Lembar-Lembar Harapan

Ping!
[Dito udah masuk ruangan.]

Tangannya yang menyemat peniti terhenti. Ini pukul 7.30 sesuai surat panggilan itu. Ia memeriksa layar. Terbaca berderet ucapan dukungan. Dua menit, layar menghitam. Pemiliknya terdiam.

Ia meraih tas. Didekapnya sebundel kertas. Pagar berderit dan sinar menyentuh wajah sayunya. Tangannya dimasukkan ke saku celana.

Lembar-lembar itu siap.

Di kiri jalan sepasang suami-istri duduk bersila dengan tangan terbuka. Lembar pertama selesai.

Satu meter berjalan, seorang buta duduk memegang wadah plastik. Lembar kedua selesai. Di sudut emperan, seseorang meringis. Ia memegangi perut. “Kak, belum makan Kak…” Lembar ketiga selesai.

Tubuh kecil meringkuk di atas koran. Kaleng penyok dipeluknya. Lembar keempat selesai.

Pedagang tisu tua melantunkan shalawat. Lembar terakhir miliknya selesai.

_______

 

Ia membuka pintu. Di tempat yang sama, ia duduk.

Sejenak ia menoleh ke kursi yang akan kosong hari ini, mungkin besok, dan entah sampai kapan.

“Mar, bagian gua udah selesai kan?”

“Iya, To, iya.”

“Oke, sekarang tugas lain menunggu. Dah.”

[Dengan gerakannya berhimpun, dia menggerakkan tangan.
Melalui lembar-lembar harapan, aku juga menggerakkan tangan.
Karena terlampau lelah berharap pada yang seharusnya bergerak.]

[Tapi haknya sudah direnggut. Tidak bisa bersuara.
Tinggallah mereka yang berharap lembar itu terus datang.
Tinggallah mereka yang nasibnya tidak kunjung berganti.]

“Mar. Dosen.” Fia berbisik.

Ia menutup catatannya.

Iklan

Tentang Kepo

Siang tadi saya janjian dengan teman. Ceritanya itu saya meminjam bukunya beberapa hari lalu. Maka hari ini, dihantui oleh bayang-bayang kuis besok hari, saya memutuskan mengembalikan buku itu. Empunya pasti harus belajar malam ini. Janjian, janjian, dan akhirnya saya menyuruhnya diam saja di kosan. Saya yang akan datang mengembalikan karena sayalah pelakunya. Nanti malam saja, begitu kata saya. Karena setelah maghrib saya tidak akan bisa. Dia setuju.

Tapi pada akhirnya dia bertanya juga, memangnya ada acara apa? Kepo nih.

Kepo amat deeeh.
Pengen tau aja atau pengen tau banget?
Betulin urusan sendiri dulu, baru ngurus orang lain.

Banyak yang bisa dijawab dari kata-kata kepo. Banyak tanggapan yang bisa dikatakan supaya orang lain tidak lagi kepo. Banyak. Banyak.

Tapi apa itu ada gunanya? Apakah kepo selamanya karena ingin mengurus kepentingan orang lain?

Saya jadi ingat kalimat-kalimatnya Bu Sri. Ini betulan tentang kepo. Entahlah, waktu itu beliau mengalami langsung sebuah peristiwa atau memang sedang menyoroti fenomena risih saat dikepoin.

Kepo itu, kata beliau, sebetulnya cara untuk peduli pada orang lain. Kepo menjadi tanda bahwa yang bertanya ingin tahu tentang orang yang ditanya. Dengan kata lain, kepo adalah bukti perhatian. Jadi jangan malu menjadi orang yang kepo dengan keadaan orang lain. Pun sama nasehatnya, jangan cepat risih atau merasa enggan menjelaskan saat orang lain kepo tentang kita.

Oya, teringat juga saya tentang kutipan dari novel Tere Liye. Ini tentang seseorang yang sering dimarahi. Dalam kutipan itu, orang yang dimarahi akan mencari saat momen-momen galak orang itu sudah hilang. Orang yang tadinya jengkel saat dimarahi bisa-bisa berbalik mencari marah yang dulu dibencinya. Itu karena dia merasa terbiasa.

Hati-hati menilai buruk pada orang yang kepo. Bisa jadi besok, lusa, minggu depan, berganti tahun, kita malah merindukan dikepoin karena mereka yang dulu kepo diusir jauh-jauh.

