Florikultura Indonesia 2017

Sekian lama menunggu, akhirnya sampai juga. Sudah lama menanti, akhirnya diputuskan sudah. Sebenarnya saya bukan panitianya, sibuk mengurus acara ini dan akhirnya lega setelah poster sudah disebar. Saya sekarang penikmatnya. Jadi… ini dia acaranya.


 

Flori

 

[INFO FLORI: H-25 FLORI INDONESIA]
————-
Florikultura Indonesia 2017 merupakan rangkaian kegiatan yang yang bertujuan mendorong kebangkitan industri florikultura di Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh: Kementerian Koordinator Bagian Keuangan (Kemenko), Kementerian Pertanian (Kementan), Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Himpunan Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura (Himagron), Agrisocio, dan Himpunan Alumni Agronomi IPB (HAAI). Florikultura Indonesia 2017 terdiri atas beberapa kegiatan yaitu Bursa Pertanian, Bursa Kuliner, Lomba Merangkai Bunga, Lomba Fashion Show, Talkshow, dan Karnaval yang dimeriahkan oleh Pawai, Lomba Marching Band, dan Lomba Mobil Hias yang seluruhnya dikonsep penuh bunga nusantara.

Acara akan dilaksanakan pada:
Hari, tanggal: Sabtu-Minggu, 29-30 Juli 2017
Tempat : Lapangan IPB Baranangsiang, Bogor dan keliling Kebun Raya Bogor

Narahubung:
Rofi’uddin (0896 5059 3723)
Bartolomeus (0877 7879 6478)
Qisthi (0857 7508 0888)

Mari datang dan ramaikan Florikultura Indonesia 2017!

Salam kebangkitan bunga nusantara!

Website: floriindonesia.com
————-
107/G/26/6

#FloriIndonesia
#RamaikanFI2017

Diteruskan oleh:
DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
KABINET MIRABILIS
[HIMAGRON 2016/2017]

Ini tanah yang belum dikenal. Di sini tempat belajar untuk hidup lalu bertahan. Kita memang di Indonesia, tempatnya banyak budaya mengalami akulturasi bahkan asimilasi, persis seperti yang sudah kita pelajari satu semester ini.

Saya datang dari pulau di timur sementara kau pergi merantau dari barat. Kita berbeda. Di sini tempat belajar untuk hidup dan berkawan.

Senang ada di sini sebab saya keluar dari lingkungan nyaman yang diselimuti persamaan. Bahagia rasanya merasakan berdiri di tengah lalu-lalang budaya yang beragam. Untuk tidak bilang terpesona, saya tersentuh. Indonesia sepertinya semakin jelas terlihat dari sini.

 

-Kampus rakyat, lima hari menuju farewell asrama-

Ke Gathering III

Ini bulan puasa. Sudah lewat sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Tapi masa liburan belum juga mulai. Siang ini, nanti jam setengah dua, bahkan ada acara di Ruang Kuliah Pinus sana.

Ini acara yang ketiga tapi yang pertama dan satu-satunya di bulan puasa.

Saya belum tau bakal jadi seperti apa acaranya. Komdis… apakah akan muncul dengan sosok aslinya seperti biasa? Atau sudah diciptakan komdis versi Ramadhan? Entah, karena masih tersisa satu jam lagi acara itu dimulai. Saya bahkan masih nyamannya duduk di lorong asrama.

Tidak adil mungkin kalau komdis saja yang disorot. PJK alias penanggung jawab kelompok, apakah akan lebih “memandirikan” peserta? Mereka yang biasanya jalan bolak-balik karena dimintai bantuan, nanti… apakah ada versi berbedanya? Entah juga.

Saya senang ikut gathering yang kedua. Itu karena banyak tanaman bisa dilihat langsung. Peserta–termasuk saya di dalamnya, pastinya–harus berjalan jauh menuju kebun percobaan. Itu kesenangan saya.

Saya masih ingat waktu gathering pertama. Memang saya telat, tapi bukan itu alasan teringatnya. Di sana kami dijanjikan tentang kejutan-kejutan di AGH.

Inilah gathering ketiga. Dresscode-nya adalah batik dengan rok dan jilbab hitam. Sepatu harus dominan hitam dengan kaos kaki hitam. Tidak perlu kacamata hitam karena sudah ada perintah membawa payung atau jas hujan. Tidak ada hubungannya, hm?

Begini saja. karena tepat satu jam lagi acara akan dimulai dan perjalanan kira-kira membutuhkan waktu lima belas menit, saya berhenti sampai di sini. Setelah acara mungkin saya akan mengulas. Yaa, hitung-hitung untuk meringankan tugas merangkum rangkaian kegiatan.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oya, acara yang begini pasti selalu ditutup dengan jargon. Jadi tulisan ini pun begitu.

