Jalan Pulang

Bagi saya, pulang adalah satu kata yang berharga.

Pulang adalah suguhan bagi para pengembara. Seperti apapun keadaan mereka, pulang adalah keniscayaan.

Setiap perjalanan bisa mengubah keadaan, baik lebih cemerlang atau lebih lusuh. Bagi mereka yang merasa lusuh dan hampir jatuh, pulang bukan tanda kalah. Pulang bukan pertanda perjalanan menjadikannya pecundang, pun pengkhianat. Pulang, bagi mereka adalah waktunya mengisi semangat dan mencuci debu yang menutupi jati diri. Pulang juga waktunya napak tilas untuk menguatkan cita-cita. Karena tiap langkah mereka menuju rumah bisa memperbesar bara impian.

Pulang, bagi para pemenang tentu sebuah kebahagiaan. Tampaknya tiada kebahagiaan lebih tinggi dari perjalanan pulang mereka. Tapi tidak boleh ada rasa tinggi hati telah meminang impian. Kepulangan ini justru harus menyebabkan saudaranya memperoleh teladan yang hebat dalam menyulam mimpinya sendiri.

Pada akhirnya, tiap kepulangan kita memiliki makna sendiri. Maka mari menjalani ‘perjalanan pulang’ kita sendiri.

Kaartje

Itulah tiga nama makanan/minuman khas Belanda yang diberi embel-embel –je (maknanya ‘kecil’).
Itu adalah kalimat di bagian akhir dari satu tulisan milik seseorang. Saya membacanya sudah lama tapi masih ingat juga untuk menulis ini, alhamdulillaah. Tapi apa hubungannya kutipan tadi dengan saya, ya?

Kaartje. Sudah saya lihat di kamus bahasa Belanda, itu artinya tiket. Ya, saya punya pengalaman menarik tentang tiket. Sudah lama terjadi sebenarnya tapi saya masih ingat. Sayang juga sih rasanya kalau tidak ditulis ulang. Soalnya ini kejadian yang menunjukkan betapa liciknya saya. Harus banyak belajar dari orang lain supaya lebih ‘polos’ dalam menjalani hidup.

Waktu itu akhir pekan sudah selesai. Saya harus segera pulang alias pergi dari rumah karena rumah saya bukan lagi di sini. Singkatnya, saya harus sudah ada di Bogor sebelum dzuhur. Jadi saya menumpang kereta. Biasanya ada Bapak yang mengantar tapi waktu itu tidak bisa. Alhasil Mamak dan adek yang mengantar.

“Mak, mau sampe mana?”

“Stasiun Bogor.”

“Oh, kalau gitu bayarnya sampe Depok Lama saja, Mak.”

Ini dia. Ide ini datang dengan spontan sesuai aturan yang berlaku. Why?

Jelas. Mamak pasti tidak keluar dari stasiun. Pastinya lagi, sehabis turun kereta tanpa keluar dari peron dan tap tiket, Mamak naik kereta yang menuju Depok.

Ayolah, daripada harus membayar sampai Bogor sebesar tiga ribu rupiah, lebih baik membayar lebih murah dari itu. Cukup bayar satu stasiun setelah stasiun kotaku. Kalau bisa sih bilang ke petugas loket, “Pak, beli tiket yang ke sini.” Nah, bingung, kan? Lebih baik dilebihkan satu stasiun. Murah, sungguh.

“Paling beda seribu.”

“Mak itu berharga, Mak.”

Mamak tampaknya diam mengalah. Namun tiba-tiba dengan pelan, “Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?”

Oh, yeah! Sempurna sudah saya yang terdiam. Tambahkan satu fakta lagi: saya kalah. Mau bilang apa lagi?

Niat saya membayar sedikit bukan karena jahat (tapi saya takut ini niat jahat, hmm). Namun cepat dibalas Mamak, cepat diluruskan, diingatkan. Sebenarnya kalau mau kembali lagi ke stasiun ini tanpa keluar peron waktu tiba di Bogor, sih, tidak perlu membayar penuh. Toh tidak ditagih siapapun dan mesin tap tidak bisa menyalahkan sejauh apapun kita pergi.

But that’s it.
Mau ke Bogor kok bayar cuma sampe Depok Lama?

Mak, ideku tadi curangkah?
Aduh.

