Karya Salemba Empat (KSE)

Malam itu lepas maghrib saya menghadiri roadshow. Jika menurut pada kata itu sendiri, artinya adalah pertunjukan keliling. Oh terima kasih kepada dosen Bahasa Indonesia saya waktu semester satu yang membahas kata serapan. Saya jadi suka mencari tahu arti sebuah kata bahasa asing yang kadang lucu saat membayangkannya.

Baiklah, ketika itu saya berangkat menuju aula yang tidak jauh dari asrama bersama dua orang teman. Tiba di sana, diberi minuman dan makanan, lalu kami mencari tempat duduk paling depan. Dapat. Selama acara kami tidak pindah.

Malam itu adalah layaknya pembukaan beasiswa, beragam pembicara dihadirkan untuk menjelaskan apa itu KSE. Mulai dari cara pendaftaran sampai programnya.

Dikutip dari portal berita beasiswa IPB, beasiswa KSE berupa tunjangan belajar bagi mahasiswa program studi Strata 1 (S1) yang telah menempuh pendidikan minimal di semester kedua. Minimal, kan? Jadi selama kita telah menempuh semester dua, berarti kita telah memenuhi salah satu syarat beasiswa ini. Lalu ingat pula pembukaan beasiswa tahun ini, yaitu bulan Februari. Mungkin tahun depan berubah, tapi waktu pembukaan tahun ini cocok dijadikan gambaran untuk mendaftar di tahun selanjutnya.

Syarat lain yang wajib dipenuhi yaitu membuat sejumlah esai yang telah ditentukan temanya. Syarat berupa transkrip nilai juga diperlukan. Meskipun begitu, menurut pembicara dalam acara tersebut, berapa pun nilai IPK yang kita miliki bisa menjadi pertimbangan panitia penyeleksi.

Seleksi beasiswa ini diawali dengan seleksi berkas. Tahun ini pendaftaran yang diputuskan ditutup pada bulan Februari akhirnya diundur hingga tanggal 1 April. Patut disyukuri jika memang mengisi esai itu tidak mudah. Namun jika tahun selanjutnya kita ingin mendaftar beasiswa ini, sebaiknya persiapkan diri jauh hari, misalnya sejak Januari.

Pulang

Saya ingat sekitar sebulan lalu, pilkada serentak diadakan. Libur nasional ditetapkan presiden. Semua kuliah hari itu tidak aktif dan beberapa mahasiswa Jabodetabek pulang. Saatnya menghadiri pesta demokrasi di daerah masing-masing, lalu kembali membawa tanda ungu di jari kelingking.

Sampai sekarang sejak pilkada sudah sebulan lebih beberapa hari. Jangka waktu selama itu pula lamanya saya tidak pulang. Eit, bukan lebay, tapi memang sudah lama. Makanan di asrama rasanya sudah berubah. Apanya berubah? Rasanya. Mungkin karena ada campuran bumbu baper di dalamnya. Minuman yang biasanya cuma air putih terasa segar menjadi membosankan, mungkin karena lambung mengeluarkan hormon manja. Entahlah, sepertinya saya yang dulu waktu semester satu malah belagu mau lama-lama di asrama sekarang di semester kedua bahkan menunggu-nunggu laporan menyelesaikan dirinya sendiri.

Semester satu, jadwal kuliah hanya dari Senin sampai Jum’at. Itu pun tidak penuh dari pagi sampai sore. Paling banyak jadwal itu hanya tiga mata kuliah. Berbeda dengan hari Sabtu, jadwalnya menjadi sampai hari Sabtu. Ini jadi bahan ejekan–bisa dibilang begitu–oleh teman sekamar. Sabtu ceria, Sabtu ceria!

Bukannya sama mau menyalahkan hari Sabtu. Saya bahkan mau mengeluh mendapat jadwal hari Sabtu. Toh nanti terkesan jarang pulang, kan? Terkesan sibuk, toh? Tapi ternyata itu tidak juga menyenangkan.

Akhirnya minggu ini setelah laporan praktikum Fisika selesai tadi pagi, saya pulang. Dijemput di depan toko donat di depan gerbang kecil Berlin IPB, saya menuju rumah. Mau bertemu lidah buaya dan pohon cabenya Mamak yang mulai sakit sebulan lalu.

