidak ada bukti pecah. Bagus!

Aku bertambah panik.