Kepo (knowing every particular object) adalah bentuk perhatian. Tentunya dengan kadar yang sesuai, ya 🙂

Tentang Rumah

Kemarin saya datang tepat waktu di kelas Botani Umum. Sungguhan tepat karena Bu Dosen kami sudah ada di depan, duduk menghadap laptop yang siap disambungkan ke proyektor. Satu orang sedang tampil di depan memimpin doa. Tapi sebelum berdoa, ada pengantar yang dikatakan.

Ini masalah rantau. Masalah orangtua. Masalah bakti. Masalah kuliah.

Apa saya selalu menyapa orangtua sebelum kuliah? Apa saya sering bercerita tentang pengalaman seharian? Apa saya selalu inisiatif menelepon sebelum tidur?

Dua puluh empat jam hidup ini sekarang jauh dari rumah. Jika bisa disebut rantau, pertanyaannnya adalah apakah rantau telah menjadikan saya asing bagi Mamak dan Bapak? Mendoakan-yang visa jadi kegiatan paling mudah-pun jarang dilakukan. Sibuk. Entah untuk apa.

Jadi ingat rumah. Jadi ingat teh dan biskuit di atas meja lipat. Jadi ingat dapur yang ada suara Mamak goreng lele.

Lima menit sebelum Botani Umum kemarin memang sendu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Namanya Afif. Sebenarnya tidal penting

Epilog untuk Awal Musim

Nama saya Ummu, sulung dari dua bersaudara. Setahun lalu waktu baru tiba di Bogor saya bingung dengan nama Agronomi dan Hortikultura atau yang disingkat AGH. Setahun lalu juga saya terheran-heran dengan jargon Feed the World miliknya. Tapi dari berita yang beredar (tentunya bukan hoax), semua itu akan jelas pada waktunya. Akhirnya di sinilah saya. Masa pengenalan departemen yang disingkat MPD—mengingat IPB penuh dengan singkatan—memang bisa disebut ospek. Bedanya ada pada jadwal kegiatan. Ini bentuknya rangkaian yang jika dilihat sekilas di timeline ada satu kata yang melintas cepat: melelahkan.

Sebetulnya ini akan cenderung bersifat curhatan alih-alih cerita pendek. Sebab banyak bagian dari kegiatan ini yang sayang untuk dirasakan sendiri, sayang dibiarkan terlupa. Harus dibagi, diceritakan. Misalnya saja, maaf ya kakak-kakak, ini tentang komdis. Ya, kepanjangannya adalah komisi disiplin. Jika dalam setiap cerita harus ada konflik yang penting fungsinya, begitu juga golongan orang di sini. Komdis membuat hidup kegiatan. Ini pandangan sepihak, sih, jadi siapa saja yang tidak setuju silakan saja.

Cerita lain juga tentang para caretaker. Apa sebutannya di acara ini? Penanggung jawab kelompok dan disingkat menjadi PJK. Kakak asuh, kakak pendamping, dan sederet nama lainnya. Ini posisi yang paling adem dalam kegiatan. Itu karena perannya yang seperti protagonis. Tapi baik tidak sembarang baik karena di posisi ini orang-orangnya akan sibuk. Namanya juga pengasuh, pembimbing, pastilah bertanggung jawab atas gerak-gerik peserta yang dipantau oleh seluruh panitia, khususnya komdis.

Bagian lain dari cerita ini tentunya tentang posisi medis. Medis? Kalau sakit dalam barisan, sebelum acara, kapan saja merasa tidak sehat, hubungi medis. Obat ada di sana termasuk tempat istirahat dari lelahnya berdiri mendengar evaluasi dari komdis yang panjang kali lebar durasinya. Pusing, keseleo, sakit perut, apa saja keluhannya memang dibawa ke medis. Tapi yang tidak bisa disembuhkan adalah penyakit tidak peduli pada sesama. Kalau itu, sih, harus kita sendiri yang membereskan.

Cerita ini juga tentang Reynoso, kelompok kecil seperti keluarga dalam rangkaian Pembinaan Himagron yang seperti sebuah negara dengan peraturan-peraturan yang mengikat siapa saja yang terlibat di dalamnya. Demi lancarnya kehidupan kami berempat belas, dipilih satu ketua. Supaya semangat melangkah, dibuat jargon dan yel-yel. Agar acara yang hampir semuanya dimulai pagi bisa diikuti dengan baik, sarapan seragam selalu kolektif dibeli. Sampai hari ini semuanya bisa dilakukan sesuai peraturan negara karena setiap orang dalam keluarga ini kerja sama.