 

Inspirasinya dari tempat ini .

Dua Simpul

[10.56]

Harusnya liburan ini tidak diisi dengan pulang ke rumah. Tetap di asrama, memenuhi buku agenda dengan aktivitas seputar asrama. Atau bisa juga memenuhi target-target di awal April yagn sempat tertunda, ini kan masih ada satu-dua hari menjelang bulan baru. Tapi berita itu mengubah rencana matangnya yang sudah rapi tadi. Membungkus cucian, menumpuk jemuran kering dalam lemari. Jarak 50 km Bogor-Depok harus bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

 

[11.10]

Harusnya sekarang saatnya menonton film yang direncanakan dengan teman sekelasnya. Baru setengah jam yang lalu ketika keluar dari gedung kuliah itu direncanakan. Baru tadi di warung makan bicara tentang film apa yang naik daun. Kesempatan saat anak Jabodetabek pulang, wifi melaju di jalan tol. Tapi berita itu membuat rencana berubah. Menonton film akhirnya harus tanpa satu orang.

 

[11.28]

Commuter line sedang sepi karena ini di stasiun ujung. Tempat duduk yang empuk sanggup menghibur hatinya yang dilanda sunyi. Lima menit berjalan, badannya miring karena gerbong mulai bergerak. Mengedarkan pandangan lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Di MAN 7 tempat kita bertemu
Ku tak ta(h)u siapa dirimu
Lambat laun berputar roda waktu
Pada akhirnya kaulah temanku

~
Kita memang beda kelas
Tapi kita satu alas

~
Pada akhirnya kita ‘kan pisah
Ingatlah kita pernah bersama

 

[11.56]

Ia pernah berpikir bahwa sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Satu dekade adalah rentang yang sempit sehingga ia pasti akan berjumpa lagi dengan mereka yang dulu mengisi lima hari dalam satu minggu miliknya. Maka ketika pelepasan ia sanggup melambaikan tangan memberi salam perpisahan pada mereka semua. Ia bisa tertawa dan berfoto. Toh setelah sepuluh tahun, atau anggap saja tiga tahun setelah kelulusan, sebuah reuni akan melengkapi. Ia yakin.

Harusnya reuni di tempat makan atau di sudut taman yang mengundang kita, begitu yakinnya. Baginya reuni itu dekat tanpa tahu ada yang lebih dekat dari itu: kepulangan.

 

[12.00]

Jalan ini dulu tiap pagi ia lewati dengan berlari kecil atau berjalan cepat karena sering kesiangan. Ramai bocah-bocah yang jajan di sekitar kadang menyulitkan langkahnya. Tapi ini Sabtu dan siang hari menjelang dzuhur, jadi jalanan ini seperti miliknya, bersih dari penjual maupun apa yang sering mengisinya. Gerbang hijau tinggi di tikungan depan sana membisu seperti menunggu disapa.

Ia berdiri di sana memandang gerbang itu. Tidak perlu penjaga sekolah membukakan pintu, toh dia hanya berdiri saja. Dia hanya ingin memberi kabar bahwa akan ada reuni siang ini.

 

[12.13]

Ternyata reuni itu memang dekat, tidak perlu menunggu tiga tahun kelulusan atau sepuluh tahun. Ternyata hal yang tertinggal disadari adalah ada reuni dalam sebuah perpisahan. Dengan begitu, perpisahan lebih dekat daripada sebuah reuni.

Sebentar lagi kami akan reuni. Ya, reuni untuk mengantar kepergian salah satu dari kami. Pertemuan itu ada, bahkan bisa menjadi reuni. Sebab yang jauh-jauh datang ke sini. Yang berbeda adalah suasananya. Ini adalah reuni untuk sebuah perpisahan.

Lagi, yang kedua kali di bulan yang sama. Berita itu berwarna duka. Memang umur tak ada yang sanggup mengira-ngira. Termasuk mereka yang satu usia. Mereka yang dulu pernah putih abu-abu bersama. Mereka yang pernah berfoto bersama. Sekolah ini mampu bercerita tentang kami yang pernah satu alas.

Sekarang, bukan senyuman, jabat tangan, atau hadiah yang akan sampai pada mereka melainkan doa. Doamu, doaku, doa kita. Semoga disampaikan pada mereka.