Saya selalu senang naik motor karena bisa dengan bebas kena udara yang memang bisa menampar-nampar muka. Tapi di situlah kelebihan motor. Leluasa juga melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan lain. Saya memang bertingkah sebagai orang yang serba betul. Mengomentari dalam hati, menertawakan juga dalam hati. Ada orang yang melawan arus bahkan ketika membonceng keluarga kecilnya. Biarpun dengan kecepatan yang rendah, ya, tetap saja itu salah. Masa iya hanya karena putarannya jauh kita bisa bebas dan seenak hati memakai jalanan? Ada pula orang yang memarkir mobilnya sembarangan ke tengah jalanan.

Lewat sebuah perjalanan yang tidak jauh saya bisa mendapat banyak cerita. Itu salah satu alasan untuk bersyukur hari ini. Asrama yang penuh warna biru yang katanya menenangkan ternyata tidak cukup menghibur mata. Lantai keramiknya yang dingin membuat gerak lambat. Lorong-lorongnya membuat kepekaan kadang tumpul. Hmm.. sebenarnya tidak begitu tepat seperti itu, tapi dipukul-pukul oleh angin di atas motor seperti membuat kulit menjadi lebih peka. Seperti lancar aliran darah menuju otak, membuatnya mampu berimajinasi bebas.

Intinya, hari Selasa libur, itu karena tanggal merah. Bagi siapa saja anak asrama yang sudah tiba di rumah, semoga waktu kalian bisa digunakan dengan baik. Bagi yang masih menahan rindu? Semoga kuatlah 🙂 Bukan hari ini, tapi bisa saja lusa, bulan depan, tahun depan, nanti, memeluk rumah adalah keniscayaan.

Semangat! Bukan karena nanti ada tanggal merah, melainkan karena besok hari Senin. Hari yang harus disambut karena banyak harapan dan rencana yang bisa diperbarui.

“Tuanku Imam benar. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit.” (Tere Liye: Pulang)

 

Pulang

 

Salah Fokus

PPKU semester kedua. Selamat tinggal Kimia dan sampai jumpa lagi Biologi. Sekarang, maksudnya di semester ini, saya harus menyapa Fisika dan bertatap muka dengan Matematika. Gak takut, buat apa, toh sudah pernah kenal sebelumnya. Cuma canggung karena beberapa ‘jalan pintas’ sudah saya lupakan, hehe. Rumus-rumus itu… sudah menguap.

Semester ini isinya juga Sosiologi Umum yang disebutnya Sosum, juga Ekonomi Umum yang dibilang Ekum. Datanglah mari, masih ada segudang singkatan yang geleng-geleng kepala dengarnya. Karena unik.

Jadi kemarin siang Sosum menyapa. Saya mengantuk, tapi mau serius. Bahasannya tentang interaksi sosial. Syarat & bentuknya. Sampai di pembahasan tentang toleration.

Toleration. Apa artinya? Perdamaian tanpa persetujuan.

Jadi ingat. Dulu kalo musuhan sama adek mulut ini selalu yang paling aktif. Iya, yang paling cepat bereaksi. Doi gak mau kalah. Bukan bersuara lebih kencang, tapi lebih sengit kata-katanya. Ibarat mobil tercepat di dunia yang ramping, enteng, tapi menusuk hahaha. Begitulah. Karena sama-sama perempuan mungkin.

Mirisnya, bukannya menjadi kakak yang baik, saya malah berjanji dalam hati. Sampe besok gak mau ngomong sama dia, titik. Tau apa yang terjadi? Saya selalu tidak bisa menepatinya. Janji yang konyol karena kita serumah, sekamar, sekasur, dan lahir dari rahim yang sama. Mana bisa?

“Aku melawan kakakku; kakakku dan aku melawan sepupuku; sepupu-sepupuku, saudara-saudaraku melawan orang asing. Pepatah ini adalah simbol kesetiaan. Artinya, keluarga adalah segalanya. Mereka boleh jadi bertengkar dengan saudara sendiri, tidak sependapat dengan sepupu sendiri. Tapi ketika datang orang asing, musuh, mereka akan bersatu padu, melupakan semua perbedaan. Kesetiaan adalah segalanya.” (Tere Liye: Pulang)

Yang ada mah saya tiba-tiba sudah bicara hal lain, cerita macam-macam. Atau dia yang duluan tanya-tanya tentang apapun. Bisa juga tiba-tiba ketawa, entah saya yang duluan atau dia. Bisa gara-gara mesin cuci, lucu-lucuan sama Mamak di dapur, atau acara apa saja di tv.