AGH?
Feed the world!

Sapaan Pertama dari Kewirus

Ini hari Senin. Sudah lewat sesi uts, berarti di awal minggu tidak lagi kuliah dimulai jam satu siang tapi jam delapan pagi. Ada mata kuliah Pengantar Kewirausahaan. Mau bahasa gaul? Ada. Sebut saja Kewirus. Ini bobotnya dalam sks cuma satu. Biarpun begitu, sama seperti Pengantar Ilmu Pertanian, semua orang di semester satu wajib memiliki.

Pengusaha itu banyak, tapi wirausaha bisa jadi sedikit. Yang membedakannya adalah inovasi. Bertahun-tahun berjualan dengan hal-hal yang sama adalah pengusaha. Tapi wirausaha adalah yang melakukan perubahan.

Pak Lukman masuk kelas setelah tilawah selesai. Setelah membacakan kontrak perkuliahan di awal, beliau membicarakan tentang kewirausahaan. Saya pikir itu mudah dan membosankan. Tapi sepanjang kelas tadi saya merasa tertarik. Itu karena yang dibicarakan Pak Lukman banyak tentang pertanian. Pertanian…

Saya tahu kampus ini adalah kampus pertanian. Semakin tua saya di sini juga semakin sadar saya bahwa sebenarnya tujuan terbesar adanya pendidikan di sini salah satunya adalah agar tumbuh jiwa wirausaha. Bukan sekadar tumbuh, deh, berkembang dan hidup juga. Bagaimana saya tahu itu? Jawabannya ada di slide yang tadi ditunjukkan Pak Lukman.

Menurut saya menjadi mahasiswa pertanian itu sulit. Saya bahkan bingung, haruskah bangga menjadi bagian darinya? Alasannya adalah seperti istilah yang dilontarkan Pak Lukman, yaitu moral obligation. Saya –dan seluruh mahasiswa pertanian– harus setia karena ada kewajiban moral yang secara tidak kasat mata melingkari tangan, kepala, bahkan kaki.

Akhirnya di tengah kuliah kejadian dulu ketika saya memilih jurusan melintas lagi. Kenapa saya begitu senang dan tertarik dengan pertanian? Karena dulu ada kalimat yang mengikat mata membacanya, menarik hati merenunginya: Kalau bukan kita yang mengurusi pertanian, siapa lagi?

Sederhana, iya, sederhana dan klise untuk tidak bilang itu terlalu umum dan samar sebagai sebuah mimpi. Pak Lukman tadi membahas tentang pentingnya setiap orang berpikir untuk menjadi seorang job creator. Pastinya harus tetap memperhatikan peluang-peluang di bidang pertanian.

Indonesia pasti akan mencapai masa hebatnya ketika wirausaha melebihi angka di atas dua persen dari seluruh penduduknya.

Awal yang baik minggu ini, Kewirus menyapa kelasku mengingatkan lagi tentang pertanian.

Yang Berlalu

Kemarin, persis jam satu siang, pengumuman SNMPTN di sekolah saya diakses ramai-ramai. Seharian saya diserang penasaran. Group chat dihadiri Sensei, wali kelasku dulu. Beliau melaporkan satu per satu orang yang diterima undangan. Saya bilang, Sei tolong kalo bisa live report, penasarannya sampai ke ujung-ujung rambut nih.

Hasil mereka cukup membuat saya, hmm apa ya? Senang? Iya sih, karena capaian mereka lebih baik. Bukannya begitu harusnya seorang kakak? Ada yang ke UGM, UNJ, dan UI, sementara itu yang saya tahu.

Siang tadi teman-teman di kelas pasti juga mencari tahu tentang adik-adiknya. Pengumuman itu dibuka tepat waktu kami sedang kuliah Pendidikan Pancasila. Teman ada yang serius sekali dengan itu, bahkan selesai kuliah dan berteduh dia bicara tentang “pengikutnya” yang masih belum ketahuan namanya. Maksudnya yang resmi diterima IPB.

Berlalu, memang sudah berlalu masa itu. Duduk di depan layar menyala pulang dari les, berlatar suara Mamak bikin sambel di dapur, pengumuman itu mudah diakses. Entah karena lalu lintasnya lancar atau saya dipermudah melihatnya. Masukkan nama, nomor apalah itu. Kemudian merah.

Team red.
Begitu istilahnya, katanya.

Pengumuman SNMPTN tidak hanya mendebarkan bagi mereka yang sedang menanti, tapi juga bagi mereka yang pernah menanti.