 

[12.20]

Langkahnya menuju rumah pelan meski matahari membuat telapak kakinya terasa panas. Ia menggenggam catatan kecil yang satu kertasnya diselipkan di celah gerbang sekolah tadi.

Untuk Akredigas yang kehilangan dua simpulnya.

Pulang

Saya ingat sekitar sebulan lalu, pilkada serentak diadakan. Libur nasional ditetapkan presiden. Semua kuliah hari itu tidak aktif dan beberapa mahasiswa Jabodetabek pulang. Saatnya menghadiri pesta demokrasi di daerah masing-masing, lalu kembali membawa tanda ungu di jari kelingking.

Sampai sekarang sejak pilkada sudah sebulan lebih beberapa hari. Jangka waktu selama itu pula lamanya saya tidak pulang. Eit, bukan lebay, tapi memang sudah lama. Makanan di asrama rasanya sudah berubah. Apanya berubah? Rasanya. Mungkin karena ada campuran bumbu baper di dalamnya. Minuman yang biasanya cuma air putih terasa segar menjadi membosankan, mungkin karena lambung mengeluarkan hormon manja. Entahlah, sepertinya saya yang dulu waktu semester satu malah belagu mau lama-lama di asrama sekarang di semester kedua bahkan menunggu-nunggu laporan menyelesaikan dirinya sendiri.

Semester satu, jadwal kuliah hanya dari Senin sampai Jum’at. Itu pun tidak penuh dari pagi sampai sore. Paling banyak jadwal itu hanya tiga mata kuliah. Berbeda dengan hari Sabtu, jadwalnya menjadi sampai hari Sabtu. Ini jadi bahan ejekan–bisa dibilang begitu–oleh teman sekamar. Sabtu ceria, Sabtu ceria!

Bukannya sama mau menyalahkan hari Sabtu. Saya bahkan mau mengeluh mendapat jadwal hari Sabtu. Toh nanti terkesan jarang pulang, kan? Terkesan sibuk, toh? Tapi ternyata itu tidak juga menyenangkan.

Akhirnya minggu ini setelah laporan praktikum Fisika selesai tadi pagi, saya pulang. Dijemput di depan toko donat di depan gerbang kecil Berlin IPB, saya menuju rumah. Mau bertemu lidah buaya dan pohon cabenya Mamak yang mulai sakit sebulan lalu.

Saya selalu senang naik motor karena bisa dengan bebas kena udara yang memang bisa menampar-nampar muka. Tapi di situlah kelebihan motor. Leluasa juga melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan lain. Saya memang bertingkah sebagai orang yang serba betul. Mengomentari dalam hati, menertawakan juga dalam hati. Ada orang yang melawan arus bahkan ketika membonceng keluarga kecilnya. Biarpun dengan kecepatan yang rendah, ya, tetap saja itu salah. Masa iya hanya karena putarannya jauh kita bisa bebas dan seenak hati memakai jalanan? Ada pula orang yang memarkir mobilnya sembarangan ke tengah jalanan.

Lewat sebuah perjalanan yang tidak jauh saya bisa mendapat banyak cerita. Itu salah satu alasan untuk bersyukur hari ini. Asrama yang penuh warna biru yang katanya menenangkan ternyata tidak cukup menghibur mata. Lantai keramiknya yang dingin membuat gerak lambat. Lorong-lorongnya membuat kepekaan kadang tumpul. Hmm.. sebenarnya tidak begitu tepat seperti itu, tapi dipukul-pukul oleh angin di atas motor seperti membuat kulit menjadi lebih peka. Seperti lancar aliran darah menuju otak, membuatnya mampu berimajinasi bebas.

Intinya, hari Selasa libur, itu karena tanggal merah. Bagi siapa saja anak asrama yang sudah tiba di rumah, semoga waktu kalian bisa digunakan dengan baik. Bagi yang masih menahan rindu? Semoga kuatlah 🙂 Bukan hari ini, tapi bisa saja lusa, bulan depan, tahun depan, nanti, memeluk rumah adalah keniscayaan.

Semangat! Bukan karena nanti ada tanggal merah, melainkan karena besok hari Senin. Hari yang harus disambut karena banyak harapan dan rencana yang bisa diperbarui.

“Tuanku Imam benar. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit.” (Tere Liye: Pulang)

 

Pulang