Sayangnya, sebentar lagi rangkaian acara harus diakhiri bersama satu kegiatan puncak yang dinanti: Lintas Desa. Berat, berat, menantang. Itu kesan yang saya tangkap dari penjelasan sana-sini. Tapi bukan berarti saya takut. Satu dari kakak PJK bahkan bilang bahwa apapun yang terjadi, hidup harus berjalan. Wah, apa saya terlihat begitu takut?

Tidak, tidak ada rasa takut menghadapi Lintas Desa. Ini hanya menegangkan. Karena setelah itu tidak ada lagi rangkaian kegiatan Pembinaan Himagron yang harus diikuti. Itu berarti kami selesai dibina. Dengan kata lain, musim baru akan tiba. Maka untuk menunggu Sabtu saat Lintas Desa dilaksanakan, baiknya sih ada cerita yang ditulis tentang acara dan momen yang sudah tertinggal jauh di belakang.

Field Day 2017

Tanam-tanam ubi…

Itu sepenggal kecil lagu dari kartun milik tetangga sebelah. Tanam ubi, itulah yang dilakukan seratus lebih orang di Kebun Leuwikopo, Dramaga, Bogor. Orang sebanyak itu dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya delapan belas. Sejatinya ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Pembinaan Himagron. Tapi kenyataannya kegiatan ini juga diikuti oleh orang dari luar AGH. Yang terdekat yaitu dari PTN (Proteksi Tanaman)—jurusan yang juga ada di fakultas hijau kami—dan  yang paling jauh datang dari UNB (Universitas Nusa Bangsa) dengan tim yang anggotanya berbeda-beda jurusan. Selagi lelahnya masih tersisa dan suasananya masih terasa, kegiatan ini harus cepat-cepat diabadikan di sini.

Jebret
Jebret
Jebret
Dua juta

Jargon ini bukan dibuat oleh panitia acara melainkan oleh pesertanya. Silakan bayangkan sendiri gayanya karena mudah dicocokkan dengan gerakan apapun.

 

Awalnya menurut tebak-tebakan, saya berpikir ini sama seperti beberapa rangkaian acara Pembinaan Himagron lain, registrasi akan dibuka jam enam tepat. Ternyata lebih cepat setengah jam. Okelah, toh kos saya dekaaat dengan pintu kampus, dekat juga dengan titik kumpul pagi itu. Sayangnya, hari itu banyak yang terlambat. Kabar baiknya adalah mereka tidak dimakan komdis.

Selesai registrasi, seperti biasa pemeriksaan perlengkapan dilakukan. Tidak ribet, kok. Payung, makanan ringan, air minum, dan sebagainya. Itu sudah biasa. Sama biasanya dengan ada yang tidak membawa pin nama lagi. Tunggu, lagi? Iya, alasannya ketinggalan karena buru-buru. Fortunately, komdis tidak selera merebus mereka. Cuma sedikiiit omelan dicampur bawang goreng.

Komdis adalah singkatan dari komisi disiplin. Setiap anak baru  tingkat manapun yang pernah mencicipi ospek pasti mengenal mereka. Itulah segolongan orang yang kedatangannya dibuka dengan keheningan dan kepergiannya ditutup dengan embusan napas lega. Mereka tidak bungkuk saat berjalan dan tidak menunduk saat bicara. Satu-satunya yang bisa memaksa kapan harus makan dan kapan harus minum. Bahkan mereka bisa mengatur kapan harus tertawa. Sekilas, penokohan yang melekat pada mereka adalah antagonis. Meski begitu, karena langka dilihat, senyum komdis sering dicari.

 

Mobilisasi dilakukan kemudian. Tujuannya adalah Kebun Leuwikopo. Pemandunya adalah panitia yang sudah ahli melakukan perjalanan ini. Buktinya, waktu tempuh yang biasanya setengah jam bisa dihemat menjadi kurang dari lima belas menit. Mungkin itu untuk memicu rasa lapar.

 

Pembukaan FD Phoenix

Nah, ini dia pembukaan Field Day. Yang kiri adalah ketua pelaksana acara ini sedangkan yang kanan adalah ketua pelaksana rangkaian kegiatan kami. Bingung? Silakan cari pegangan.