Mungkin karena sudah dua minggu gak pulang, dua minggu itu juga gak pernah ngobrol sama adek, hahaha. Berdekatan tapi musuhan, berjauhan eh dipikirkan 😀 .

Ini awal Maret. Dia beberapa bulan ke depan sibuk persiapkan ujian akhir di mts. Ucapan dari Bogor semoga bisa semangati bulan-bulan ribetnya.

Jangan salahkan
jarak yang menjauhkan
pun genggaman dan curhatan
yang gagal menenangkan

cukup pastikan
doa selalu kaupanjatkan

Yang Pergi

Ini larut malam dan sedikit lagi tengah malam. Bogor, seperti biasa dalam dua minggu terakhir, malamnya dingin. Kondisi yang bagus untuk tidur, terutama bagi anak asrama yang baru saja selesai menonton pembukaan acara yang besar.

Bukan saya.

Beberapa jam lalu waktu acara pembukaan terdengar sampai asrama, saya di tempat yang sama sejak pulang dari kelas terakhir: kamar. Cuma keluar untuk cuci baju dan mandi. Masuk lagi. Bikin apa? Makan. Pie susu dari Bali.

Jadi ingat. Kemarin waktu libur panjang di rumah, pagi-pagi ada orang depan rumah, tetangga baru maksudnya, bawakan sekotak pie susu. Sebagai bentuk ramah tamah. Untuk berkenalan. Masuklah pie susu itu ke dalam lemari makan.

Hai pie susu, sudah lama saya mau makan kamu.

Berhubung liburan sudah hampir habis, saya ada ide untuk minta jatah pie susu untuk stok di asrama. Wah, stok? Padahal cuma ada sepuluh biji pie susu di sana. Tapi namanya sangat-ingin-sekali, ya akhirnya saya yakin, mau bawa pie susu.

Ternyata ada adek. Sepupu juga suka. Makanlah mereka. Dan dipikir lagi, ternyata tidak enak sembunyikan, timbun, bahkan selundupkan makanan kita dari orang lain. Apa yang saya bawa kembali ke asrama?

Tempe saja deh Ma.

Iya, tempe akhirnya. Pie susu selamat tinggal. Lain kali pastilah saya bisa makan kamu, entah di mana itu, hahaha. Lagian juga kamu cuma pie susu kok.

Satu bulan, saya lupa pernah mau sekali makan pie susu banyak-banyak. Saya lupa pernah merelakan pie susu yang ada di ‘hadapan mulut’. Teman selorong tiba-tiba bilang dia dapat kiriman pie susu dari bude di Bali. Sesudah habis yang ditawarkan tadi, saya datang lagi, tanya, kapan harus dihabiskan mengingat tanggal kadaluarsa kue itu. Ngobrol sebentar di lorong, karena mau cepat dihabiskan, beberapa pie susu dibawa lagi, jadi camilan.

Ternyata yang pergi bisa kembali. Bisa lebih banyak, mungkin karena panggil rakyatnya.

Ujung Liburan

Kemarin pilkada serentak di beberapa daerah. Beberapa hari lalu sebelum pulang ke asrama, running text bilang  libur nasional. Kabar baik, karena dulu pas lihat kalendar gak ada warna merahnya. Kabar baik juga karena jadi tambahan libur untuk yang masih rindu rumah 😀

Pulang? Tidaklah~ Toh gak rindu-rindu amat, hehe (Mak bercanda kok). Baru habis ketemu sama Gefant. Bagaimana liburan? Baik. Banyak belajar. Tapi bukan belajar seperti yang kita pikirkan.

Di ujung liburan, beberapa hari sebelum kembali ke asrama, saya pergi ke tempat bimbel yang dulu. Untuk bimbel lagi, SBMPTN, tapi bukan sayanya.

Sampai di sana, saya tanya harga bimbel. Di tempat yang sama, bentuk yang sama, bahkan bau khas yang tetap sama, cuma beda waktunya. Tau harganya? Naik lebih dari tiga kali lipat. Saya sih maklum, ya, karena ini bukan angkatan pertama yang banyak dan besar promonya, seperti dulu waktu saya di situ. Berpikirlah dia, orang yang sengaja minta diantar ke bimbel itu.

Sebelum pulang, saya tanya dia. Mau di mana?

Kedokteran UNPAD.

Tujuan lama dia. Mimpinya masih sama. Aduh terharuuu.

Bukan satu orang yang membuat akhir liburan saya penuh haru (cie). Semangat mereka sama seperti dulu. Ada yang sekarang lagi kerja sambil latihan soal, ada yang lagi belajar bahasa di Kampung Inggris, ada yang lagi sekolah di Bandung tapi kejar jurusan yang sama di Jakarta.

