Di Gedung Kita

Wajahmu cerah saat menyapaku di pintu
Kaubilang ini hari istimewa kita
Kaubilang sudah berdandan yang hebat
Kau ciptakan potret terbaik, bersamaku

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Batas akhir sebuah kebersamaan
Putih abu-abu yang penuh kenangan

Apakah sebuah prosesi 240 menit cukup bagi kita
Sebagai pemuas rindu, pengganti semua waktu yang hilang?
Bahkan jika itu sehari semalam lamanya
Adakah hal hebat yang bisa kita tempuh?

Kata orang ini wisuda
Pelepasan siswa, begitu kata mereka
Perpisahan adalah hal yang nyata
Meski seerat-eratnya genggaman kita

Acara ini usai, dan
Ratusan foto sudah diabadikan
Anak dan orangtua pulang bergandengan

Pada gedung yang sudah ditinggalkan kini,
Kursi-kursi yang disusun rapi,
Lantai yang kembali bersih tapi sepi,
Panggung yang tinggal sendiri,
Pendingin ruangan yang menebar sunyi,
Aku melambaikan tangan
Bayangmu bersama 29 lainnya juga melambaikan tangan

Jalanku bisa jadi sepi
Dan bahumu, jauh untuk diraih
Tapi sampai nanti, jangan pergi dari hati
Tiga tahun kita hebat dan kaulah pelangi

 

24-04-2016
Setelah acara pelepasan siswa MAN 7 Jakarta

Tentang Melepas

Waktu itu saya yakin satu hari kebersamaan tidak bisa melengkapi dan menutup lembar putih biru yang mengesankan. Saya yakin dengan tidak mengikuti acara itu saya tidak rugi sampai bangkrut. Saya pun yakin, absennya saya dari kumpulan hati yang bersenang-senang tidak akan menjadikan saya terlupakan.

 

Masih berada di rumah, saya sering mengomentari hal-hal yang dilakukan saudara saya. Termasuk hari itu, dia pulang dari sekolah bawa kabar gembira. Katanya tahun ini, tepatnya setelah ujian akan diadakan kegiatan di luar kota. Acara itu seperti wisuda layaknya sarjana yang sudah menyelesaikan tugas akhir, ada pelepasan secara simbolis. Bedanya adalah di sana tidak diberi toga, bahkan memakainya pun tidak. Mendengar itu saya merasa ditarik kembali ke masa tiga tahun lalu, sama seperti jenjang yang sekarang didudukinya, kelas tiga sekolah menengah pertama.

Saya kini berbicara tentang beberapa hari sebelum hari keberangkatan waktu itu. Tidak jelas teringat seperti apa percakapan yang saya lakukan, tapi intinya masih membekas. Mengajak bicara orang di rumah, saya bingung apakah harus ikut atau tidak. Saya berpikir banyaknya waktu yang harus dibiarkan terlewat untuk membiayai perjalanan termasuk di dalamnya duduk dalam bus, bernyanyi, atau lari-lari. Waktu itu karena memang saya adalah anak rumah, alasan saya pada diri sendiri adalah karena ingin memakai jatah waktu yang tidak seberapa itu untuk duduk di dapur dengan Mamak.

Begitu acara milik sekolah itu selesai, saya sadar sejatinya saya memang dicari dan itu memang membebani orang lain terutama yang bertanggung jawab memastikan kelengkapan peserta. Saya ditanya mengapa tidak ikut. Bahkan saya tahu bahwa wali kelas saya menelepon untuk mengajak ikut serta. Sebenarnya itu adalah telepon untuk mengingatkan saya karena orang khawatir saya lupa berangkat. Tapi jawaban saya waktu itu memang tidak jelas, hanya dengan alasan ya tidak mau saja.

Waktu itu saya yakin satu hari kebersamaan tidak bisa melengkapi dan menutup lembar putih biru yang mengesankan. Saya yakin dengan tidak mengikuti acara itu saya tidak rugi sampai bangkrut. Saya pun yakin, absennya saya dari kumpulan hati yang bersenang-senang tidak akan menjadikan saya terlupakan. Hari itu saya yakin posisi saya berdiri dan apa yang saya pegang akan berdampak positif bagi saya, entah berapa tahun yang akan datang.

 

Jadi harus seperti apa kita melepas sesuatu atau seseorang? Seperti apa kita menghadapi perpisahan? Bersama berdoa memohon kebermanfaatan atau mengadakan perayaan? Jika yang pertama, sebaiknya siapkan manfaat seperti apa yang kita harap. Tapi jika yang kedua, ayolah, mengapa perpisahan harus dirayakan?