 

 

 

Pembukaan FD Phoenix - cara menanam.jpg

Sebelum praktek ada teori. Kedua kakak ini sedang menjelaskan tata cara menanam ubi dari awal sampai akhir.

 

 

Reynoso dalam Field Day ini lengkap formasinya. Tentunya sudah bertambah setelah mendapat teman baru dari jurusan tetangga. Ini adalah acara kedua sejak jumlah kami menjadi empat belas orang. Awalnya pembagian tugasnya agak jelas. Akhirnya setelah melihat lahan, garpu, cangkul, dan bibit, semua ingin merasa dan mencoba.

Ada lahan 5×5 meter, 2 garpu, 4 cangkul, 1 penyiram tanaman, dan seikat bibit ubi, dan sekarung pupuk kandang. Tidak ada yang diam. Tidak juga ada perbedaan pada perempuan dan laki-laki dalam kuasa memegang cangkul. Awalnya menggali parit, kemudian tanah galian ditinggikan ke kanan-kirinya untuk dibuat bedengan. Lalu dicampur dengan pupuk kandang. Disirami, ditanami, lalu disirami lagi.

“He, hati-hati menyiram, memangnya sini ubi?”

“Iya, ubi, soalnya sama-sama manis.”

“Waaah, makasih, makasih.”

“Tapi bau tanah.”

 

Gombalan ini kok berujung mengerikan, ya?

 

Bertani tidak pernah mudah. Kita tidak bisa asal timbun sambil berharap tanaman cepat beradaptasi dan menghasilkan apa yang kita inginkan. Contohnya waktu menanam bibit-bibit ubi, trik-triknya harus dipahami. Bibit yang ada dicabuti daun-daunnya sehingga tersisa hanya dua atau tiga daun. Mencabutnya pun harus sempurna supaya ruas-ruas yang awalnya tempat tumbuh cabang bisa ditempati para umbi. Jangan juga terlalu panjang menyisakan batang karena bisa berakibat umbi terlalu banyak. Intinya, kita sebagai manusia harus memperhatikan dengan baik hak asasi tanaman.

 

Menurut panduan yang diberikan, waktu panen akan tiba tiga bulan sejak penanaman. Menunggu tidak bisa sekadar duduk menghitung hari di kalendar. Karena ini bentuknya lomba antarkelompok, perawatan sebagai fase menunggu juga masuk dalam kriteria penilaian. Mencabut gulma, menyiram tanaman, dan sederet perhatian penuh pada tanaman ubi harus konsisten diberikan. Meskipun iming-iming hadiah dua juta ada, tujuan utama acara ini adalah belajar menanam ubi.

Hak asasi tanaman yaitu sesuatu yang harus diberikan manusia pada tanaman. Salah satunya adalah memperhatikan bentuknya. Manusia tidak bisa hidup seenaknya, menanam dengan sepuasnya tanpa mengerti kondisi tanaman. Tanaman memiliki energi untuk didistribusikan ke seluruh bagian tubuhnya. Semakin banyak organ maka semakin banyak energi yang harus disebar. Baiknya adalah kita mengatur supaya buah itu tidak terlalu banyak sehingga bisa besar dan subur.

 

Selesai acara, mobilisasi kembali dilakukan menuju tempat registrasi tadi pagi. Ini bisa jadi mobilisasi satu-satunya yang tidak diikuti tatapan dingin komdis. Bisa jadi saat itu para komdis sedang merenung tentang betapa dinginnya tatapan yang diberikan selama ini. Bisa juga sedang memikirkan jenis tatapan apa yang akan lebih menertibkan langkah-langkah kami. Atau justru sedang menyamar di antara semak, pohon, dan bak air di kebun tadi dan mengawasi? Entahlah. Ini menguntungkan. Susah juga kalau harus dimarah-marahi lepas kerja berat mencangkul tanah.

Ada-tidaknya komdis, PJK (penanggung jawab kelompok) selalu jadi yang terbaik. Bukan karena rajin menawarkan “refill air, refill air”, tapi karena cuma mereka yang posisinya sebagai kakak asuh. Di Reynoso, ada satu bagian yang setengah menjelma jadi PJK, yaitu medis. Sarapan bersama, ikut mencangkul, menanam, dan berfoto. Di tengah keakraban peserta-medis-PJK dan keseruan menanam ubi, hanya komdis yang tidak bergabung di tengah kami. Aduh, sayangnya.