Apa yang bisa dilakukan? Pinjamkan soal. Maunya temani belajar, terutama orang terakhir itu, yang sekolah di keperawatan Bandung. Mau bantu kerjakan soal, mau temani belajar pola di tes tpa. Tapi masa iya, Bogor-Bandung?

Kirim semangat? Itu yang keren (menurutku sendiri sih). Karena kita berjarak, Kawan. Jadi untuk kalian, teman-teman yang sudah ‘mengajariku’ hal berharga di ujung liburan, semoga semangat terus ada pada kalian.



Kata-Kata

Kaubilang ingin berjuang
agar merdeka memeluk impian
pergilah, abaikan jarak yang terbentang
juga tentang genggaman

Aku baru saja menukarnya
dengan baris-baris kata

Depok, 8-2-2017

Lebih Cerdas dari Telepon Pintar

Suatu hari saya terkejut menyaksikan siaran berita. Dengan judul-judul yang besar, diberitakan banyak peristiwa kemanusiaan. Mulai dari kemiskinan, kekerasan, hingga pencemaran lingkungan. Saya terdiam menyadari begitu dekatnya peristiwa kemanusiaan dengan kehidupan sehari-hari. Begitu dekatnya, seringkali berita-berita itu seperti berlalu begitu saja. Apakah persoalan ini menjadi hambar bagi kita?

Peristiwa kemanusiaan adalah peristiwa berbahaya. Jika dibiarkan bisa menjadi bola salju yang mengancam keberadaan manusia itu sendiri. Pencemaran lingkungan adalah salah satu contohnya. Lingkungan yang merupakan tempat bermukim umat manusia, bagaimana bisa dicemari? Tragis, pelakunya adalah mereka yang mengaku sebagai pemelihara dan pemiliknya: manusia.

Ironi yaitu ketika manusia tidak lagi peduli pada lingkungan tempatnya berada. Saat di mana manusia hanya peduli masalah perut. Begitu haus dan lapar terbayar, manusia tidak peduli lagi dengan sampah, apakah dibuang di tempat yang pantas atau tidak. Saat makan dan minum selesai, manusia abai pada sampah, apakah dibuang dengan baik atau tidak. Sampah adalah sampah, bukan barang yang berharga.

Sampah yang dibuang sembarangan memang tidak terlihat langsung dampak buruknya. Misalnya kemasan minuman yang dibuang di pinggir jalan. Seminggu atau sebulan kemudian baru muncul akibatnya. Bau tidak sedap dirasakan oleh pengguna jalan. Sayangnya, kadang-kadang orang yang terkena dampaknya bukan mereka yang membuang sampah di situ tempo hari. Lain yang membuang, lain pula yang merasakan.

Lebih parah dari persoalan membuang sampah di jalan, ada peristiwa banjir yang seringkali diakibatkan menumpuknya sampah di selokan. Di dalam artikel yang diterbitkan setahun lalu oleh Tempo (15/2), sampah masih menjadi penyebab nomor satu banjir di ibukota. Hal ini menyedihkan karena akar persoalannya adalah minimnya kesadaran masyarakat. Hasilnya adalah demo menuntut pemerintah menyelesaikan masalah banjir dengan segera.

“… kadang-kadang orang yang terkena dampaknya bukan mereka yang membuang sampah di situ tempo hari.”

Terdapat contoh lain jika kita mengingat kembali perayaan malam pergantian tahun. Di mana pusat konsentrasi massa berada, di situlah sampah menumpuk. Pengunjung tempat hiburan tidak lagi peduli dengan sampah sisa makanan. Memang hal lumrah bahwa di mana makanan di situ pasti ada sampah. Namun sikap dalam memperlakukan sampah, itulah perbedaan antara masyarakat yang peduli lingkungan dengan yang lalai.

Masalah sampah adalah persoalan kemanusiaan yang mendesak untuk diselesaikan. Sebab orang yang membuang sampah sembarangan tidak sadar sedang menumpuk bahaya bagi orang lain. Mereka tidak sadar bahwa merekalah penjahatnya. Contohnya peristiwa banjir akibat meluapnya sungai atau selokan. Orang-orang yang bermukim di sana menderita karena terendam rumahnya, terserang penyakit, dan lumpuh aktivitasnya.