Daftar Beasiswa di Institut Pertanian Bogor

Awalnya saya bingung mencari informasi beasiswa. Ini tentang setahun lalu waktu menjadi anak baru. Dulu berpikir pasti harus rajin-rajin mencari informasi. Harus update pokoknya.

Akhirnya, saya berpikir harus punya daftar beasiswa lengkap dengan waktu pembukaannya. Dengan itu, persiapan berkas tidak terburu-buru. Setidaknya dengan adanya timeline, persiapan bisa lebih baik. Maka berikut ini nama-nama beasiswanya serta pembukaan pendaftarannya dan perkiraan syarat IPK. Karena ini hanya informasi secara umum, jangan lupa ikuti terus informasi beasiswa yang dituju, ya!

Semoga bermanfaat 🙂

 

JANUARI

Alumni IPB Peduli Pendidikan    |    semester 1-8    | –

Cargill Global Scholars Program    |    semester 4    |    IPK ≥3.00

Lotte Foundation    |    semester 4-7    |    IPK ≥2.80

Tanoto Foundation    |    semester 1-8    |    IPK ≥3.00

 

FEBRUARI

Karya Salemba Empat    |    semester 2-8    |    –

Paragon (prestasi)    |    semester 4 dan 6    |    IPK ≥3.30

Paragon (tugas akhir)    |    semester 8    |    IPK ≥3.00

 

MARET

Bank Indonesia    |    semester 4-6    |    IPK ≥3.50

Genksi Social Fund    |    semester 2-6    |    IPK ≥2.75

Pembangunan Jaya    |    semester 4 dan 6    |    IPK ≥3.30

Dharma Polimetal    |    semester 3-8    |    IPK ≥3.00

Van Deventer-Maas Stichting (VDMS)    |    semester 3-8    |    IPK ≥3.00

 

APRIL

 

MEI

Beasiswa Pemprov Jawa Barat    |    semester 1-7    |    –

 

JUNI

 

JULI

Beasiswa Unggulan Nusantara Cerdas    |    semester 3    |    IPK ≥3.00

Yayasan Korindo    |    semester 3-7    |    IPK ≥3.00

 

AGUSTUS

BCA Finance Peduli    |    semester 2-8    |    IPK ≥3.00

Yayasan Marga Pembangunan Jaya    |    semester 5-7    |    IPK ≥3.30

Beasiswa Baznas    |    semester 5-7    |    IPK ≥3.25

 

SEPTEMBER

Bakti BCA    |    semester 5    |    –

Mitsubishi Corporation International Scholarship    |    semester 3-7    | IPK ≥2.75

PT. Indocement Tunggal Prakarsa    |    semester 3    |    IPK ≥2.80

Peningkatan Prestasi Akademik (PPA)    |    semester 3-8    |    IPK ≥3.00

Women International Club    |    semester 6    |    IPK ≥3.15

Yayasan Toyota Astra    |    semester 5 dan 7    |    IPK ≥3.00

 

OKTOBER

Charoen Pokphand    |    semester 1-7    |    IPK ≥3.00

Beasiswa Pemprov Jawa Barat     |    semester 1-7    |    –

PT. Bank KEB Indonesia    |    semester 7-9    |    IPK ≥3.00

Yayasan Salim    |    semester 1-7    |    IPK ≥2.80

 

NOVEMBER

Beasiswa Inisiatif Zakat Indonesia    |    semester 3 atau 5    |    IPK ≥2.75

 

DESEMBER

Arga Citra    |    semester 1    |    –

Charoen Pokphand    |    semester 1-7    |    IPK ≥3.00

Goodwill International    |    semester 3-5    |    –

 

 

◊ Catatan ◊

Pelamar beasiswa yang masih semester 1 biasanya menggunakan fotokopi nilai laporan belajar SMA untuk mengganti nilai IPK.

 

Beberapa beasiswa di atas tidak tercantum minimum IPK. Itu bisa karena nilai IPK tidak menjadi syarat atau pihak pemberi beasiswa tidak memberi informasi tentang itu.

 

Sumber:
http://beasiswaipb.blogspot.co.id/
http://www.indbeasiswa.com/2015/11/beasiswa-kuliah-s1-cargill-global-scholars.html

Jaka Tarub & Dewi Nawang Wulan (Part I)

Have you ever watched a drama? It must be a quite enjoyful experience because we can see the actor directly. May be it’s just my reason, you can find another one. Over all, a drama is lovable art.