Di antara berita pencemaran lingkungan, tentu di antara kita ada yang pernah membaca atau mendengar kabar tentang bersihnya Negara Sakura. Meskipun tempat-tempat sampah sedikit jumlahnya, jalanan di Jepang tetap bersih. Negara tersebut bahkan dinobatkan menjadi negara maju yang paling bersih. Kesadaran masyarakat menjaga kebersihan menjadi kunci utama bagi negara mereka.

Saat berada di angkutan umum dan tidak menemukan tempat sampah, warga Jepang memiliki kebiasaan menyimpan sampah pembungkus makanan di saku atau memasukkannya ke dalam tas. Ini adalah perbuatan sukarela demi menjaga kebersihan lingkungan.

Melirik gaya hidup negara lain bukan berarti sedang mengejek perilaku orang-orang di negara sendiri. Tetapi dengan melakukan ‘studi banding’, terdapat pelajaran tentang sikap yang baik dalam menjaga lingkungan. Negara lain telah memetik hasil perjuangannya membenahi gaya hidup dan perilaku masyarakatnya sehingga sampah tidak lagi mampu menghadirkan pasangan sejatinya: banjir.

Mental dan karakter orang-orang di negeri ini perlu dibenahi, apalagi terkait masalah kebersihan lingkungan. Masalah sampah adalah masalah yang krusial. Tidak pantas kita berseru tentang menghargai hak sesama manusia jika belum bisa menghargai pentingnya membuang sampah di tempat yang benar. Karena masalah sampah bisa berujung pada masalah eksistensi umat manusia.

Satu langkah pasti lebih berarti daripada sepuluh rencana. Meski hanya dengan mencontohkan perbuatan kecil seperti menyimpan sampah makanan sampai menemukan tempat sampah, itu bisa membentuk kebiasaan yang baik bagi anak kecil di sekitar kita. Mengajak orang terdekat untuk tidak lagi melempar sampah ke luar jendela mobil saat dalam perjalanan atau menyelipkannya di kursi penumpang.

Berbicara tentang sampah, tidaklah pantas jika nanti generasi di masa depan harus ‘bertanya’ pada aplikasi tentang bagaimana cara membuang sampah dengan benar. Jangan sampai hanya teknologi yang berkembang, tidak diiringi dengan meningkatnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan. Juga jangan sampai manusia kalah pintar dengan smartphone soal kecerdasan menjaga kebersihan.

Kunci keberhasilan langkah menangani masalah sampah adalah sukarela. Orang-orang yang selama ini membuang sampah sembarangan harus merasa sukarela untuk menghargai hak hidup orang lain untuk bebas dari banjir. Lalu mereka yang selama ini sering melakukan demo menuntut pemerintah bertindak cepat haruslah sadar sudah seberapa banyak kontribusinya membantu pemerintah bekerja.

Mungkin sudah tiba saatnya kita merevisi slogan kebersihan yang berbunyi ‘buanglah sampah pada tempatnya’. Hal ini karena kata ganti –nya bisa diterjemahkan menjadi beragam arti. Bagi mereka yang membuang sampah di selokan misalnya, mengartikan bahwa saluran air tersebut cocok dijadikan tempat membuang sampah. Begitu pula mereka yang membuang sampah di sungai, di dalam angkutan, dan sebagainya.

“Jangan sampai hanya teknologi yang berkembang, tidak diiringi dengan meningkatnya kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan.”

Revisi slogan kebersihan walaupun bukan hal wajib tapi tetap penting bagi kita. Dengan diperbaruinya slogan kebersihan menjadi ‘buanglah sampah pada tempat yang tepat’, masyarakat luas maupun para pelaku yang selama ini tidak tertangkap seharusnya berpikir, di manakah tempat yang tepat?

 

 

sampah

Betul?

 

sampah2

Sangat beda ya!

 

 

 

 

banjir

Kegiatan belajar-mengajar antara ibu dan anak di pinggir sungai 😦

 


#LombaEsaiKemanusiaan 10-09-16
Qureta.com

Karena Si Merah

Kemarin tepatnya siang, saya masih menikmati libur. Seperti kebanyakan gadis desa lainnya, saya bantu-bantu Mamak di dapur 😀 . Yaa kapan lagi anak asrama bisa cerita-cerita sambil masak, ya kan? Jadi yaa begitulah tiap siangnya kalo libur. Mengumpulkan memori di dapur, hahaha. Jadi nanti ditanya, apa yang paling kamu rindukan? Jiah, ini sih jawabnya beda dari yang lain: Cerita sama Mamak di dapur.

Oke, kembali.

Jadi Mamak punya pohon cabe yang sudah besaaaar. Saking besarnya sekarang pohon itu sudah tunduk-tunduk sama semua orang. Buahnya yang tadinya dirasa gak sanggup dimakan sendiri, sekarang malah ditunggu dengan cemas, udah merah belum yaaaa? Belakangan, tepatnya bertepatan dengan kepulanganku ke desa ini, tiba-tiba ada kabar harga cabe naik. Mak, makasih ya Mak sudah melakukan langkah yang tepat demi keluarga kita: menanam cabe. Nah tadinya saya mikir begitu.

Hari itu akhirnya Mamak beli cabe. Dan menyambung cerita yang paling awal, hampir setiap hari Mamak butuh sambal. Jadi sayalah yang beraksi. Cabe, bawang, tomat, jeruk limo. Nah…

“Mak sini saya yang bikin.” Biasalah, kalo di rumah bahasanya dominan baku hahaha. Malah jadi aneh kalo bilang aku.

Mengalirlah ceritaaa. Biasa, ibu-ibu. Mulai dari cerita tentang bayi wangi telon yang tadi pagi jumpa di warung, tentang pohon nangka tetangga yang selalu dibagi-bagi buahnya 🙂 , sampai cerita tentang masa lalu Mamak ketemu teman hidupnya–yang selalu inisiatifnya Mamak sendiri. Nah, namanya cerita, yaa cerita… Pasti ada bengongnya. Tapi ini lagi bikin sambel, oi!

Tuing!

“Mak panas Maaaaaak. Huaaaaaah!” Tebak, apa yang terjadi?

Dia loncat. Tidak, salah deh. Terbang lebih tepatnya. Ke mata. Oke ini masalah besar. Apa mata ini akan buta? Oh tidak! Toloooong, mata yang kiri susah dibukaaaa.

Betulan. Cabe yang terbang masuk ke mata itu gawat! Sempoyongan, rasa takut, sedih karena reaksi Mamak biasa saja, dan kesal karena mata ini susah dibuka, dan mau ketawa karena ini lebay!!!

“Cuci, jangan digosok. Jangan digosok.” Aduh, lalalalalala. Bagaimanalah ini. Serileks itukah, Mak?

Andai ada yang menghitung, pasti bilasan itu lebih dari jumlah wajib membilas sesuatu yang terkena najis. Kenapa? Karena ada ketakutan tidak bisa melihat lagi–meskipun reaksi Mamak tidak mendukung hal itu.

“Pasti merah. Memang begitu.” Aduh Mak, mana reaksi yang lebih pro pada anak?

“Saya juga dulu pernah.”

“Oh, iya, Mak?”

Berarti Mamak bereaksi berdasarkan pengalaman. Dan itu membuatku sakit hati, huhuhu. Masa anaknya takut buta sementara orangtuanya rileks saja? Walah!

Tapi yang membuat saya bingung… Bukan, maksudnya lebih seperti takjub. Sesudah bercermin dan mendapati mata kiri berwarna merah dan berair, rasa pedih tidak lagi hebat. Tidak sama seperti habis makan olahan mercon yang memberangus lidah. Wuih. Lepas bercermin dan melanjutkan menghaluskan tomat, saya mendapati dan baru menyadari bahwa ada organ yang tidak kekar tapi betulan kuat.

Sejam setelah itu, saya bahkan sesaat lupa telah mengalami kejadian yang… seperti itu. Itu karena rasa perihnya sudah hilang. Bayangkan kalo yang kena itu bibir atau pipi. Hilangnya lamaaa. Bahkan pernah saya kena di tangan. Eh maksudnya sengaja kena, hehe. Cabe dipotek sebelum ditumbuk. Jadinya sampai sore–seingat saya–tangan masih panaaas.

Karena si Merah, hari ini saya mempercayai sesuatu bukan berdasarkan kata orang. Mata sungguhan punya kekuatan penyembuh. Dicuci, terus bekasnya merah karena iritasi, tapi cepat hilang pedihnya. Satu jam berlalu… dan bekas merah bahkan tidak terlihat lagi.

Yo, siapa yang belum percaya? Silakan coba adegan di atas. Persiapkan dirimu.

N.B
Karena saran di atas konyol dan aneh, lebih baik kamu pindah ke sini. Kalo belum cukup, bisa cari sendiri. Tapi tolong jangan cari pengalamannya, tapi cari bacaannya 😀