Besides watching drama, i like to have a role in drama. I like being another person, hehe. But one day when i was in senior high school, instead of took a role, i said that i will create a script for my team. The problem was the language. Because it was for our English lesson, we have to had it in that. What did i do? Of course i looked for it in a lot of blogs. The second problem was the number of people in my team! How could it match perfectly with the script in those blogs? Finally, i found the way: modify.

I got the script from here. I read it. Then i thought, what kind of problem that i can set to the story? I also thought about adding some role so that everyone in my team can play.

This is it.

♦♦♦

Jaka Tarub & Dewi Nawang Wulan
A Visit to The Earth

 

Once upon a time, there was a young man named Jaka Tarub. Jaka Tarub was a very handsome man. He lived in the middle of the forest with his mother, Randa Dhadapan. There was also a lake named Toyawening Lake.

Meanwhile, far upon the earth, there was the sky emperor, where the fairies lived. That place led by a king. That king had seven beautiful daughters. They usually down to the earth to take a bath.                                     

 

♦ Scene 1 ♦

Ningrum: “Very hot here, my sisters!”

Sekar: “Then let us go to the lake! Swimming!”

Putri: “Hm. I want to sing there.”

Arum: “Yeah! Talk to mother please, Asri!”

Asri: “Okay. Everybody follow me!”

(They give their greeting to The King and The Queen)

Asri: “We are going to ask your permission to go to the lake, Mom. It’s very hot here.”

The Queen: “Do you bring everything you need?”

The Seven Angels: “Yes, Mom!”

The Queen: “Are you sure? Why didn’t I see your powder? Comb? Hair dryer?”

Lintang: “Oh Mom, can’t you remember we are a fairy? We have this magic from you, Mom.”

The Queen: “Oh I see. Sorry for that. You have a duty to look after Nawang Wulan because this is the first time for she to go to the lake. Okay gals, you can go!”

(The seven angels cheer, then say bye!)

 

♦ Scene 2 ♦

(They arrive at the lake)

Asri: “Okay, everyone follows the rules! No fishing, no crying here, no eat. Go put your shawl on that rock, and enjoy!”

Wulan: “Wow I will enjoy this!”

(They talk and laugh each other, play joyfully)

 

In the same time around the lake, there was Jaka Tarub. He was tired of chasing the prey. When almost at the lake, Jaka Tarub stopped his footsteps. He heard the sound of the girls who were laughing.

Jaka: “Maybe it was just my imagination.” (He moves toward the lake slowly) “Hei, but the sound very clear to me.”
(Jaka is surprised)
“Oh my God, am I dreaming? I found seven beautiful girl here! Oh I hope one of them will be mine. Hmm… wait! What is that?” (He steals a yellow shawl) “After this, one of them couldn’t go to Kayangan, then she will be my wife! Yeah!”

(A few moments later)

Asri: “My sisters, I think we must go home now!”

Sekar: “But it’s too fast!”

Arum: “Yeah! I love to play here! I feel at home.”Ningrum : “Yeah! Me too!”

Asri: “Mother said that we must stay home before twilight, and she would be very worried about Wulan.”

Lintang: “Yeah, she loves her more than she love us!”

Putri: “If it were true, i would want to be like her.”

(Then, they are get ready)

Wulan: “Sister, wait me a minute, please!”

Sekar: “What are we waiting for?”

Wulan: “My shawl! I placed it here before we take a bath.” (Looking for something)

Lintang: “Huh, you waste our time. Come on every one, let’s go home!”

Wulan: “Wait, i lost my shawl.”

Asri: “Don’t lie!”

Wulan: “I’m sure it placed somewhere. I’m not lying.”

Putri: “Asri, we’re going to help her to find it, aren’t we?”

Wulan: “I put it here, besides Ningrum shawl.”

Ningrum: “Don’t give me that look! I didn’t see yours.”

Arum: “Then how can she come back? We must help her, Putri.”

 

When everyone was busy to look for the shawl, one of the fairy realised that the sky getting dark.

 

[to be continued]
Jaka Tarub and Dewi Nawang Wulan: A New Home

 


And the source is…
https://englishmotivator.wordpress.com/2011/02/12/text-of-english-drama/